Apa yang menjadi kunci keberhasilan Shiho Kuwaki mengikuti jejak Miyu Yamashita dalam menjuarai AIG Women’s Open 2026? Seperti apa masa depan Paula Martin Sampedro usai kembali menjuarai Smyth Salver sebagai amatir terbaik?
Drama pada putaran final AIG Women’s Open 2026 yang terjadi pada hari Minggu (2/8) lalu rasanya menjadi klimaks yang sangat ideal. Persis dalam gelaran ke-50, dua hole play-off yang sangat dramatis menjadi parade yang tepat untuk sebuah perayaan yang menegaskan Asia sebagai salah satu kekuatan global pada ajang Major terakhir tahun ini.
Meski berusaha terlihat santai, ketegangan sekilas terlihat di wajah Shiho Kuwaki ketika ia menunggu grup terakhir menuntaskan permainan regular di Royal Lytham & St Annes. Tak lama Ester Henseleit dari Jerman melesakkan birdie dari jarak jauh di hole 18 untuk memaksakan hole tambahan. Baik Kuwaki,maupun Henseleit sama-sama bermain 1-under 70 pada putaran final itu, dan menorehkan skor total 5-under 279.
Tidak ada yang bisa benar-benar menebak babak pamungkas ini. Apalagi sejak awal putaran final, Yealimi Noh memiliki modal tiga stroke. Seiring dengan pudarnya harapan pegolf Amerika tersebut, dimulai dari bogey di hole 12 serta kegagalannya dalam menambah koleksi birdie di empat hole terakhirnya, Kuwaki dan Henseleit menyuguhkan pertunjukan terakhir hingga petang hari.
Lalu apa yang membuat Kuwaki akhirnya bisa melanjutkan tongkat estafet Yamashita dan menjadi pegolf Jepang keempat yang menjuarai AIG Women’s Open?

Kuwaki bukanlah pemain putter terbaik pekan itu. Permainan terbaiknya tercipta pada putaran pertama ketika ia melakukan total 27 putt, namun melakukan 34 putt pada putaran kedua dan ketiga, dan 32 putt pada putaran final. Dengan rata-rata 31,75 putt per putaran dan 1,76 putt per hole dalam empat hari, ia hanya menduduki posisi T57.
Akan tetap, Kuwaki menjadi salah satu yang pemain paling akurat dalam melakukan pukulan dari tee, serta menjadi yang terbaik untuk urusan approach ke green.
Sepanjang 72 hole di Royal Lytham & St Annes, Kuwaki menempati posisi T3 untuk pukulan tee dengan mencatatkan rata-rata 11,0 fairway hit per putaran atau 79%. Ia memukul ke 11 fairway pada putaran pertama, 12 fairway pada putaran kedua dan ketiga, meskipun hanya memukul ke 9 fairway pada hari terakhir.
Menariknya, meskipun pada putaran final ia hanya memukul ke 9 fairway, akurasi pukulan approach-nya pada putaran final justru lebih tajam, mencapai 15 green in regulation atau 83% atau satu green lebih baik daripada pada putaran kedua ketika mencatatkan 16 green in regulation. Dengan rata-rata 14,5 green in regulation per putaran atau 81% Kuwaki menempati posisi teratas untuk kategori green in regulation.
Alhasil, pegolf berusia 23 tahun ini mengemas 15 birdie dengan 10 bogey untuk mematok skor terendah, sampai Henseleit memaksakan play-off.

Pada babak play-off itu, Kuwaki juga tampil solid. Keputusannya untuk melakukan lay up setelah pukulan tee-nya masuk ke semak-semak di hole play-off pertama juga menjadi langkah yang tepat. Kegagalan Henseleit melakukan putt birdie, plus kecelakaan yang dialami pegolf Jerman tersebut usai pukulan tee-nya meleset, mengenai seorang marshal dan terpental ke bawah semak-semak turut menjadi faktor penentu.
Bagi Kuwaki dan Jepang, kemenangan ini menjadi pencapaian yang patut dirayakan bersama. Menariknya lagi, Hinako Shibuno, juara edisi 2019, menjadi yang pertama menyambut Kuwaki usai melesakkan putt kemenangan tersebut. Keduanya memang punya kedekatan, sama-sama berasal dari Okayama.
”Bahkan sejak ketika saya masih duduk di sekolah menengah atas, dia (Shibuno) selalu dan terus mendukung. Dia selalu mengobrol dengan saya kapan pun kami bertanding di luar negeri dan mengikuti sebuah turnamen bersama-sama. Bahkan sebelum hari ini (putaran final), dia mengirimi pesan mendoakan agar saya bisa bermain dengan baik. Keberadaannya seperti kakak sendiri dan ini sangatlah luar biasa dan saya sungguh berterima kasih,” tutur Kuwaki.
Sukses beruntun bagi Paula Martin Sampedro
Hingga putaran kedua, Paula Martin Sampedro sempat memosisikan dirinya bersaing di jajaran atas. Meskipun akurasi dari tee dan approach dalam dua putaran pertama tidak superior—masing-masing berada di posisi T55 dan T56, mewakili 58% fairway hit dan 61% green in regulation—kualitas putting yang jitu menempatkannya di posisi T4 pada akhir putaran kedua, di mana ia mencatatkan 27 putt per putaran.

Memasuki dua putaran terakhir, Martin Sampedro berhasil memperbaiki akurasinya pukulan tee dan approach-nya.
Pada tiap putaran terakhir itu, peraih Smyth Salver 2025 ini mengantarkan pukulan tee-nya ke 10 fairway dan menutup pekan Istimewa itu dengan catatan 9,8 fairway per putaran (70%) dan menempati peringkat T21.
Kualitas pukulan approach-nya sempat membaik pada hari ketiga dengan mencatatkan 14 GIR (78%). Sayangnya, pada putaran final ia hanya mencatatkan 11 GIR (61%) sehingga total mencatatkan 11,8 GIR per putaran.
Akurasi approach yang kurang prima, Martin Sampedro akhirnya harus melakukan 31 putt pada putaran final untuk skor 1-over 72. Alhasil, dengan rata-rata 30,25 putt per putaran atau 1,68 putt per hole sepanjang 72 hole, pegolf Spanyol ini menempati posisi T30 untuk urusan putting.
Kualitas pukulan tee dan approach Martin Sampedro sedikit lebih superior daripada Yang Yunseo (peringkat 65 untuk fairway hit, yaitu 6,5 fairway hit per putaran; dan T46 untuk GIR, yaitu 11,8 GIR per putaran).

”Saya belajar banyak. Melihat posisi saya di jajaran atas menuju akhir pekan tentu menjadi sebuah tantangan dan pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, jadi saya senang bisa mendapat kesempatan mengikuti kejuaraan Major lagi,” jelas Martin Sampedro.
”Lapangan ini jelas menuntut banyak hal, …. Sudah jelas banyak pelajaran yang bisa saya raih dan semoga bisa memaksimalkannya lagi pada masa yang akan datang.”
Jalan menuju profesional mungkin terbuka lebar di hadapannya. Namun, pegolf Spanyol ini bertekad melanjutkan kiprahnya di kancah NCAA.
”Sepertinya saya akan rehat dulu sampai kembali kuliah bulan September ini,” tandasnya.
Bagi Yang, penampilannya pada akhir pekan jelas mengecewakan, mengingat ia bisa memukau pada The Chevron Championship. Toh remaja asal Korea ini sejak awal menegaskan bahwa ”Bisa bermain selama empat putaran dalam tiga kejuaraan Major merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Tentu sangat bagus kalau bisa meraih predikat amatir terbaik, tapi kalau ada yang main lebih baik, tentu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa berusaha sebaik mungkin.”

