Bagaimana Kejuaraan Nasional Junior yang berlangsung di Jakarta Golf Club pada 20-22 Januari ini menjadi titik tolak menuju masa depan golf Indonesia.
Sebanyak 87 pegolf junior dari 19 provinsi di Indonesia siap berlaga pada Kejuaraan Nasional Junior di Jakarta Golf Club mulai hari ini (20/1). Provinsi yang bertanding pada pekan ini ialah Aceh (1 atlet), Bali (5), Banten (5), DI Yogyakarta (3), DKI Jakarta (17), Jawa Barat (15), Jawa Tengah (6), Jawa Timur (9), Kepulauan Riau (5), Kalimantan Barat (1), Kalimantan Timur (2), Lampung (1), Nusa Tenggara Barat (1), Papua (1), Riau (3), Sumatra Utara (8), Sumatra Selatan (1), Sulawesi Tenggara (1), dan Sulawesi Selatan (1).
Angka ini sebenarnya melebihi jumlah peserta yang semula ditetapkan, yaitu 84. Meskipun memang terkesan sangat sedikit, Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI) sengaja membatasi jumlah peserta dengan mematok sejumlah kualifikasi, seperti peringkat pada World Amateur Golf Ranking (WAGR), handicap index (maksimal 5,5 untuk Kelas A dan B putra; 10,1 untuk Kelas A dan B putri; 12,1 untuk Kelas C putra; dan 15,1 untuk Kelas C putri); peringkat pada Pekan Olahraga Nasional 2024; peringkat pada Kejuaraan Nasional 2025; serta hasil dari kejuaraan lain yang diakui oleh PB PGI.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PB PGI Japto Soerjosoemarno bahkan menyampaikan harapannya agar dalam penyelenggaraan ke depan pihak Pengurus Provinsi bisa secara intensif melakukan kualifikasi. Dengan demikian, ajang seperti Kejurnas bisa menjadi puncak prestasi nasional bagi para pegolf junior lantaran akan mempertemukan para pegolf junior terbaik yang mewakili daerah masing-masing.

Komposisi peserta tahun ini juga sedikit memberi gambaran terhadap peta perkembangan golf junior Indonesia. Dari 87 peserta, 55 merupakan peserta Kelas A (usia 15-18 tahun), 12 peserta Kelas B (13-14 tahun), dan 20 dari Kelas C (10-12 tahun)—dalam kategori kejuaraan klasik untuk juara umum kita mendapatkan 67 peserta (perpaduan Kelas A dan B), dengan 20 peserta kelompok pengembangan atau development. Jika diuraikan lagi, kelompok Boys A 34 peserta, Boys B (7), Boys C (11), Girls A (21), Girls B (5), dan Girls C (9).
Angka ini menunjukkan bahwa kelas B dan C tidak berada pada posisi yang ideal. Dari sini kita bisa memahami mengapa PB PGI berkeras untuk menjadikan golf sebagai bagian dari ekstra kurikuler di sekolah-sekolah. Langkah ini, jika bisa terlaksana, sebenarnya bisa menjadi salah satu jawaban untuk tidak sekadar regenerasi, tapi juga sebagai langkah skala besar untuk meningkatkan partisipasi golf jangka panjang.
”Golf itu olahraga dan bukan olahraga yang sangat mahal. Golf bisa menjadi olahraga yang terjangkau kalau memang diakui sebagai olahraga sehingga kami berharap pemerintah bisa mengembalikan posisi golf bukan sebagai pendukung pariwisata, melainkan lebih sebagai olahraga,” tutur Japto. ”Dukungan dari JGC ikut memberikan pemahaman bahwa golf bukan olahraga yang mahal. JGC banyak memberi diskon bagi peserta, memberi mereka kesempatan berlatih sebelum Kejurnas dimulai.”
Bagi Jakarta Golf Club, gelaran Kejurnas Junior pekan ini menjadi yang pertama kalinya selama lebih dari tiga dasawarsa terakhir. Meskipun setiap tahun kerap menggelar turnamen skala nasional, inilah pertama kalinya PB PGI kembali ke lapangan legendaris ini setelah sekian lama. Hal ini membuat tuan rumah berkomitmen memberikan pelayanan maksimal bagi seluruh peserta.

”Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pembinaan golf nasional, pengurus Jakarta Golf Club memberikan harga khusus bagi para pegolf junior yang berlatih di sini, serta diskon bagi keluarga yang mendampingi atlet, termasuk untuk fasilitas restoran. Ini merupakan wujud kepedulian kami dalam mendukung masa depan golf Indonesia,” lanjut Ramli Ibrahim, Presiden Jakarta Golf Club.
Lapangan klasik ini mungkin hanya dimainkan sepanjang 5.848 meter dari tee hitam, 5.329 meter dari tee putih, dan 4.965 meter dari tee merah. Akan tetapi, dengan fairway yang sempit serta, pepohonan rimbun yang mengawal sisi kiri-kanan fairway, serta beberapa hole dogleg, menuntut kualitas akurasi yang tinggi, alih-alih sekadar memukul jauh menjadikan Jakarta Golf Club sebagai ujian yang layak untuk sebuah kejuaraan nasional.
Tahun 20256 lalu, skor terendah yang tercipta di lapangan ini ialah 5-under 65, yang dibukukan oleh Jonathan Wijono pada putaran final ajang Jakarta Golf Club Championship. Adapun Kasiadi mencatatkan skor 66 pada putaran final Indonesia Open 1989 sebagai skor terbaiknya pada pekan bersejarah itu. Hanya saja, pekan ini para peserta Kejurnas akan memainkan 71 par, dan bukan 70 par, di lapangan ini.
Kejurnas Junior pekan ini jelas menunjukkan masih banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan asosiasi golf kita. Koordinasi strategis dengan daerah dan klub, yang merupakan salah satu titik awal pembinaan atlet, tentu perlu berjalan intens, di tengah upaya untuk meyakinkan pemerintah dan sponsor untuk lebih banyak memperhatikan golf sebagai olahraga.

Meskipun demikian, Kejurnas pekan ini juga menjadi titik penting bagi tiap peserta. Jika level kompetitif Indonesia belum mencapai taraf yang diharapkan untuk bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, para peserta masih bisa menguji seberapa berkembang permainan mereka dalam setahun terakhir.
Seberapa akurat pukulan tee mereka? Setangguh apa mereka melakukan approach? Bagaimana kemampuan up-and-down mereka? Dan, yang tak kalah penting, seberapa baik mereka membaca green dan memasukkan tiap putt? Lalu berapa skor terbaik yang bisa mereka raih? Dengan kata lain, akan sangat menarik melihat bagaimana para pegolf junior dari rentang usia 10-18 tahun ini memainkan lapangan klasik ini, sembari melihat seberapa jauh yang bisa mereka pelajari tentang permainan mereka dan diri mereka pada pekan ini.
Pada akhirnya, lewat tema ”Rising Stars of Indonesian Golf”, PB PGI berharap sebagian besar dari 87 peserta yang berlaga pekan ini bisa berkembang dan menjadi atlet yang siap bersaing di level yang lebih tinggi lagi.
Untuk mengikuti perkembangan skor dari Jakarta Golf Club, silakan melihat tautan berikut.


