Xander Schauffele membuktikan dirinya sebagai jawara Major sejati dengan meraih gelar Champion Golfer of the Year lewat kemenangan dua stroke pada The Open Championship 2024.
Tidak ada kejuaraan Major yang memberi status yang istimewa selain The Open Championship. Sang juara berhak mendapat sebutan Champion Golfer of the Year, Pegolf Jawara Tahun Ini. Dan gelar istimewa ini kini melekat pada diri Xander Schauffele.
Jika selama ini ia hanya nyaris menjuarai Major—T5 pada U.S. Open 2017, T6 pada U.S. Open 2018, T2 pada The Open 2018, T2 pada The Masters 2019, T3 pada U.S. Open 2019, peringkat 5 pada U.S. Open 2020, T3 pada The Masters 2021, dan T7 pada U.S. Open 2021—pegolf asal California ini akhirnya mengubah semua pandangan publik.
Pertama, ia sukses menjuarai Major pertamanya pada ajang PGA Championship bulan Mei lalu sebagai gelar PGA TOUR pertamanya sejak menjuarai Genesis Scottish Open 2022. Dan kemarin (21/7) ia sukses menjuarai Major keduanya di negeri yang kerap disebut sebagai tempat lahirnya olahraga golf lewat ajang The Open Championship.
”Sulit. Sangat sulit,” ujar Schauffele terkait kemenangannya di Royal Troon itu. ”Saya kira kemenangan (Major) pertama itu banyak membantu saya hari ini di sembilan hole terakhir. Ada perasaan tenang ketika memainkannya. Kondisi demikian sangat membantu ketika memainkan salah satu sembilan hole tersulit yang pernah saya mainkan dalam sebuah turnamen.

”Butuh waktu yang sangat lama untuk mewujudkan satu kemenangan Major, dan sekarang saya punya dua gelar jelas pencapaian yang berbeda.”
Schauffele tidak berlebihan ketika mengungkapkan bahwa kemenangan ini ia raih dengan susah payah. Sepanjang pekan itu, Schauffele dan para pegolf lainnya tak hanya harus menaklukkan lapangan, tapi juga menjinakkan angin yang berembus antara 12-25 mil per jam.
Lalu seperti apa permainan Schauffele yang memberinya gelar Champion Golfer of the Year?
Skornya dalam tiga putaran pertama memang terlihat tidak istimewa. Dengan Royal Troon yang dimainkan 71 par, Schauffele hanya mencatatkan skor 69-72-69. Meski demikian, ia hanya terpaut satu stroke dari rekan senegaranya Billy Horschel yang menorehkan skor 4-under (72-68-69).
Tidak ada yang memperkirakan Schauffele akan memainkan salah satu permainan terbaiknya di lapangan links yang kerap menghukum mereka yang tak mampu membaca arah angin dan memiliki akurasi tinggi.

Bicara soal akurasi, pukulan tee Schauffele bukanlah yang tertajam pada putaran final, atau bahkan sepanjang pekan itu. Kecuali pada putaran kedua, ketika ia mencatatkan 11 fairway hit (79%), Schauffele hanya mencatatkan 9 fairway hit pada putaran pertama dan putaran final (64%), bahkan hanya mengantarkan bolanya ke 8 fairway (57%) pada putaran ketiga. Dengan rata-rata 9,25 atau sekitar 66% fairway hit, ia menempati posisi T10 bersama empat pegolf lainnya, termasuk pegolf No.1 Dunia Scottie Scheffler.
Akan tetapi, Schauffele menampilkan kualitas pukulan approach yang luar biasa, terutama pada putaran final itu. Sebanyak 16 kali ia berhasil memenuhi green in regulation (89%). Sepanjang pekan itu ia mencatatkan rata-rata 12,75 green in regulation (71%) dan berbagi tempat teratas untuk kategori tersebut bersama pegolf Amerika lainnya, Russell Henley.
Schauffele membutuhkan 28 putt untuk menorehkan skor 6-under 65, yang menyamai skor terendah sepanjang pekan—setelah pegolf Afrika Selatan Thriston Lawrence pada putaran ketiga—dan mencatatkan satu dari hanya dua permainan tanpa bogey pada putaran final itu—bersama Henley (69). Bukan catatan terendah memang lantaran kehormatan tersebut menjadi milik pegolf Korea Im Sungjae, yang membutuhkan rata-rata 26,50 putt atau 1,47 putt per hole. Toh bagi Schauffele hal itu sudah cukup baginya untuk menjawab impiannya.
Setelah mencatatkan birdie di hole 6 dana 7, permainan Schauffele justru makin bersinar di sembilan hole terakhir, yang relatif lebih sulit. Birdie di hole 11, yang menjadi hole tersulit sepanjang pekan, melanjutkan momentumnya, dan ia berhasil menambah tiga birdie lagi sebelum akhirnya bermain dengan par di hole terakhirnya.
”Setelah birdie di hole 14 itu saya berhasil memukul ke fairway, dan di sisi kanan ada papan klasemen besar di dekat green hole 15. Saya melihat ke papan klasemen sepanjang hari, padahal saya belum pernah melakukannya, tapi di Valhalla saya melihatnya sepanjang hari, dan benar-benar ingin menerimanya. Itulah yang saya lakukan di lapangan, jadi saya berkata pada diri sendiri untuk melakukan hal yang sama di sini,” tutur Schauffele.

”Saya menatap papan itu, dan tahu, kalau bisa mendapat birdie di hole 16, saya membuat birdie di hole 6. Itu birdie pertama saya di hole par 5 pada pekan ini. Jadi, saya berpikir kalau bisa membuat birdie di hole par 5 kedua pekan ini, di hole 16, pasti akan menjadi istimewa. Dan begitu memukul green di hole 17, saya berusaha keras supaya pikiran saya tidak melanglang terlalu jauh.”
Schauffele mengakui bahwa sepekan di The Renaissance Club menjadi sangat penting dalam persiapan menuju The Open Championship. Dan meskipun sepekan sebelumnya ia hanya finis T15, ia mendapatkan modal penting yang membantunya menjadi Champion Golfer of the Year.
”Menurut saya (tampil di The Renaissance Club) sangat esensial. Perbedaan waktunya saja sudah menjadi hal besar yang mesti diatasi. Kemudian ketika melangkah melewati area fescue dan bunker-bunker yang dalam dan pasir yang sangat halus, kemudian masih ada angin dan green yang lambat, semuanya benar-benar berbeda ketimbang yang kami hadapi di Amerika Serikat. Kalau bisa mendapatkan pekan tambahan untuk berusaha dan beradaptasi, jelas tidak perlu ada pertimbangan lain lagi untuk bisa mengalaminya,” jelasnya.
”Rasanya saya berhasil membatasi melakukan kesalahan dengan cukup baik. Ada satu, beruntung hanya sekali saya menghadapi putaran yang sangat sulit karena angin dan hujan, dan sejujurnya saya mengatasinya lebih baik daripada yang saya bayangkan, jika pukulan saya meleset dan masuk ke fescue, saya tidak terlalu khawatir karena beginilah lapangan links. Sejauh bisa menghindari bunker-bunker itu, Anda bisa memukul bola ke depan dan memasukkannya ke lubang.
”Menurut saya, gaya bermain golf ini membantu saya secara mental. Gaya bermain golf yang bisa Anda mainkan di sini ialah Anda tak perlu sempurna atau memukul drive sebagus mungkin. Sejauh bisa memukul bola ke depan dan menghindari bunker dan fokus ke tiap hole di depan Anda, memastikan chipping melawan arah angin, dan hal-hal yang para pegolf profesional bicarakan … lebih sulit daripada melakukannya di lapangan. Saya kira, saya dan Austin (kedinya) menjalankan tugas kami memainkan lapangan yang sulit ini dengan baik.”

Hal Lain yang Perlu Anda Ketahui
Xander Schauffele memenangkan Claret Jug dalam penampilan ketujuhnya pada The Open Championship.
Kemenangan ini turut menjadikan Schauffele sebagai pegolf Amerika ke-33 yang menjuarai The Open, sekaligus yang ke-7 yang melakukannya di Royal Troon.
Schauffele menjadi Juara The Open pertama sejak Rory McIlroy (2014) yang menjuarai The Open dan ajang Major lainnya pada tahun yang sama.
Schauffele juga menjadi Champion Golfer of the Year berbeda ke-90 yang menjuarai The Open. Sebanyak 27 pegolf menjuarai The Open lebih dari sekali, dengan 62 gelaran The Open menampilkan keberhasilan juara bertahan memenangkan ajang Major ini.


