Posisi teratas pada akhir hari kedua The Masters Tournament dihuni oleh para pemenang Major.

Francesco Molinari, Jason Day, Brooks Koepka, Adam Scott, dan Louis Oosthuizen menciptakan sejarah pada The Masters Tournament kali ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah ajang Major paling prestisius ini puncak klasemen dihuni oleh lima pemain setelah memainkan 36 hole. Kelimanya juga merupakan pemenang Major, namun hanya Scott yang telah menikmati menjuarai The Masters pada 2013. Kelimanya sama-sama mengumpulkan skor total 7-under 137.

Dari kelima nama tersebut, nama Francesco Molinari menjadi yang paling menarik untuk dibahas. Pegolf Italia ini sepertinya makin akrab dengan menciptakan sejarah. Usai menjadi pegolf Italia pertama yang memenangkan Major, ketika ia menjuarai The Open Championship 2018, ia juga menjadi pegolf Eropa pertama yang berhasil bermain sempurna dan mencatatkan lima kemenangan dalam debutnya bermain pada Ryder Cup, sekaligus memastikan dominasi Eropa atas AS dalam ajang dua tahunan tersebut. Ia pun kemudian menjuarai ajang Rolex Series pertamanya dengan memenangkan BMW PGA Championship, yang turut membantunya menjuarai Race to Dubai.

Molinari tampaknya berhasil membawa momentum-momentum dari tahun 2018 itu ke tahun ini. Belum lama ini ia juga menjuarai ajang Arnold Palmer Invitational presented by Mastercard. Ini merupakan gelar PGA TOUR kedua baginya.

Kali ini Molinari juga mencatatkan sejarah baru. Dengan menjadi salah satu pimpinan klasemen, ia menjadi pegolf Italia pertama yang berada di posisi memimpin pada putaran mana pun di Augusta National Golf Club ini. Permainannya pada hari kedua ini pun sungguh mengangumkan. Ia bermain nyaris sempurna dan berhasil menghindari catatan bogey di kartu skornya, namun berhasil menorehkan lima birdie.

“Sangat senang dengan permainan saya dan bagaimana saya berhasil menjalankan strategi bersama kedi saya. Tapi tentu perjalanan kami masih sangat jauh. Kita perlu melihat seperti apa hasilnya pada akhir pekan ini,” ujar Molinari.

Sejauh ini Molinari telah tujuh kali tampil dalam ajang The Masters ini. Prestasi terbaiknya ialah finis T19 pada tahun 2012.

“Saya rasa ada perbedaan yang di sekitar green ketimbang beberapa kali saya bermain di sini. Rasanya masih tidak nyaman ketika Anda harus berdiri dan melakukan beberapa putt atau chipping karena ruangnya begitu kecil dan Anda harus benar-benar mahir, tapi juga sadar bahwa sama sekali tak ada celah untuk meleset,” sambung Molinari lagi.

“Tapi jelas sebagian dari permainan saya telah meningkat dalam 12 bulan terakhir, tapi lapangan ini selalu menciptakan tekanan, umumnya dalam aspek short game dan putting. Saya senang sejauh ini saya sudah bermain lebih baik daripada sebelumnya, dan semoga saja saya bisa melanjutkan hal yang sama.”

Sementara itu, Jason Day mengalami momen yang cukup heroik untuk mencapai posisi teratas. Pegolf asal Australia ini harus berjuang mengatasi cedera yang ia alami pada hari Kamis. Meski kondisi punggungnya kini sudah membaik, ia masih harus bermain dalam kondisi yang, di satu sisi, bisa memberi dampak buruk bagi karier profesionalnya. Toh ia masih memiliki optimisme tinggi soal permainannya.

“Saya merasa jauh lebih optimis hari ini ketimbang kemarin, dan saya berharap bisa mengurangi beberapa hal yang memalukan yang mungkin saja terjadi. Saya merasa positif menuju hari Sabtu dan Minggu,” ujar Day, yang sempat finis sebagai salah satu runner-up dalam debutnya pada ajang ini tahun 2011 silam.

Sama seperti Molinari, Day juga membukukan hasil yang sangat solid pada hari kedua. Meskipun harus mendapat bogey di hole 12, satu-satunya bogey yang ia dapatkan, Day mengemas enam birdie untuk bisa menyamai catatan 7-under 137 milik Molinari.

Rekan senegara Day, Adam Scott, menjadi satu-satunya dari kelima pemain ini yang telah menjuarai ajang Major ini. Kemenangannya pada 2013 hingga saat ini masih dianggap kemenangan terbesar bagi Australia. Scott masih menjadi satu-satunya pegolf Australia yang melakukan pencapaian tersebut ketika berhasil mengalahkan pegolf Argentina, yang juga pernah menjuarai ajang ini pada 2009, Angel Cabrera, lewat babak play-off.

Scott berhasil mendaki ke puncak klasemen setelah menorehkan skor 4-under 68.

“Suatu saat hal seperti ini pasti terjadi, cuma kali ini posisi teratas benar-benar ramai,” ujar Scott. “Menurut saya akhir pekan ini bakal menjadi sangat menarik dengan apa yang terjadi sejauh ini. Ada begitu banyak pemain yang memiliki peluang. Sebagai penggemar, saya menyukai kondisi ini. Tapi sebagai pemain, saya lebih suka berada 6 stroke di depan mereka semua.”

Scott memang benar. Selain dirinya, masih ada PGA TOUR Player of the Year 2018 Brooks Koepka, yang meskipun hanya bermain 1-under 71, masih bisa mempertahankan posisi teratas. Koepka yang telah mengoleksi dua gelar U.S. Open dan memenangkan ajang U.S. PGA Championship ini jelas tidak boleh diabaikan sebagai salah satu calon juara. Selain itu, masih ada Oosthuizen yang sudah sembilan tahun tidak menikmati mendapat sorotan pada ajang Major.

“Saya hanya membutuhkan putaran yang solid besok (hari ini, 13/4). Anda baru akan memenangkan ajang ini di sembilan hole terakhir di lapangan ini. Selama bertahun-tahun, kita sudah melihat bahwa apapun bisa terjadi di sembilan hole terakhir,” tutur Oosthuizen.

Tapi jelas peta persaingan pun tidak hanya dimiliki oleh kelima pemain ini. Pemegang empat gelar The Masters, Tiger Woods juga mulai membuktikan perkataannya menjelang turnamen ini dimulai. Keyakinannya bahwa ia masih memiliki permainan yang cukup untuk menambah koleksi gelarnya ini ia buktikan pada hari kedua dengan menorehkan enam birdie dan dua bogey. Dengan skor 70 yang ia peroleh pada hari pertama, Woods kini hanya berjarak satu stroke dari kelima pimpinan klasemen tersebut.

Bagi Tiger Woods, pencapaiannya dalam 36 hole pada The Masters kali ini merupakan posisi terbaik, sekaligus terdekat dari pimpinan klasemen, yang bisa ia peroleh sejak 2002. Pada tahun itu, ia memimpin klasemen dan akhirnya meraih Jaket Hijau ketiga. Skor 68 yang ia bukukan juga menjadi skor terendah yang ia raih di Augusta National Golf Club sejak 2011.

Namun, tak hanya Woods yang berpeluang untuk menghasilkan kejutan pada akhir pekan ini. Masih ada Dustin Johnson, Xander Schauffele, dan pendatang baru asal Afrika Selatan Justin Harding, yang juga mengoleksi 6-under 138.

Sementara itu, dari kategori amatir, empat pemain amatir berhasil menembus putaran akhir pekan. Juara U.S. Amateur Viktor Hovland dari Norwegia berada di posisi terbaik. Ia kini menempati peringkat T29 setelah bermain 72-71. Sementara itu, pegolf Meksiko Alvaro Ortiz, pemenang Latin America Amateur, berada satu stroke di belakang Hovland dengan catatan skor 73-71. Adapun juara Asia-Pacific Amateur Championship Takumi Kanaya asal Jepang berada persis di batas cut dengan 3-over 139. Dan runner-up U.S. Amateur Devon Bling asal Amerika juga menorehkan skor yang sama dengan Kanaya.

Jumlah ini merupakan jumlah terbanyak setelah 1999, ketika Sergio Garcia, Trevor Immelman, dan Matt Kuchar menembus babak akhir pekan. Immelman kemudian menjuarai ajang ini pada 2008, sementara Garcia memenangkannya tahun 2017.

Leave a comment