Indonesian Masters kembali ke kalender kompetisi di Indonesia dengan menghadirkan sejumlah janji yang layak dinantikan perwujudannya.
Penantian dua tahun masyarakat golf terhadap Indonesian Masters tampaknya segera terpuaskan. Indonesia Open mungkin menjadi turnamen paling bersejarah, namun Indonesian Masters kembali menjadi ajang golf terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia, bukan hanya dari hadiah uang yang disediakan, namun juga dengan peluang kehadiran sejumlah bintang LIV Golf.
Awal tahun ini, LIV Golf Investments, yang mendapatkan pendanaan dari Public Investment Fund milik Kerajaan Arab Saudi, mengucurkan anggaran sebesar US$200 juta untuk Asian Tour. Dana besar tersebut jelas merevitalisasi Tour yang telah beroperasi selama sekitar 25 tahun terakhir. Situasi pandemi dalam dua tahun terakhir, yang memaksa mereka membatalkan seluruh jadwal kompetisinya selama 20 bulan, terbukti menjadi periode terberat Asian Tour. Musim 2020 bahkan baru bisa dituntaskan awal Januari 2022. Itulah sebabnya, kontribusi LIV Golf ini jelas menjadi sangat berarti.
”Minat mereka terhadap golf, olahraga di luar urusan politik, dan bagaimana secara potensial hal ini dapat meningkatkan level permainan di Asia menjadi solusi bagi kami,” ujar Cho Minn Thant, CEO dan Komisioner Asian Tour kepada City A.M. ”Sebagai sebuah bisnis, situasi pandemi itu sangat membuat kami frustrasi. Kami cuma bisa menggunakan cadangan dana kami. Saya tidak bilang situasinya sulit, tapi secara finansial posisi kami tidaklah bagus.”
Sampai bulan September 2022 lalu Asian Tour telah kembali melakoni tugasnya secara penuh dengan menggelar 16 turnamen, empat di antaranya merupakan turnamen yang berlabel The International Series yang menyediakan total hadiah minimal US$1,5 juta—kecuali The International Series England yang menawarkan US$2 juta.
Kembalinya Indonesian Masters ke Royale Jakarta Gol Club pada 1-4 Desember 2022 mendatang juga tidak lepas dari kontribusi LIV Golf Investments tersebut. Sebab untuk pertama kalinya turnamen ini akan menyediakan US$1,5 juta sebagai total hadiahnya. Angka ini menjadikan Indonesian Masters sebagai turnamen golf dengan hadiah uang terbesar sepanjang sejarah, melampaui Indonesia Open 2009, yang kala itu disponsori Enjoy Jakarta dan menyuguhkan total hadiah sebesar US$1,25 juta.

Bergabungnya Indonesian Masters menjadi salah satu ajang International Series jelas membawa turnamen ini ke tingkatan yang lebih tinggi lagi. Namun, hal ini bukan tanpa konsekuensi sama sekali. Sejumlah tantangan hadir, meskipun sejumlah manfaat bisa dirasakan dalam kontribusi perdana LIV Golf bagi Indonesia ini.
Tantangan pertama, jumlah pegolf Indonesia yang berhak tampil secara otomatis pada Indonesian Masters ini hanya menjadi sepuluh pemain. Jumlah ini memang tidak termasuk pemain undangan, namun angka ini menurun drastis dari semula mencapai 20 pemain.
Pada edisi 2019, ada 27 pegolf Indonesia yang berpartisipasi, di mana 17 di antaranya adalah pegolf Indonesia yang masuk 20 peringkat teratas PGA Tour Indonesia—tiga nama lainnya diisi pemain asing yang berdomisili di Indonesia; 3 di antaranya merupakan pemain undangan—dua dari ketiga pemain undangan ini berstatus amatir—dengan 5 pemain amatir yang diberi spot bertanding. Selain itu, Rory Hie dan Danny Masrin turun sebagai pemain yang memiliki status pada Asian Tour.
Dengan adanya kategori pemain undangan, jumlah pemain Indonesia tentu tidak hanya terbatas pada sepuluh pemain. Namun, angka partisipasi yang rendah di negeri sendiri jelas membatasi ekspos para pegolf Indonesia di panggung kelas dunia. Terutama dengan minimnya kompetisi dalam negeri, yang sejauh ini hanya mendapatkan enam ajang Asian Development Tour yang layak dijadikan barometer performa mereka. Tanpa mengurangi hormat terhadap PGA Tour Indonesia, dua turnamen lokal yang mereka selenggarakan masih jauh dari harapan untuk membawa para pegolf profesional Indonesia tampil prima.
Jimmy Masrin, Ketua Asian Tour, yang juga merupakan pemprakarsa gelaran Indonesian Masters dan mulai menyelenggarakan ajang ini sejak 2011, memberi sinyal yang menggelitik dalam jumpa pers di Hotel J.S. Luwansa dalam pengumuman kembalinya Indonesian Masters.
”Sebenarnya hati saya sangat terbebani untuk mengembangkan golf. … Saya ingin mengembangkan golf lagi, dari Indonesian Golf Tour-nya, ke Asian Development Tour, ke Asian Tour. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat,” ujarnya.
”Saya ingin mengembangkan golf lagi, dari Indonesian Golf Tour-nya, ke Asian Development Tour, ke Asian Tour. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat.” — Jimmy Masrin, Pelopor Indonesian Masters dan Ketua Asian Tour.
Indonesian Golf Tour merupakan bukti perhatiannya kepada golf profesional di Indonesia. Dari periode 2014-2018, selain gelaran Indonesian Masters, Jimmy juga merogoh koceknya untuk menciptakan sirkuit Indonesian Golf Tour dengan maksud mempersiapkan para pegolf Indonesia untuk siap bersaing ke Asian Development Tour dan Asian Tour. Ada banyak faktor yang membuat sirkuit tersebut terhenti. Namun, ketika kompetisi lokal tak kunjung menciptakan medan ujian yang berarti, mereka yang berstatus profesional Tour jelas berharap Indonesian Golf Tor bisa kembali bergulir.
Tidak ada jaminan pasti bahwa sirkuit tersebut segera kembali. Namun, fakta bahwa topik tersebut diangkat dalam kesempatan tersebut jelas membuktikan bahwa Indonesian Golf Tour masih ada dalam benaknya.
Terlepas dari minimnya tempat untuk pemain dalam negeri, peningkatan status Indonesian Masters ini juga memberi peluang bagi para pegolf top LIV Golf untuk tampil di Royale Jakarta Golf Club. Prioritas mereka jelas bukan soal hadiah uang lagi. The Guardian memberitakan bahwa Official World Golf Ranking tidak akan memberi poin pada gelaran LIV Golf Invitational Bangkok. Dan dengan mayoritas pemain LIV Golf tak lagi bisa mengikuti Tour utama, mereka akan berusaha meraih poin OWGR dengan mengikuti The International Series. Artinya, pihak penyelenggara juga tak lagi perlu mengeluarkan uang untuk memberikan honor tampil bagi mereka.
Pihak penyelenggara masih belum dapat mengumumkan nama-nama besar yang akan menuju Jakarta, mengingat kalender golf global masih cukup panjang.
Sementara itu, sebagai upaya untuk mendorong pariwisata golf, Indonesian Masters telah memainkan peranan penting sejak 2011. Akan tetapi, dampak signifikan tersebut tampaknya masih jauh dari harapan. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sejauh ini masih belum memaksimalkan golf sebagai motor penghasil devisa, meskipun berkali-kali menyebut golf sebagai sektor potensial.
Indonesian Masters jelas segera menciptakan momentum berharga, baik bagi olahraga golf—masyarakatnya dan asosiasinya, maupun bagi pariwisata Indonesia itu sendiri. Jimmy dan timnya secara konsisten terus mengupayakan hal ini dan masyarakat golf di Indonesia jelas wajib mengapresiasinya. Dan ketika para pemain bintang Asia tiba di Royale Jakarta Golf Club, Indonesian Masters akan memiliki atmosfer yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

”Adanya LIV Golf menjadi blessing. Dari segi itu Indonesian Masters tahun ini akan beda. Much bigger, much better pada tanggal 1-4 Desember dan semoga kita bisa membawa Indonesia ke panggung dunia melalui Indonesian Masters,” ujar Jimmy.
Analisis Singkat
Klaim LIV Golf yang ingin mengembangkan olahraga golf secara global sebenarnya patut diragukan. Pertanyaan yang patut diajukan ialah mengapa merekrut nama-nama besar dan justru menggelar turnamen di negara-negara dengan industri golf yang sudah maju, seperti Amerika dan Inggris—secara berturut-turut mereka menggelar LIV Golf Invitational di London, Portland, Bedminster, Boston, dan Chicago?
Sepekan setelah pengumuman Indonesian Masters sebagai bagian dari The International Series, LIV Golf Invitational digelar di Bangkok, Thailand, yang bergulir mulai hari ini. Dan rasanya alih-alih ”mengembangkan golf”, langkah ini lebih mudah dianggap sebagai upaya mereka untuk merebut hati para penggemar golf di Asia, khususnya Asia Tenggara. Semua pihak sudah mengetahui bahwa Thailand merupakan negara golf terdepan di Asia Tenggara.
Lagi-lagi pola pemasaran yang dilakukan LIV Golf kembali dilakukan di Asia. Dan langkah ini mulai membuahkan hasil. Setidaknya dari perhatian media yang berbondong-bondong mengajukan akreditasi. (Kami hampir menuju ke sana, namun akhirnya harus batal lantaran kuota media sudah tidak memungkinkan bagi kami.)
Bukan berarti langkah tersebut negatif. Untuk Thailand sendiri, ajang yang memperebutkan total hadiah US$25 juta ini membuat perhatian global terarah ke sana. Dan seperti kebanyakan turnamen golf internasional, kesempatan ini menjadi momen yang sangat bagus untuk menegaskan Thailand sebagai destinasi golf dunia. Bagi Thailand, hal ini sangat berarti, mengingat pendapatan terbesar mereka berasal dari pariwisata.
Indonesia mungkin menjadi negara paling ideal untuk mewujudkan klaim ”mengembangkan golf” tersebut. Namun, hal terpentingnya sebenarnya bukan terjadi pada saat LIV Golf menghampiri Indonesia, melainkan ke mana para pemangku kepentingan di negeri ini melanjutkan investasi yang sudah dicurahkan itu. Dengan kata lain, bagaimana Indonesia melanjutkan momentum ini?


