Mengapa kemenangannya pada HSBC Women’s World Championship di Singapura hari Minggu (5/3) lalu menjadi kemenangan terpenting bagi Ko Jinyoung?
Tahun lalu, Ko Jinyoung menuju Singapura dengan catatan fantastis. Ia telah memenangkan lima dari sembilan turnamen terakhir yang ia ikuti. Dan ketika meraih gelar LPGA ke-13 dalam kariernya lewat kemenangannya pada HSBC Women’s World Championship tahun 2022 itu, Ko menorehkan rekor baru. Skor 66 pada putaran final kala itu membuatnya menorehkan skor 60-an dalam 15 putaran secara berturut-turut, sebuah rekor dalam sejarah LPGA. Skor tersebut juga menjadi putaran ke-30 secara beruntun di mana ia bisa ia bermain under.
Tatkala publik mengira ia akan meneruskan dominasinya sepanjang musim 2022 itu, ketika itu pula permainannya seakan mulai meninggalkannya. Ia memang masih melanjutkan permainan prima ke ajang JTBC Classic presented by Barbasol dan menorehkan finis T4, namun secara mengejutkan bermain over pada ajang Major pertama tahun 2022, The Chevron Championship.
Satu kemenangan, satu kali finis di tempat kedua, dua kali masuk lima besar, serta sekali finis di sepuluh besar, dua kali gagal lolos cut, dan sekali harus mengundurkan diri akibat cedera, jelas sulit menilai musim itu sebagai musim yang buruk. Namun, ketika Anda menjadi pegolf No.1 Dunia dan mendapat sorotan publik, plus dengan pribadi yang perfeksionis, jelas tekanan pun bertambah.
Posisi No.1 Dunia itu pun akhirnya terlepas dari Ko. Finis T30 pada KPMG Women’s PGA Championship membuatnya harus merelakan takhta Rolex Women’s World Golf Ranking kepada Nelly Korda pada bulan Juni 2022 itu. Setelah finis di sepuluh besar pada Amundi Evian Championship dan T71 di Skotlandia, Ko harus gagal lolos cut berturut-turut dalam dua turnamen berikutnya, mengundurkan diri dari BMW Ladies Championship dan kembali gagal lolos cut pada turnamen berikutnya, sebelum akhirnya menutup musim 2022 dengan berada di posisi T33 pada CME Group Tour Championship.
Dalam berbagai dinamika pasang surut tersebut, Ko melangkah ke Singapura, ke tempat yang memberinya kemenangan terakhirnya di kancah LPGA. Sempat bermain even par 72 pada putaran pertama, pegolf yang kini berusia 27 tahun itu mengemas dua skor 65 dalam dua putaran berikutnya untuk berada di puncak klasemen. Lalu ketika pada putaran final ia menorehkan empat birdie dan sebuah bogey, ia tak hanya menyamai catatan skor total 17-under 271 yang ia bukukan setahun yang lalu, tapi juga berhasil meraih kemenangan dan menjadi pegolf pertama yang mampu mempertahankan gelarnya pada HSBC Women’s World Championship.
Dengan tekanan dan perjuangan berat yang ia alami, khususnya pada semester kedua 2022 itu, tidaklah mengherankan jika kemudian ia mencurahkan emosinya di green 18 itu. Dalam suasana yang masih gerimis di Sentosa Golf Club, David Brooker, kedi berpengalaman yang ikut menemani Lorena Ochoa menjadi salah satu legenda LPGA, dan mulai menjadi kedi bagi Ko sejak 2019, memeluk sang majikan yang akhirnya kembali merayakan kemenangan.
”Ini kemenangan yang paling penting sebab saya mengalami tahun yang berat tahun lalu, dan saya berjuang dengan cedera, permainan dan kondisi mental yang tidak begitu bagus, dan kemudian saya bisa menang pekan ini. Jadi, kemenangan ini menjadi yang lebih penting buat saya dan akan menjadi momentum yang besar dalam hidup saya,” tutur Ko.
Periode ini seakan hendak mengingatkan kita lagi pada kekecewaannya pada Olimpiade Tokyo yang digelar tahun 2021 silam. Gagal mencapai prestasi di panggung olahraga terbesar di dunia itu, ia memutuskan mendedikasikan dirinya berlatih keras sebelum akhirnya bisa menciptakan rekor skor 60-an LPGA.
Hal serupa terjadi tatkala pada akhir musim 2022 itu ia memutuskan untuk berfokus memperbaiki permainan dan mentalnya. Ia menghabiskan waktu di Vietnam berlatih dengan pelatih swing-nya. Ia juga kembali berlatih dengan pelatih lamanya untuk memperbaiki permainannya. Meditasi juga menjadi rutinitas yang mewarnai kesehariannya.
”Biasanya setelah akhir musim saya mengambil jeda, sebulan atau tiga minggu, tapi setelah akhir musim lalu saya pergi ke Vietnam pada musim dingin, menghabiskan waktu dengan pelatih dan pelatih swing saya. Saya melatih swing, pastinya, dan secara fisik dan mental saya juga merasa lelah (setelah musim 2022), jadi saya sadar kalau saya mencari tahu tempat untuk melakukan meditasi yang baik, dan saya mendapatinya,” jelas putri dari mantan petinju Ko Sungtae dan Kim Miyoung ini.
”Sekarang saya melakukan meditasi tiap pagi, tiap malam, berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dan pegolf profesional yang baik juga. Saya berlatih keras dalam meditasi dan berlatih golf.

”Jadi, saya memperoleh rasa percaya diri yang besar dengan pelatih swing saya, dan saya juga melatih permainan saya dengan pelatih lama saya lagi. Saya pikir mereka menjadi kombinasi yang sangat baik, dan saya ingin berterima kasih kepada pelatih dan orangtua saya.”
Ko jelas patut bersyukur pada banyak hal yang ada di sekitarnya. Sosok ibunya yang kerap menjadi tempatnya berkeluh kesah, imannya yang teguh, yang kerap membantunya untuk terus fokus melakoni tugasnya. Dan entah bagaimana perfeksionisme yang membungkus semua nilai yang membantunya bertumbuh itu seakan ikut membantunya untuk kembali tersenyum dengan trofi dari turnamen yang kerap disebut sebagai ajang Major Asia ini.
Lalu pada putaran final itu, mentalitasnya juga tak hentinya menghadapi ujian. Bermain dengan Nelly Korda yang sanggup memukul jauh, cuaca buruk yang memaksa putaran final dihentikan selama sekitar sejam, ia masih tetap sanggup tampil lebih baik. Dan meskipun harus menuai bogey di hole 11, yang menjadi bogey keenamnya sepanjang pekan, ia masih bisa bangkit dengan birdie di hole 13, sebelum mengamankan par di lima hole terakhirnya dan memenangkan gelar LPGA ke-14 dalam kariernya ini.
”Saya punya keunggulan satu stroke dalam 15 atau 16 hole. Saya tahu Nelly mengejar saya. Saya pikir selisih kami cuma satu atau dua stroke, jadi memang sangat dekat. Namun, setelah jeda, saya istirahat di restoran dan melihat TV dan papan klasemen, dan ternyata saya unggul tiga stroke. Namun, masih ada dua hole tersisa, jadi saya mencoba untuk bermain aman. Cuma sangatlah sulit untuk membuat par di hole 17, 18!” jelasnya.
Meski berhasil mencatatkan birdie di hole terakhir, Korda harus mengakui ketangguhan pegolf Korea itu dan harus puas kembali berada di tempat kedua.
Namun, pegolf Amerika ini bukan tanpa catatan mengagumkan. Tampil untuk pertama kalinya sejak 2019, Korda menjadi satu-satunya pegolf yang bermain dengan skor 60-an sepanjang pekan yang basah di Tanjong Course, Sentosa Golf Club itu.

