Berbekal pengalaman, grip putting yang baru, dan putter pinjaman, George Gandranata menjadi pegolf terbaik Indonesia pada ajang BNI Ciputra Golfpreneur Tournament.

Jangan pernah menghapus nama George Gandranata sebagai salah satu pegolf terbaik Indonesia saat ini. Prestasinya pada ajang BNI Ciputra Golfpreneur Tournament di Damai Indah Golf BSD Course pekan lalu membuktikannya. Persis di lapangan yang sama ketika Naraajie Emerald Ramadhan Putra menjuarai ajang Asian Development Tour (ADT) pertama dalam debut profesionalnya, George finis jauh di depan juniornya itu.

Keputusan berumah tangga, disusul dengan pandemi dalam tiga tahun terakhir telah mengubah orientasi George dalam karier golf profesionalnya. Kini ia tak lagi aktif mengikuti turnamen di luar negeri.

Akan tetapi, kecintaan pada olahraga yang melambungkan namanya ini masih menjadi dorongan untuk terus melakoni statusnya sebagai profesional. Ia juga masih menikmati kompetisi di level tertinggi, meskipun sejauh masih bisa ia ikuti.

Dari Over-prepared ke Mode Survival
Sikap George menuju BNI Ciputra Golfpreneur Tournament, ajang ADT dengan hadiah uang terbesar di Indonesia, yaitu US$110.000 (sekitar Rp1,6 milyar), ini menjadi berbeda ketimbang persiapannya menjelang Indonesia Open.

”Sebelum Indonesia Open, saya mempersiapkan diri seminggu-dua minggu sebelumnya, seolah-olah masih ikut Tour. Bisa dibilang sering bermain di Pondok Indah; pulang kantor pukul 15:00 saya langsung driving, putting sampai malam. Cuma bisa dilihat hasilnya kurang bagus,” jelas George.

”Kalau kita menginginkan sesuatu dan mulai berpikir mengenai hal itu, fokusnya tidak lagi ke tiap pukulan; fokusnya sudah ke hasil yang lebih besar.”

Lalu dua pekan menjelang turnamen, ia terpapar COVID-19, yang membuatnya harus istirahat dan absen dari ajang ADT di Gunung Geulis. Bahkan ia sempat ragu untuk mengikuti turnamen ini. Meski kemudian mulai pulih dari COVID-19, George masih ragu untuk bertanding.

”Saya pikir tidak ada persiapan, masih tidak enak badan, tapi saya coba bermain hari Senin, meski mainnya di lapangan yang lain, saya menemani keponakan yang juga hendak mengikuti turnamen  junior. Lalu Selasanya sekadar latihan di sini (BSD Course) … akhirnya memutuskan ikut turnamen ini,” tutur pegolf berusia 36 tahun ini.

Dan secara mengejutkan, ia justru membuka turnamen ini dengan skor solid 3-under 69.

”Saya bilang ke istri saya kalau saya main bagus kemarin (putaran pertama). Dan dia menyampaikan kalau saya terlalu berlebihan mempersiapkan diri untuk Indonesia Open. Saya pikir mungkin benar juga. Kalau kita menginginkan sesuatu dan mulai berpikir mengenai hal itu, fokusnya tidak lagi ke tiap pukulan; fokusnya sudah ke hasil yang lebih besar. Sementara di sini (BNI Ciputra Golfpreneur Tournament) saya bermain dengan mode menyintas, yang penting selesai 18 hole.”

George masih mengulangi skor 69 itu sekali lagi untuk memastikan lolos cut. Dan meskipun pada putaran kedua hanya bermain 1-under 71 lantaran menorehkan tiga birdie dan dua bogey, ia menatap putaran final dengan mentalitas serupa.

 

George Gandranata, Round 4 BNI Ciputra Golfpreneur Tournament 2022.
Meski tak lagi sepenuhnya menjadi pegolf Tour profesional, George Gandranata masih akan mengikuti berbagai ajang kompetitif di Tanah Air. Foto: GolfinStyle.

 

Akan tetapi, ada satu hal yang kemudian memotivasinya untuk bermain lebih baik lagi pada putaran final hari Sabtu (27/8) itu.

”Kemarin (putaran ketiga) ada pengumuman dari Asian Tour bahwa pemain yang wajib mengikuti seremoni ialah pemain yang juara, pemain amatir terbaik, dan pemain profesional top Indonesia. Wah, pemain terbaik Indonesia mendapat piala? Saya pikir, piala turnamen ini keren dan saya juga mau mendapatkannya. Sudah mulai membayangkan, pialanya bagus, jadi semoga besok (putaran final) bisa main bagus,” sambung George.

Skor Personal Terbaik
Harapannya itu tampak mulai berjalan dengan mulus. Ia mencatatkan birdie di hole pertamanya, lalu menambah satu birdie lagi lewat hole 4 untuk bermain 2-under di sembilan hole pertama.

Birdie di hole 12 dan 14 membuat George bermain 4-under dalam 15 hole yang ia mainkan. Lalu mendadak di hole 17 pukulan tee-nya mengarah jauh ke kanan dan seketika itu ia membayangkan hal-hal terburuk: ”Kalau di sini kena double bogey, dari 4-under akan menjadi 2-under,” ujarnya.

Namun, keajaiban justru terjadi. Bolanya justru terpantul oleh ranting dan pepohonan sehingga hanya jatuh di rough. ”Fokus saya waktu itu hilang seketika setelah memukul, tapi, puji Tuhan, bolanya ternyata balik dan saya hanya berpikir untuk mencari par saja, menaruh bola ke kanan dan melakukan satu chip, satu putt.”

”Minggu ini tidak ada persiapan, …. Skor 12-under ini melampaui ekspektasi saya,”

Birdie di hole terakhir tak hanya memberinya skor terendahnya pada pekan itu, 5-under 67, tapi juga menempatkannya sebagai pegolf Indonesia terbaik sepanjang turnamen ini dengan skor total 12-under 276.

”Minggu ini tidak ada persiapan, tidak ada putaran latihan, tidak juga memegang club selama dua Minggu, tapi bisa main under. Saya juga kaget. Skor 12-under ini melampaui ekspektasi saya,” ujarnya.

Permainannya kali ini juga jauh melampaui turnamen ADT pertama di Indonesia, dua bulan silam di lapangan yang sama. Kala itu ia hanya bermain 73, 73, 76, dan 72 dan finis di peringkat 52.

Finis T15 di Damai Indah Golf BSD Course juga menjadi finis terbaiknya dari tiga ajang ADT yang ia ikuti tahun ini.

Grip Normal di Putter Pinjaman
Keberhasilan George pekan lalu juga tidak terlepas dari performa putting yang cemerlang. Sepanjang 72 hole ini ia mencatatkan 18 birdie dengan 6 bogey. Dan ketika membutuhkannya, ia berhasil mendapatkan birdie.

 

George Gandranata, Round 4 BNI Ciputra Golfpreneur Tournament 2022.
George Gandranata menggunakan grip normal untuk mencatatkan 18 birdie pada ajang BNI Ciputra Golfpreneur Tournament 2022. Foto: GolfinStyle.

 

Kondisi pandemi mendorong George melakukan eksperimen dan mengganti grip putting-nya dari posisi tangan menyilang menjadi grip normal (tangan kanan di bawah tangan kiri). Eksperimen iseng ini ternyata membantunya meningkatkan performa untuk lag putt.

”Jarak-jarak untuk dua putt memang berhasil dimasukkan dengan dua putt. Padahal ketika menggunakan grip tangan menyilang kadang bisa kurang, kadang bisa lewat,” jelasnya lagi.

Yang tak kalah menarik, George justru memainkan putter pinjaman. Dari Big Fish Indonesia, George mendapat pinjaman putter Sakaki dengan loft 7° yang ternyata sangat membantu performa putting-nya pekan lalu.

Meski pekan ini ia berhasil memaksimalkan kombinasi grip normal dan putter pinjaman itu, George tidak serta-merta akan mengandalkan putter asal Jepang tersebut. Baginya, ”putting tidak bisa seketika itu saja memilih menggunakan satu putter tertentu. Kita lihat saja.”

Meski mungkin tidak akan bersaing dalam tiap turnamen yang ia ikuti di Indonesia, para penggemar golf di Indonesia bakal masih dapat menemukan nama George dalam putaran-putaran final.