Hideki Matsuyama mewujudkan gelar PGA TOUR ketujuhnya dan menjawab harapan para penggemarnya pada ajang ZOZO CHAMPIONSHIP.
Hideki Matsuyama akhirnya mewujudkan kemenangan penting pada musim 2021-2022. Setelah mengalami kekecewaan lantaran gagal meraih medali pada Olimpiade Tokyo 2020, Matsuyama kembali ke negerinya untuk meraih kemenangan yang sangat ia butuhkan.
Permainannya pada putaran final hari ini praktis terlalu tangguh. Skor 65 yang ia bukukan memang bukan menjadi skor terendah pada hari Minggu (24/10) ini—Naoto Nakanishi membukukan skor 63 sebagai skor terendah putaran final—namun skor tersebut terbukti membantunya untuk meninggalkan para pesaing terdekatnya.
Perjalanannya dalam 18 hole terakhir kali ini sebenarnya terasa jauh dari harapan. Setelah hanya bermain even par di lima hole pertamanya, Matsuyama menorehkan eagle di hole 6 par 5, sebelum meraih bogey pertamanya di hole 8. Tiga birdie di hole 11, 13, dan 15 praktis membantunya memperkukuh posisinya di puncak klasemen. Dan meskipun kemudian meraih bogey keduanya di hole 17, Matsuyama berhasil menuntaskan putaran final ini dengan eagle di hole 18 par 5, yang sekaligus membuatnya memiliki kemenangan lima stroke atas Cameron Tringale dan Brendan Steele.
”Sungguh menyenangkan bisa bermain di depan begitu banyak penggemar di sini, di Jepang, dan bisa bermain dengan baik. Saya sungguh merasa sangat senang,” ujar Matsuyama.
Kemenangan ini benar-benar datang pada saat yang tepat baginya. Setelah kegagalannya pada kancah Olimpiade Tokyo 2020 pertengahan tahun ini, ia mengalami kesulitan untuk menampilkan kembali performa yang berhasil membawanya menjuarai Masters Tournament, bulan April 2021 lalu. Dalam tiga turnamen pertama yang ia ikuti pada musim 2021-2022 ini, Matsuyama hanya sekali menembus sepuluh besar, yaitu ketika finis T6 pada ajang Fortinet Championship.
Meskipun ia menegaskan bahwa konsistensi yang ia cari dan konsistensi yang dipahami sebagian besar orang berbeda, tidaklah sulit untuk memahami bahwa kemampuannya untuk bermain dengan baik dan menorehkan skor yang bisa menempatkannya dalam posisi bersaing menjadi sesuatu yang agak hilang darinya.
Konsistensi untuk bermain di bawah skor 70 itulah yang kemudian bisa kembali kita saksikan pada pekan ini. Setelah mengawali satu-satunya ajang PGA TOUR yang dilangsungkan di Jepang ini dengan skor 64, Matsuyama menorehkan dua skor 68 pada dua putaran berikutnya, untuk kemudian memastikan kemenangan dengan skor 5-under 65. Skor total 15-under 201 ini.
Tekanan dan ketegangan itu memang sulit dihindari. Jelas hanya permainan yang solid dan meyakinkan yang bisa memberinya kemenangan. Dan itulah yang ia lakukan dalam 18 hole terakhir hari ini. Bahkan ia baru bisa mulai merasa lega ketika memainkan hole terakhirnya.
Tringale, yang bermain bersama Matsuyama dalam dua putaran terakhir menyaksikan bagaimana pahlawan tuan rumah itu sangat fokus dalam permainannya.
”Saya tidak benar-benar mengetahui permainannya. Dia sepertinya sedikit kecewa hanya dengan melihat reaksinya dan pukulan-pukulannya, tapi ia masih bisa bertahan. Para penggemar menyukainya. Dia sangat fokus, dan semua usahanya itu memberinya hasil yang bagus baginya,” ujar Tringale yang harus puas berbagi tempat kedua dengan Stelee dengan skor total 10-under 270.
Kemenangan Matsuyama ini tak hanya disambut positif oleh seluruh penggemarnya. Bahkan Steele, yang berusaha memberi perlawanan sepanjang 18 hole tadi mengakuinya.
”Ya, benar-benar keren. Untuk orang-orang di sini, dia merupakan pahlawan. Sungguh luar biasa bisa melihatnya mewujudkan kemenangan untuk mereka, jadi saya pikir prestasi itu membuat turnamen ini menjadi sangat spesial,” ujar Steele yang bermain dengan skor 66 pada putaran final.
Gelar ZOZO CHAMPIONSHIP kala ini mungkin sedikit kurang ideal. Matsuyama jelas berharap Tiger Woods, yang menjuarai ajang ini pada edisi perdana tahun 2019, bisa berpartisipasi. Sayangnya, Woods masih menjalani rehabilitasi usai mengalami kecelakaan pada bulan Februari.
Gelar ini juga memberi Matsuyama gelar kedua dalam setahun, prestasi yang baru terjadi lagi setelah empat tahun silam, tatkala ia menjuarai dua gelar World Golf Championships dalam setahun.


