Rory McIlroy menjuarai THE PLAYERS untuk kedua kalinya dalam partai hari Senin kesembilan sepanjang sejarah ajang flagship PGA TOUR ini.

Tidak ada yang berharap bisa menuntaskan sebuah turnamen pada hari Senin. Namun, demikianlah yang harus terjadi setelah alam berbicara lain. Penundaan akibat cuaca buruk selama empat jam memaksa partai pamungkas antara Rory McIlroy dan J.J. Spaun harus berlanjut ke hari Senin.

Pada putaran final hari Minggu (16/3) itu, McIlroy memang tampil sebagai pemain yang layak keluar sebagai pemenang. Bermain 3-under dalam dua hole pertamanya berkat start birdie-eagle ikut menciptakan momentum. Bogey di hole 7 pun lekas ia tinggalkan dengan menciptakan tiga birdie di lima hole berikutnya. Dan ketika ia meraih bogey keduanya hari itu lewat hole 14, dan dengan empat hole tersisa, tidak ada yang menduga ia hanya bisa memainkan empat hole terakhirnya dengan even par.

Sama halnya dengan Spaun, yang memulai putaran finalnya dengan keunggulan empat stroke dari McIlroy. Dalam konteks The Stadium Course di TPC Sawgrass yang ganas pada putaran final hari Minggu itu, pegolf Amerika ini melangkah ke hole 17 par 3 yang terkenal itu dengan even par lantaran menorehkan tiga birdie dan tiga bogey dalam 16 hole. Setelah par di hole pulau green itu, pukulan approach-nya ke green hole 18 harus berhenti 9 meter dari lubang, yang memaksanya melakukan dua putt.

”Sejujurnya, saat berdiri di tee hole 16 itu pagi ini menjadi momen yang paling gugup bagi saya setelah sekian lama.” — Rory McIlroy.

Bagi McIlroy, keputusan memainkan play-off pada hari Senin, ”menjadi reset yang bagus. Sepertinya besok pagi akan bagus, jadi saya merasa bersemangat.”

Mungkin adrenalin pula yang membuatnya akhirnya terbangun pukul tiga subuh. ”Saya merasa gugup,” akunya kemudian. ”Saya tidak menuntaskannya semalam dan saya benar-benar ingin (menyelesaikannya). Saya berharap menang juga. Semua ini menciptakan tekanan tersendiri. Namun, rasanya saya menangani semuanya dan menangani kegugupan itu dengan baik.”

McIlroy memang menanganinya dengan baik. Pada hari Senin itu, ia melangkah ke hole 16 untuk memainkan rangkaian tiga hole play-off—hole 16, 17, dan 18. Aturan mainnya, jika keduanya masih bermain imbang dalam tiga hole ini, akan dilakukan play-off penentuan dengan urutan hole 17, 18, dan 16, lalu kembali dengan urutan demikian sampai pemenangnya ditentukan.

”Sejujurnya, saat berdiri di tee hole 16 itu pagi ini menjadi momen yang paling gugup bagi saya setelah sekian lama,” ujar McIlroy.

Memang yang menjadi pembeda bagi para pegolf kelas dunia ialah cara mereka menangani kegugupan itu. McIlroy menanganinya dengan baik, seperti yang ia kemukakan, dan menciptakan birdie untuk memegang keunggulan dari Spaun yang hanya memainkan par di hole 16 itu.

”Sulit mempercayai pukulan itu ternyata jauh. Saya kira memang saya saja yang kurang beruntung.” — J.J. Spaun.

Kemudian, ia melakukan tiga per empat swing dengan 9-iron miliknya untuk mencapai green. Meskipun ia kemudian harus melakukan tiga putt, bogey di sana juga masih memperkukuh keunggulannya setelah pukulan 8-iron milik Spaun justru melewati green dan masuk air sehingga pegolf Amerika ini menciptakan double bogey.

Lalu ketika McIlroy menutup hole play-off ketiga itu dengan bogey, tuntaslah sudah harapan Spaun untuk mewujudkan kemenangan ketiga dalam kariernya.

”Saya tidak pernah memikirkan nomor lain selain 8-iron. Kami pemanasan dengan TrackMan pagi ini dan mendapat arah yang mirip dan menyetel pukulan yang akan saya mainkan jika harus memukul melawan angin dan mencapai jarak pukul yang kami butuhkan,” tutur Spaun.

”Saya mengambil 8-iron itu, dan bahkan setelah Rory memukul 9-iron, dia memukul satu club lebih panjang daripada saya. Entahkah saya memukul terlalu bagus, tapi bolanya menembus angin. Saya bahkan tidak yakin ke mana bolanya. … Namun, pukulan itu bagus. Mungkin 1,8-2 meter ke kiri pin, pukulan yang sempurna kalau saja jarak pukulnya benar. Sulit mempercayai pukulan itu ternyata jauh. Saya kira memang saya saja yang kurang beruntung.”

Sama-sama melatih dan membayangkan pukulan yang akan dihadapi di hole 17 par 3 itu, namun hasilnya bisa berbeda. McIlroy uga menggunakan TrackMan untuk melakukan simulasi yang ia butuhkan. ”Pukulan 9-iron saya bisa mencapai 135 meter dengan swing tiga per empat, tapi dengan angin pukulan saya akan menjadi sekitar 119 meter, jarak yang sangat saya inginkan untuk memukul ke green 17 itu. Jadi, bahkan sebelum berada di sana, saya sudah tahu itulah pukulan yang ingin saya lakukan,” jelas McIlroy.

 

Rico Hoey, Round 4 THE PLAYERS Championship 2025.
Pegolf Filipina Rico Hoey menjadi wakil Asia terbaik yang finis di posisi T33 dengan skor total 286. Foto: Getty Images.

 

Bagi McIlroy, banyak kisah di balik kemenangan kali ini. Jika menarik jauh ke debutnya tahun 2009 silam, ia mengaku kalau The Stadium Course bukanlah jenis lapangan ideal buat permainannya. Seiring waktu, ”saya belajar untuk bermain di lapangan ini dan beradaptasi dengan permainan saya.”

Sejak 2009 itu, McIlroy baru bisa meraih kemenangan pertamanya sepuluh tahun kemudian. Lalu enam tahun setelah itu, pada hari Senin (17/3) kemarin ia sukses meraih kemenangan keduanya.

Media sosial juga ramai membicarakan bagaimana McIlroy mengeluarkan uang hampir US$1.000 untuk membawa perangkat lamanya ke TPC Sawgrass. Ia menolak berkomentar soal hal ini, tapi bisa dibilang bahwa ia merasa lebih nyaman memainkan perangkat lamanya di lapangan yang sangat menantang itu.

Bagaimanapun juga, kini McIlroy menjadi salah satu dari hanya delapan pegolf yang memenangkan THE PLAYERS lebih dari sekali dalam penampilannya yang ke-15. Ia mengikuti jejak Jack Nicklaus (1974, 1976, 1978), Hal Sutton (1983, 2000), Fred Couples (1984, 1986), Steve Elkington (1991, 1997), Davis Love III (1992, 2003), Tiger Woods (2001, 2013), dan Scottie Scheffler (2023, 2024).

Sementara itu, pegolf Filipina Rico Hoey menjadi wakil Asia terbaik dalam gelaran THE PLAYERS edisi ke-51 ini. Ia membukukan skor 73-69-78-66 untuk finis di posisi T33 dengan skor total 2-under 286.