Ketika Hideki Matsuyama berharap mengonversi prestasinya menjuarai Jaket Hijau menjadi medali emas pada Olimpiade Tokyo, sejumlah rekan profesionalnya membagikan sisi lain yang tak banyak diketahui orang.
Ada citra diri yang berbeda yang melingkupi sosok Hideki Matsuyama. Sebagai sosok yang menjadi bahan pembicaraan sepanjang tahun dan memiliki ciri yang sangat kentara, pegolf Jepang ini lebih menggambarkan dirinya sebagai sesosok yang penuh misteri dan jarang berbicara.
Ketika ia bertanding di lapangan pada berbagai ajang PGA TOUR, konsentrasinya mencapai 100% demi mengejar kesempurnaan dan keabadian dalam olahraga golf. Ia menjadi satu dari sedikit pemain yang bakal menghuni area latihan dari pagi sampai petang.
Pegolf berusia 29 tahun, yang menjadi harapan emas bagi kompetisi golf pria pada Olimpiade Tokyo ini sangat memahami tugas dan tanggung jawabnya kepada para penggemar dan negaranya. Ia secara rutin terlihat menjalani wawancara dengan sekerumunan media Jepang setelah menyelesaikan tiap putaran, entah ketika ia baru saja membukukan skor 66 atau 75 hanya supaya perkembangannya bisa diwartakan di negerinya.
Toh Matsuyama masih menyimpan kepribadiannya erat-erat bagi dirinya sendiri. Sikap privasinya ini sudah dikenal, dan bahkan mengejuutkan media ketika pada tahun 2017 mengumumkan bahwa ia dan istrinya telah menyambut bayi pertama mereka. Bahkan kala itu tak banyak yang sadar bahwa ia telah menikah. ”Tak ada juga yang menanyakannya kepada saya,” ujar Matsuyama dengan menyesal.
Meski demikian, bagi mereka yang mengenalnya, Matsuyama merupakan sosok yang lucu, penuh perhratian, dan rendah hati, meskipun ia telah mengumpulkan enam gelar PGA TOUR hingga saat ini, termasuk kemenangan bersejarahnya pada Masters Tournament bulan April lalu, yang menjadikannya sebagai pegolf pria pertama yang menjuarai Major.
Pegolf Australia Marc Leishman, yang telah memainkan sejumlah pertandingan Tim Internasional bersama Matsuyama pada Presidents Cup, menyebutkan pegolf Jepang itu memiliki selera humor. ”Dia suka tertawa. Jika bisa mengobrol dengannya, dia akan senang jika Anda mengatakan hal-hal yang membuatnya tertawa dan dia juga sedikit mengerti bahasa Inggris. Jelas dia lebih mengetahui bahasa Inggris ketimbang saya mengetahui bahasa Jepang. Dia seorang yang sangat menjaga privasinya, tapi juga punya selera humor yang baik,” ujar Leishman, yang juga akan bertanding pada Olimpiade akhir bulan ini.

”Ketika turnamen ZOZO dilangsungkan di Jepang (tahun 2019), kami makan malam bersama di salah satu restoran favoritnya. Ia memesankan makanan bagi kami. Saya ingat ia memesan sesuatu yang saya pikir merupakan sedikit gurauan ke saya. Saya bilang saya akan makan apa saja. Dan dia memesan beberapa daging sapi mentah dan menaruh telur mentah di atasnya. Cuma telur ceplok yang membuatnya sangat menarik. Semua orang tertawa di ruangan itu. Hal-hal seperti itulah yang ia lakukan, gurauan praktis yang mendadak. Saya menjadi korbannya.”
Cameron Smith, pegolf Australia lain yang juga menjadi rekan Tim Internasional pada tahun 2019, mengungkapkan hal yang senada dengan Leishman. Ia menyebut Matsuyama sebagai pribadi yang tak selalu serius dan fokus, seperti yang banyak orang kira dengan pembawaannya yang serius dan tampak tabah. ”Dia sangat lucu. Jika bisa mengenalnya, meskipun kami memiliki batasan bahasa, dia sangat cerdas. Dia berada di lapangan dan akan mengerjai Anda. Hideki jelas lebih riang daripada yang kadang menjadi pandangan orang,” tutur Smith.
Pegolf China Taipei C.T. Pan yang juga menjadi rekan Matsuyama untuk memastikan dua kemenangan pada sesi Fourball menghadapi Patrick Reed dan Webb Simpson pada tahun 2019 itu juga menyebutkan rekannya itu membantu mengurangi kegugupan dengan menunjukkan sikapnya yang lebih riang. ”Dia cukup lucu. Pada partai yang kami mainkan, ia sangat serius, tapi pada saat yang sama ia juga berusaha meringankan suasana. Saya pikir ia tahu mesti melakukan apa karena dia terbilang cukup veteran, tapi secara umum dia sosok yang lucu,” ujar Pan.
Ketika Webb Simpson terbang ke Jepang untuk mengikuti turnamen di sana beberapa tahun silam, Matsuyama memesan seluruh restoran untuk menjamu pemegang tujuh gelar PGA TOUR itu untuk makan. Pegolf Amerika ini juga mengagumi bagaimana Matsuyama memperlakukan ketenaran dan tekanan yang ia usung sejak tampil di panggung besar, menyusul kemenangan perdananya pada Memorial Tournament presented by Workday tahun 2014 silam.
”Kami selalu memakan sushi. Ketika saya bermain pada Dunlop Phoenix, ia mengundang saya makan malam, dan memesan seluruh restoran untuk saya. Ia memesan buat saya. Pesanannya itu lebih merupakan sushi yang mentah, dari mulanya hidup lalu dimatikan dan kami langsung memakannya. Tidak ada tempura udang, tapi kami menikmati momen itu,” ujar Simpson sambil tertawa.
”Saya pikir ia memiliki perilaku yang luar biasa. Sepertinya ia menangani tekanan dengan sangat baik. Saya pikir istri dan anaknya di rumah, dan saya tahu hal seperti itu sunugguh berat. Ia memilih kariernya pada PGA TOUR, dan ia punya sikap yang rendah hati. Saya pikir di Jepang sana ia merupakan pemain bintang yang besar, tapi ada kerendahan hati dalam dirinya, yang sungguh mengagumkan melihat bagaimana seseorang bisa mendapatkan perhatian sebanyak itu. Ia menanganinya dengan baik.”
”Ia telah memberi kami mimpi yang besar. … Hanya karena prestasinya, jumlah pegolf junior yang ingin menjadi Hideki berikutnya juga pasti akan meningkat.” — Shigeki Maruyama.
Kompetisi golf pria yang akan dimulai pada 29 Juli di Kasumigaseki Country Club. Lapangan ini menjadi tempat di mana Matsuyama mengangkat trofi pertama dari dua kemenangan Asia-Pacific Amateur Championship-nya. Di lapangan ini pulalah ia meraih gelar juniornya di Jepang. Tidaklah mengherankan jika harapana negaranya kini berada di pundaknya.
Shigeki Maruyama, pemegang tiga gelar PGA TOUR dan menjadi pelatih Jepang untuk Olimpiade meyakini momentum baru negaranya untuk pertumbuhan golf akan meningkat berkali-kali lipat jika Matsuyama meraih medali emas menyusul euforia Masters. ”Efek ekonominya akan sangat besar. Seharusnya, kami tidak menempatkan beban yang terlalu berat di bahunya, tapi Matsuyama jelas sudah tumbuh ke level tersebut. Semua orang bangga akan pencapaiannya. Semua orang di Jepang akan terus menaruh harapan yang tinggi, meskipun bebannya besar baginya,” ujar Maruyama.
”Ia telah memberi kami mimpi yang besar. Seperti itulah menurut saya. Jepang mengalami ledakan golf saat ini. Hanya karena prestasinya, jumlah pegolf junior yang ingin menjadi Hideki berikutnya juga pasti akan meningkat.”
Matsuyama sadar bahwa sorotan itu akan terus diarahkan kepadanya ketika ia bersiap melakukan pukulan pertamanya di Kasumigaseki Country Club dari 29 Juli-1 Agustus mendatang. Dan ia berharap terus menjadi modela anutan bagi anak-anak muda. ”Pergi dan memenangkan medali emas,” ujarnya.
”Itulah target saya dan saya akan melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Saya masih memiliki peranan aktif, mungkin untuk 10 atau 15 tahun lagi dan saya ingin melakukan yang terbaik sebagai contoh dan teladan bagi seluruh anak dan para pegolf muda.”
Dari mengenakan Jaket Hijau Masters pada bulan April, seluruh negara kini berharap menyaksikan apakah Matsuyama, dengan seluruh keseriusannya, bisa melanjutkan prestasinya dengan meraih medali emas bagi Jepang.


