Bagaimana Gabriel Hansel Hari, Kentaro Nanayama, M. Rifqi Alam Ramadhan, dan Luke Evan Moore sukses mempersembahkan medali emas bagi Provinsi DKI Jakarta?
Reportase lapangan oleh Tania Putri Dzahabiyyah.
Kuartet Gabriel Hansel Hari, Kentaro Nanayama, M. Rifqi Alam Ramadhan, dan Luke Evan Moore kini bisa bernapas lega. Mereka berhasil menjawab tuntutan KONI DKI Jakarta untuk mempersembahkan medali emas bagi provinsinya. Skor total 639 yang mereka kumpulkan selama tiga hari sejak 12 September menegaskan kekuatan tim ini.
Hansel tampak berhasil membawa momentum dari Mandiri Indonesia Open dua pekan lalu ke Royal Sumatra Golf Course. Mahasiswa University of Oregon ini mencatatkan skor 69-71-68 untuk memimpin Tim Putra DKI Jakarta mengungguli Tim Sumatera Utara (653) dan Tim Kalimantan Timur (665).
Sementara, mahasiswa Purdue University Kentaro Nanayama, yang bermain dengan skor 74-68-73, pegolf senior M. Rifqi Alam Ramadhan yang mencatatkan skor 71-72-76, serta Luke Evan Moore yang menorehkan 81-80-73, sama-sama ikut menyumbangkan skor untuk kemenangan Tim DKI Jakarta ini.
Nomor beregu ini dimainkan dengan menghitung tiga skor terbaik dari tiap putaran. Artinya, komposisi pemain ini terbukti tepat, mengingat seluruh pemain benar-benar memberi kontribusi bagi kemenangan tim.
”Kami semua saling mempercayai kemampuan masing-masing, kami juga sudah saling kenal sejak lama sehingga ada ikatan yang tercipta di antara kami.” — M. Rifqi Alam Ramadhan.
Dari keempatnya, Alam, demikian sapaan M. Rifqi Alam Ramadhan, menjadi pemain paling senior. Bersama Kristina Natalia Yoko, ia juga menjadi anggota Tim DKI Jakarta yang turut mempersembahkan dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu.
Delapan tahun silam, Alam mempersembahkan medali emas dari nomor mixed-foursome berduet dengan Yoko. Ia juga menjuarai medali perunggu untuk nomor beregu putra. Yoko sendiri ikut berkontribusi meraih medali perak nomor beregu putri—kala itu bersama Rivani Adelia Sitohang dan Juriah.
Anggota Tim DKI mengaku keberhasilan mereka memenangkan medali emas bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
”Memang target kami sejak awal meraih emas, jadi tidak begitu kaget,” ujar Kentaro.
”(Prestasi ini) sesuai target sih, kami punya tim yang bagus dan bermain konsisten, jadi sebenarnya tidak begitu kaget dan senang bisa menang.” — Luke Evan Moore.
”(Prestasi ini) sesuai target sih, kami punya tim yang bagus dan bermain konsisten, jadi sebenarnya tidak begitu kaget dan senang bisa menang,” imbuh Luke, yang bersama Kentaro dan Hansel mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk pertama kalinya.
Nomor beregu ini turut menjadi nilai tambah dari mengikuti PON. Dengan mayoritas kompetisi dimainkan sebagai ajang individu, pekan ini para peserta—total 59 putra dan 25 putri—tak hanya bermain untuk dirinya sendiri, tapi juga timnya, mengingat performa individu akan berdampak langsung pada tim.
Persis di sinilah Tim DKI memiliki keunggulannya dibandingkan provinsi lain. Kekompakan tim yang dibarengi dengan kapasitas permainan masing-masing menjadi kunci penting dalam tiga hari pertama kompetisi golf.
”Kami semua saling mempercayai kemampuan masing-masing, kami juga sudah saling kenal sejak lama sehingga ada ikatan yang tercipta di antara kami,” tutur Alam.
”Faktor yang memengaruhi kemenangan kali ini sebenarnya banyak…. puji Tuhan masih bisa selesai dengan baik.” — Gabriel Hansel Hari.
Luke menambahkan, ”Menurut saya (prestasi ini juga) karena kami sangat kompetitif, berada di level atas dari permainan kami. Kami juga sering mengikuti turnamen, bertanding satu dengan yang lain, jadi seperti yang diharapkan, begitu bertanding kami bisa bermain dengan baik.”
Selain ikatan sebagai satu tim, Hansel juga menyebut faktor pelatih sebagai bagian penting keberhasilan Tim DKI. ”Faktor yang memengaruhi kemenangan kali ini sebenarnya banyak. Pertama, kami latihan bersama sebagai tim karena ini turnamen tim. Kedua, kami juga punya pelatih yang bagus. Faktor ketiganya, fisik. Tadi saya agak kurang bugar sebenarnya, tapi puji Tuhan masih bisa selesai dengan baik,” tuturnya.
Pertandingan memang jauh dari selesai, mengingat masih ada tiga nomor terakhir yang dipertandingkan hingga 18 September mendatang. Masing-masing pemain pun sadar bahwa permainan mereka dalam tiga hari pertama harus terus ditingkatkan sehingga bisa menjadi modal penting dalam lima hari ke depan.
”Pukulan saya cukup solid, tapi green di sini lumayan sulit karena tidak terbiasa bermain di sini sehingga sedikit bingung membaca break,” aku Kentaro.
”Kelebihan mereka ada di adaptasi, adaptasi mereka cukup baik karena mereka pemain yang berpengalaman.” — Aqil Widyantoro.
”Permainan minggu ini tidak sesuai ekspektasi karena pada dua putaran pertama saya kesulitan mengatasi tekanan mengingat ini PON pertama saya. Hari ketiga ini lebih bagus karena permainan saya lebih steady, lebih tenang, permainan pekan ini bisa lebih baik lagi, semoga saja untuk foursome nanti kami bisa lebih bagus lagi,” imbuh Luke.
Apa Kata Pelatih: Aqil Widyantoro
Sebenarnya, dari tim pelatih, kami tidak mematok berapa medali, cuma berharap bisa bermain sebaik-baiknya. Sebab kami tahu permainan terbaik kami sudah pasti bisa lebih baik daripada provinsi lain.
Saya mengenal semua anggota tim ini dari kecil, jadi sudah tahu karakternya. Hanya Luke saja yang belum terlalu lama saya kenal, tapi kami sudah lumayan dekat. Karena tahu karakter masing-masing, sudah tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing, kami jadi bisa melengkapinya di masing-masing kategori.
Dari layout lapangan sebenarnya pukulan para pemain, shot shaping mereka, cocok, meskipun seperti Alam, kami harus mengambil target yang berbeda supaya bisa memainkan hole dengan baik. Sebenarnya, dari tee ke green buat mereka tidak terlalu susah, mungkin green-nya saja yang terlalu susah, cuma mereka masih bisa menanganinya karena bulan lalu kami sudah try out.
Kelebihan mereka ada di adaptasi, adaptasi mereka cukup baik karena mereka pemain yang berpengalaman.


