Kemenangan Rory Hie di Karawang bulan September 2023 lalu meringankan langkah, sekaligus menegaskan kualitas permainan yang membuat siapa pun mengaguminya!
Pertengahan September 2023 lalu Rory Hie merengkuh gelar profesional pertamanya sejak menciptakan sejarah penting dengan kemenangan pertamanya di sirkuit Asian Tour. Meskipun nilainya mungkin tidak sebanding dengan pencapaiannya di India tahun 2019 silam, trofi di Karawang bulan lalu itu memberi arti yang tak kalah signifikan bagi kariernya.
Meraih kemenangan tidaklah mudah. Ketika menciptakan sejarah pada ajang Classic Golf and Country Club International Championship, tidak ada yang mengira bahwa ia harus mengalami masa-masa sulit. Cedera turut menghambat potensinya untuk kembali bersinar. Tidak ada juga yang memprediksi bahwa ia butuh empat tahun untuk bisa mengakhiri puasa gelarnya.
Rory tiba di Palm Springs Golf and Country Club Karawang dalam posisi yang cukup memprihatinkan. Peringkatnya yang berada di luar 12 besar pada daftar Order of Merit Professional Golf Association of Indonesia (PGATI) membuatnya membutuhkan serangkaian hasil yang solid jika ingin bisa mengikuti Indonesian Masters, ajang golf terbesar di Indonesia dengan taruhan yang sangat besar.
Uniknya, penampilannya pada semester pertama 2023 sebenarnya tidak terlalu buruk. Sampai seri ke-7 ia telah empat kali finis di sepuluh besar dengan T12 sebagai posisi terburuknya—Rory absen dari seri 1.
”Tahun ini permainan saya tidak begitu jelek, tapi tidak bisa finis dengan bagus, selalu sepuluh besar, tapi tidak pernah sampai tiga besar,” tutur Rory.

Upayanya untuk bisa kembali bersaing bisa dibilang mengalami titik balik setelah mulai berlatih dengan Chris Connell, pelatih yang juga bertanggung jawab di balik bersinarnya Jonathan Wijono dan Inez Wanamarta. Entah bagaimana penjelasan yang disampaikan Chris kepada Rory melekat dan diam-diam ada perkembangan yang terjadi.
”Saya ke Malaysia selama tiga hari setelah dari ADT di Thailand (ADT-All Thailand Partnership Trophy dan Singha Pattaya Open pada bulan Juli 2023) karena pada saat itu saya tidak tahu kenapa pukulannya nge-hook terus dan tidak jelas mesti bagaimana,” jelas Rory lagi.
”Dia menjelaskan blue print-nya seperti apa yang harus saya lakukan di swing untuk mengembalikan pukulan supaya lebih lurus.”
Tidak ada hasil yang instan. Ketika tampil pada Indonesia Open bulan Agustus 2023 lalu, Rory gagal melangkah ke putaran akhir pekan. Namun, itulah bagian dari proses yang ia jalani.
Ketika tampil di Karawang permainannya pada hari pertama bahkan sempat ia awali dengan memprihatinkan. Bogey di hole 13—ia memulai hari pertama dari hole 10—dan triple bogey di hole 18 membuat langkahnya berat. Namun, ia tidak menyerah sampai di situ. Dua birdie di hole 4 an 5 menyelamatkan skornya.

Rory masih harus kembali menorehkan skor 73 pada putaran kedua. Tidak lagi ada triple bogey di kartu skornya, sebaliknya ia berhasil mengemas tiga birdie, meski menorehkan empat bogey.
Bermain di lapangan yang relatif jarang memberikan ujian bagi para pegolf profesional membuat skor terendah pada putaran kedua hanya diciptakan Benita Yuniarto Kasiadi dan Indra Hermawan, yang sama-sama menorehkan skor 69. Adapun Moch. Seandy Alfaraby, yang sempat berbagi puncak klasemen hari pertama bersama Syukrizal harus mencatatkan skor 75. Adapun Rory masih menjaga peluangnya dengan terpaut tiga stroke dari Syukrizal.
Berkaca pada dua putaran itu, Rory memilih berusaha meminimalisasi kesalahan pada putaran final. ”Saya kira kalau bisa main di bawah par, 2-under, 3-under masih ada peluang untuk setidaknya menakut-nakuti pemain yang ada di atas saya, siapa tahu ada yang turun,” tuturnya.
Bermain di belakang grup terakhir, bogey di hole 3 itu seakan menjadi pemicu untuk sejumlah birdie pada hari terakhir. Dua birdie, di hole 4 dan 5, membuatnya bermain 1-under hingga hole 8.
Upayanya untuk meminimalisasi kesalahan tampak menghadapi kendala ketika di hole 9 pukulan tee-nya justru berakhir di belakang pohon dengan akar-akarnya yang turut menyulitkan. Namun, di sini ia menunjukkan kualitas dan ketenangannya. Ia berhasil mengembalikan bola ke fairway, mengantarkan bola ke green, dan menyelamatkan par.

Hingga sembilan hole pertama, praktis ia bersaing dengan pegolf amatir Dana dan Syukrizal. Ketiganya sama-sama menuai 1-under dalam sembilan hole. Namun, tiga bogey berturut-turut dari hole 13 memupus harapan Syukrizal untuk memenangkan gelar Indonesian Tourism Golf Pro Series (ITGPS) keduanya.
Dana, yang namanya mencuat, di antaranya, dengan menjuarai Olympic Jabar Amateur Open 2018, juga tampil luar biasa. Bermain di lapangan yang sudah sangat ia kenal membuatnya memahami area permainan dengan baik. Sayangnya, meskipun memulai putaran final dengan unggul satu stroke dan menciptakan banyak birdie pada hari terakhir, ia juga mendapat banyak bogey. Tujuh birdie tercatat di kartu skornya, namun ia juga menuai lima bogey yang akhirnya membuatnya gagal menjadi pegolf amatir kedua yang menjuarai ITGPS setelah Kentaro Nanayama.
Namun, kelihaian Rory dalam membaca situasi dan mengeksekusi pukulan yang tajam pada saat-saat yang penting juga menjadi kunci dari kemenangannya.
Memasuki hole terakhir, di mana ia sudah bermain 2-under menyusul birdie di hole 13, pukulan keduanya justru mampir ke sisi kanan, jauh meleset dari green. Ia kemudian memanfaatkan kelonggaran peraturan, di mana pemain diperbolehkan menggunakan buggy, untuk melihat posisi bolanya dan mengukur jarak ke green.
”Bola saya sebenarnya di belakang pohon sudah tidak ada peluang untuk ke green, tapi saya pikir skor saya lumayan bagus, 2-under. Kalau bisa mendapat par, masih ada peluang lumayan bagus buat saya, jadi bagaimana bisa mengurangi risiko yang paling besar. Lalu saya ke sana (posisi bola dengan menggunakan buggy, saya lihat kalau lapangan yang di kanan itu masih membuka jalan dan masih bisa melakukan pukulan dengan mudah dari situ,” jelas Rory.

Bukan par, melainkan birdie yang ia ciptakan. Dari berada di luar posisi, ia malah berhasil mengantarkan bola ke green. Setelah Dana gagal melakukan chip-in dan gagal memasukkan putt birdie, Rory pun memanfaatkan peluang tersebut dengan menggulirkan putt birdie yang memberinya kemenangan pertama sejak 2019.
”Menurut saya sih yakin kalau putting hari ini lagi bagus, jadi ini seperti tipe putt yang sejauh saya percaya sama jalurnya ke situ, ya sudah percaya saja dan lihat apa yang terjadi, dan ternyata memang masuk,” sambung Rory.
Trofi di Karawang ini turut melambungkan posisi Rory ke zona aman. Dengan tren permainan yang terus positif, di mana ia menuntaskan Seri 15 di peringkat kedua, di belakang Kevin Caesario Akbar, ia melangkah ke Seri 16 dengan menempati posisi 7 pada daftar Order of Merit.
Akan tetapi, yang tak kalah penting lagi ialah bahwa kemenangan ini menjadi ”sesuatu yang lebih mengonfirmasi bahwa saya ada di jalur yang tepat daripada sebelum-sebelumnya,” tegas Rory.
Kini ia hanya perlu berpegang pada blue print yang ditinggal Chris untuk mengakhiri tahun 2023 dengan meyakinkan.

RORY HIE PADA ITGPS
Seri 1 Gading Raya: ABSEN
Seri 2 Jababeka: #8, 69-73-70, 4-under 212
Seri 3 Pondok Cabe: T12, 75-74-72, 5-over 221
Seri 4 DIG BSD: T6, 71-77-70, 2-over 218
Seri 5 Taman Dayu: #12, 74-73-74, 5-over 221
Seri 6 Bukit Darmo: #8, 68-72-70, even par 210
Seri 7 Modern: T5, 71-67-74, 4-under 212
Seri 8 Jatinangor: ABSEN
Seri 9 DIG PIK: ABSEN
Seri 10 Labersa: ABSEN
Seri 11 Riverside: T9, 76-68-76, 4-over 220
Seri 12 Rawamangun: T6, 72-73-72, 4-over 217
Seri 13 Bali National: T9, 75-76-75, 13-over 226
Seri 14 Karawang: #1, 73-73-68, 2-under 214
Seri 15 Royale Jakarta: #2, 67-76-72, 1-under 215

