The Royal Melbourne Golf Club terbukti menjadi ujian yang luar biasa berat bagi para pegolf amatir elit dunia sekalipun. Tercatat pada putaran kedua turnamen Australian Master of the Amateurs, dari total 78 peserta pria, hanya 8 pemain yang berhasil membukukan skor under, dan hanya 3 pemain yang main even par 72. Demikian pula dari divisi wanita, di mana dari total 48 peserta, yang bermain under hanya 2 pemain, sedang yang main even par juga hanya 2 orang.
Panjang lapangan West Course, yang disebut-sebut sebagai lapangan No.1 di Australia, memang terbilang pendek untuk standard masa kini. Panjangnya hanya mencapai 6.077 meter. Namun, sang arsitek lapangan, Dr. Alistair McKenzie mendesain lapangan ini dengan sangat jenius. Desainer legendaris, yang juga mendesain Augusta National, tempat digelarnya The Masters Tournament, ini merancang green yang dilindungi dengan bunker yang dalam, yang kerap menghukum pemain yang kurang berkomitmen atau kurang presisi dalam melakukan pukulan approach.
Perlu diingat pula bahwa kondisi lapangan di Australia sangat berbeda jauh daripada di Indonesia. Selain fairway yang keras, kondisi green juga sangat keras dan memiliki kontur bergelombang. Kecepatan green memang didesain pada angka 11,5 pada stimpmeter. Tapi kecepatan itu hanyalah pada permukaan green yang datar. Pada kondisi putt yang menurun, angka tersebut bertambah hingga menjadi sekitar 16 bahkan lebih, tergantung level kemiringannya.
“Green di The Royal Melbourne West Course ini super keras dan super licin. Fairway-nya juga keras, rumputnya juga berbeda sehingga memberi sensasi yang juga berbeda untuk short game,” ujar Almay Rayhan Yagutah, yang bersama Naraajie Emerald Ramadhan Putra bermain mewakili Indonesia pada ajang prestisius ini.
Untuk memperburuk keadaan, kondisi alam pada putaran kedua hari ini (9/1) juga membuat seluruh peserta menjadi sangat kelimpungan. Pada putaran sore, angin bisa berembus dengan kecepatan hingga di atas 25 km/jam. Kondisi ini membuat permukaan green bahkan menjadi lebih kering lagi pada sore hari. Dampaknya, tingkat kelicinan permukaan putting itu pun bisa menjadi lebih cepat pada putt yang menurun, atau malah lebih lambat pada putt yang menanjak. Semua itu juga belum ditambah dengan posisi pin yang menyulitkan, di mana banyak pin yang justru ditempatkan hampir di pinggir green.
“Jadi, tantangan di lapangan ini adalah bunker-bunker-nya, green yang keras dan sangat licin ketika dibantu oleh angin,” papar pelatih Indonesia, David Milne, yang ikut mendampingi Almay dan Naraajie bertanding pekan ini.
“Semua pemain yang saat ini berada di peringkat sepuluh besar berasal dari negara-negara yang memiliki angin kencang sebagai cuaca normal mereka.” – David Milne, Pelatih Indonesia
“Anak-anak pun sulit mendapatkan hasil yang bagus dengan kondisi sore hari yang berangin dan kondisi green yang keras dan sangat licin itu,” sambung Milne, menggarisbawahi skor 82 yang dibukukan Naraajie dan 86 yang ditorehkan Almay.
Milne memang tidak berusaha untuk memberi alasan terhadap performa duo Indonesia ini. Ia menjelaskan bahwa kondisi yang brutal ini dialami oleh seluruh peserta, yang bahkan mengalami hal yang lebih sulit lagi pada sore hari. Skor terbaik pada putaran kedua ini, baik untuk pria maupun wanita, ialah 7-under 65, yang ditorehkan pegolf Selandia Baru, Joshua Armstrong. Tapi itu pun ia peroleh lantaran bermain pada pagi hari.
“Pimpinan klasemen pada hari pertama, Keita Nakajima (peraih medali emas individu putra pada Asian Games 2018), bisa membukukan skor 6-under 66 pada putaran pertama. Tapi hari ini ia bermain dengan skor 74. Semua pemain yang saat ini berada di peringkat sepuluh besar berasal dari negara-negara yang memiliki angin kencang sebagai cuaca normal mereka,” tutur Milne lagi, untuk menunjuk Australa, Jepang, AS, Kanada, Taiwan, dan Inggris.
Perbedaan kondisi bermain ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu digarap oleh para pegolf elit Indonesia. Menurut Milne, berlatih dan bertanding dalam kondisi seperti ini akan bisa mengembangkan skor mereka menjadi lebih baik jika terekspos dalam suasana seperti ini.
Dalam kondisi seperti ini, kedua wakil Indonesia itu memang harus menerima kenyataan bermain dengan skor besar. Pada putaran kedua tadi, Naraajie terlihat sangat kesulitan untuk mendapatkan birdie. Ia harus menuliskan enam bogey dan dua double bogey di kartu skornya hari ini.
Sementara Almay sempat membukukan satu birdie, mengulangi skor yang ia juga bukukan pada hari pertama, yaitu di hole 12. Sayangnya, ia mendapat lima bogey dengan dua double bogey dan dua triple bogey.
Dengan hasil ini, untuk sementara Naraajie menempati peringkat T55, sedangkan Almay berada di peringkat T66.
“Saya yakin besok anak-anak ini akan bermain lebih baik lagi,” tutup Milne, menunjukkan nada positif.


