Lee6 Jeongeun tak hanya menyamai rekor skor terendah pada The Amundi Evian Championship, tapi juga memecahkan rekor skor 36 hole terendah dalam ajang Major wanita dan pria.

Tujuh tahun silam, pegolf Korea Selatan Kim Hyojoo meraih gelar LPGA pertamanya lewat kemenangannya pada ajang Major. Kemenangannya pada The Amundi Evian Championship—kala itu masih bernama The Evian Championship—ia raih, di antaranya dengan menorehkan skor 61 pada putaran pertama, untuk memberinya keunggulan satu stroke atas Karrie Webb. Skor tersebut tak hanya menjadi skor terendah yang pernah ditorehkan di The Champions Course Evian Resort Golf Club, tapi juga merupakan skor terendah yang pernah dibukukan dalam sebuah kejuaraan Major wanita dan pria.

Peristiwa serupa kembali terulang kemarin (23/7). Sebuah festival birdie diciptakan oleh pegolf Korea lainnya, Lee6 Jeongeun, untuk membawanya menggeser Pajaree Anannarukarn dari puncak klasemen sementara. Yang membuatnya lebih istimewa lagi ialah skor total 15-under 127 miliknya sekaligus memecahkan rekor 36 hole terendah dalam seluruh kejuaraan Major, melampaui rekor milik Brooks Koepka ketika ia mencatatkan skor 128 pada PGA Championship 2019, dan skor 129 yang diraih oleh Chun Ingee pada The Amundi Evian Championship 2016 dan Louis Oosthuizen pada The Open Championship 2021 lalu.

Meskipun menciptakan kartu skor yang luar biasa, Lee6 mengakui bahwa permainannya kemarin terjadi di tengah sebuah proses pencarian. Ia masih mencari bentuk dan irama yang tepat untuk merasakan swing yang lebih sempurna.

 

 

”Ya, sungguh luar biasa. Saya (sebenarnya) merasa tidak melakukan yang terbaik. Swing saya masih belum sempurna, tapi saya berusaha fokus melakukan pukulan demi pukulan dan (mencari) bentuk dan irama pada backswing saya. Saya hanya fokus melakukan prosesnya, tidak berorientasi pada hasil,” ujar pegolf yang hanya membutuhkan 23 putt pada putaran kedua ini.

Mentalitas serupa sudah ia ungkapkan ketika menuntaskan putaran pertama dengan skor 5-under 66. Kala itu ia mencatatkan dua bogey, namun berhasil menorehkan tujuh birdie sebagai awal yang solid.

Pada putaran kedua kemarin, ia mulai bermain dari hole 10 dan mendapat dua birdie di tiga hole pertamanya, sebelum kemudian menambah dua birdie lagi di hole 17 dan 18 untuk membuatnya meraih skor 32 di sembilan hole pertamanya. Tidaklah mengherankan ketika memasuki sembilan hole terakhirnya, Lee6 merasa permainannya sudah lebih nyaman sehingga melangkah lebih jauh dengan menciptakan enam birdie, termasuk empat secara beruntun dari hole 6.

”Ya, rasanya saya bisa mendapat banyak peluang birdie di sembilan hole yang baru itu,” sambungnya. ”Di hole 6, pukulan 3-wood saya sangat bagus dan mengarah ke pin dan menyisakan jarak 125 meter; (lalu saya) memukul dengan 9-iron dan menyisakan jarak 8 meter untuk putt birdie dan saya berhasil memasukkannya. Kemudian di hole 7, saya menggunakan driver dan menyisakan pukulan kedua 191 meter ke pin. Saya berhasil mengendalikan pukulan (kedua) dengan 3-hybrid, untuk hasil yang sangat bagus. Di hole 8 (par 3) saya berusaha mengontrol bola dengan 6-iron, bola meleset dari green, tapi saya berhasil melakukan chip-in. Sedangkan di hole terakhir, pukulan saya meleset ke kanan sehingga saya harus melakukan lay-up pada pukulan kedua untuk menyisakan 96 meter. Saya memainkan wedge 50 dan, ya, sisa empat atau lima meter.

 

Ariya Jutanugarn pada putaran kedua The Amundi Evian Championship 2021.
Skor 63 pada putaran kedua The Amundi Evian Championship 2021 merupakan skor terendah Ariya Jutanugarn dalam ajang Major. Foto: Mark Runnacles/LET.

 

”Turnamen Major memiliki lebih banyak tekanan sehingga saya menjadi sedikit lebih gugup. Kondisi lapangannya sedikit lebih sulit. Jadi, saya berusaha untuk fokus hanya pada irama swing dan tidak terlalu banyak berpikir di lapangan.”

Sebelumnya, pegolf berusia 25 tahun ini telah meraih skor terendah dalam kariernya. Empat tahun silam, ketika bertanding pada putaran kedua OK! Savings Bank Se Ri Pak Invitational, Lee6 membukukan skor 60, yang membantunya meraih gelar keempat dari enam kemenangannya pada kancah KLPGA. Skor 61 pada ajang Major pekan ini jelas menjadi hal yang jauh lebih istimewa dan layak dirayakan.

Pegolf Afrika Selatan Ashleigh Buhai yang bermain dengan Lee6 turut mengungkapkan kekagumannya pada pegolf Korea tersebut. ”Sejujurnya, dia terlihat teramat sangat fokus. Saya pernah menjadi kedi (dan kami bermain) 9-under, tapi itu hanya dalam turnamen kecil. Bisa melakukan hal ini (skor 61) dalam kondisi seperti (ajang Major) ini, dan tiap putt sepertinya bakal langsung masuk, sungguh luar biasa. Saya mendapat posisi terbaik dan saya memilih tetap diam. Saya tidak ingin mengusiknya karena dia terlihat sungguh fokus,” ujarnya.

Duo Thailand di Tempat Kedua
Dua pegolf Thailand kini berjarak tiga stroke dari Lee6, dengan Ariya Jutanugarn menorehkan skor terendah kedua pada hari itu, dan Pajaree yang kembali membukukan skor 65 untuk menjaga peluangnya meraih prestasi besar dalam ajang Major.

Seperti halnya Lee6, Ariya juga menciptakan kartu skor yang bersih dari bogey. Namun, ia harus menunggu hingga hole 6 untuk meraih birdie pertamanya, sekaligus menciptakan momentum untuk meraih tiga birdie lagi di tiga hole berikutnya. Dua birdie tambahan di sembilan hole terakhir ia tuntaskan dengan eagle di hole 18, untuk mencatatkan skor terendahnya dalam ajang Major, satu stroke lebih baik dari skor 64 yang ia raih pada ajang yang sama, dua tahun silam.

 

Pajaree Anannarukarn pada putaran kedua The Amundi Evian Championship 2021.
Pajaree Anannarukarn mempertahankan peluangnya meraih prestasi dalam ajang Major. Foto: Mark Runnacles/LET.

 

”Saya cukup beruntung bisa membuat eagle di hole terakhir. Rasanya senang bisa mendapatkannya,” ujar Ariya, yang tengah mengejar gelar Major ketiga dalam kariernya.

”Tiap kali saya ke sini, rasanya lapangannya sangat berat, meskipun menakjubkan. Target saya hanyalah ingin lolos cut, saya berhasil melakukannya. Jadi, saya akan menikmati dua hari terakhir.”

Rekan senegaranya, yang juga menjadi salah satu juniornya, Pajaree menemani Ariya di posisi kedua setelah kembali bermain solid. Meskipun kali ini ia harus mendapat dua bogey di hole 2 dan 13, enam birdie dengan eagle di hole 18 menempatkannya di posisi yang ideal untuk mewujudkan gelar LPGA pertamanya.

”Saya tidak mengubah strategi sama sekali, tetap mengikuti permainan saya pada putaran pertama dan ternyata berhasil,” ujar pegolf yang semasa juniornya sempat bertanding di Indonesia ini. ”Jelas, saya memainkan permainan golf yang solid dalam dua hari ini dan sangat senang dengan permainan saya.”

Ia sadar bahwa satu-satunya peluang untuk mempertahankan kesempatannya pada akhir pekan ialah berusaha meraih banyak birdie.

Sementara itu, dua pegolf amatir berhasil melaju ke putaran akhir pekan. Untuk sementara, pegolf Jepang Tsubasa Kajitani, yang kini berada di peringkat 10 pada World Amateur Golf Ranking mengungguli pegolf amatir No.1 Dunia Rose Zhang dengan selisih satu stroke. Kemarin Kajitani bermain dengan skor 1-over 72, sedangkan Zhang membukukan skor 69.