Statusnya kini sebagai anggota PGA TOUR dan Asian Tour. Ia juga mewakili negaranya, Thailand, bermain dalam panggung akbar. Meskipun golf adalah olahraga individu, bisa dibayangkan juga bahwa beban yang ia pikul menjadi bebannya sebagai individu pula. Ia mengakui hal tersebut kemarin, tapi pada akhir putaran kedua tadi (26/10), Kiradech Aphibarnrat masih menjaga asanya untuk mewujudkan harapannya.
“Saya akan berusaha untuk menang, meski hanya pada satu turnamen,” begitulah harapan yang Kiradech ungkapkan kemarin. Yang menjadi dorongan baginya untuk mewujudkan hal tersebut ialah agar “generasi baru bisa melihat, meskipun berasal dari negara kecil di Asia, kami bisa bermain menghadapi para pemain top dunia. Saya hanya ingin menginspirasi mereka.” tutup Kiradech yang memulai pekan ini dengan berada di peringkat 41 dunia.
Berbekal dua kali menuntaskan ajang World Golf Championships dengan berada di zona lima besar, pada WGC-Mexico Championship dan WGC-Dell Technologies Match Play, plus dengan kondisi fisik yang lebih siap, pegolf yang menjuarai Order of Merit Asian Tor 2013 ini kembali menunjukkan performa yang membuatnya layak disejajarkan dengan nama-nama besar lain yang juga berlaga di Sheshan International Golf Club pekan ini.
Pada putaran kedua WGC-HSBC Champions tadi, Kiradech masih belum terlempar dari persaingan juara, meskipun tadi ia bermain dengan skor 1-under 71. Dengan skor total 5-under 139 dan menempati peringkat ke-7 bersama lima pegolf top lain.
“Peringkat tersebut bukan posisi yang jelek. Kondisi (di lapangan) sangatlah berat dengan angin yang berembus dengan sangat kencang yang membuat lapangan golf dimainkan sangat berbeda ketimbang putaran pertama dan lebih sulit,” ujar Kiradech tanpa bermaksud mencari alasan.
Ada nuansa kekecewaan, tapi ini sesuatu yang sangat manusiawi, terlebih ketika Anda mengawali putaran pertama dengan skor 4-under 68. Tapi ia juga bisa melihat hal positif yang bisa menjadi bekal baginya memainkan putaran ketiga besok.
“Setidaknya, saya mendapatkan performa putting saya lagi. Saya bisa menggulirkan bola dengan cukup baik. Short game saya di sekitar green juga bagus. Saya cuma tidak memainkan driver sebagus yang biasanya,” sambung Kiradech. “Saya pikir saya hanya memukul bola ke empat atau lima fairway sepanjang hari ini, tapi saya juga mesti memukul bola lebih banyak lagi ke green.”
“Pekan ini saya tidak merasa memiliki permainan terbaik saya. …, tapi permainan saya kali ini masih jauh lebih baik daripada yang saya miliki beberapa pekan terakhir.” – Kiradech Aphibarnrat
Secara statistik, Kiradech memang terlihat mengalami kesulitan untuk bermain dengan skor rendah pada hari kedua ini. Berbeda dari yang ia katakan, Kiradech memukul bolanya ke 7 dari 14 fairway. Ia juga memenuhi 9 dari 18 green in regulation.
“Pekan ini saya tidak merasa memiliki permainan terbaik saya,” ujar Kiradech yang membukukan empat birdie dan tiga bogey. “Saya masih belum menemukannya lagi, tapi permainan saya kali ini masih jauh lebih baik daripada yang saya miliki beberapa pekan terakhir.”
Sebelum pekan ini, Kiradech telah bermain dalam empat WGC-HSBC Champions. Meski tidak secara berturut-turut, performanya sebenarnya menunjukkan kualitas permainan yang makin bagus. Dalam debutnya tahun 2013, ia hanya finis di posisi T55. Dua tahun kemudian, ia finis di peringkat T30, dan tahun lalu ia finis T24. Apakah ia akan memperbaiki peringkat akhirnya di sini Shanghai ini, ataukah ia memperbaiki prestasinya dalam sebuah ajang World Golf Championships, jelas kita masih akan melihat permainannya dalam putaran besok dan putaran final.
Dengan skor 5-under 67, Kiradech menjadi satu-satunya wakil Asia yang mulai memasuki mode persaingan memperebutkan gelar. Hingga akhir putaran kedua, Hideki Matsuyama menjadi pegolf Asia yang berada di posisi terbaik kedua setelah Kiradech. Hari ini Matsuyama bermain dengan skor 2-under 70, setelah kemarin bermain dengan skor 72. Dengan skor total 2-under 142, Matsuyama berada di tempat ke-21 bersama Tyrrell Hatton, Adam Scott, dan Adam Hadwin.
Adapun C.T. Pan yang kemarin bermain dengan skor 68, harus terlempar ke posisi 31 setelah tadi hanya membukukan skor 4-over 76. Gaganjeet Bhullar juga membukukan skor 144 dan menempati peringkat yang sama dengan pegolf China Taipei tersebut. Thorbjorn Olesen dan Matt Wallace juga menempati peringkat yang sama.
Pegolf No.1 Dunia Brooks Koepka juga harus berjuang keras menaklukkan Sheshan International Golf Club. Ia bermain dua stroke lebih buruk daripada Pan dan Bhullar. Setelah bermain even par 72 pada hari pertama, hari ini ia bermain 74.
Tempat pertama kali ini dihuni oleh Tony Finau yang berhasil menyalip Patrick Reed, pimpinan klasemen pada hari pertama. Skor 5-under 67 miliknya sudah cukup bagi pegolf Amerika tersebut untuk mengambil alih peringkat teratas.
Sang juara bertahan, yang juga juara FedExCup 2018 Justin Rose menunjukkan keseriusannya untuk menjadi pemain pertama dalam sejarah WGC-HSBC Champions yang berhasil mempertahankan trofi Old Tom Morris. Pada putaran kedua tadi, Rose bermain dengan skor 67 dan mengumpulkan skor total 136. Ia berada di tempat kedua bersama rekan senegaranya, Tommy Fleetwood, dan Reed.


