Hannah Green memastikan kemenangannya pada HSBC Women’s World Championship berkat birdie di hole terakhir.
Senyuman lebar merekah di wajah Hannah Green bahkan ketika putt bernilai birdie di hole 18 di Tanjong Course Sentosa Golf Club belum masuk ke lubangnya. Ia sudah merasa yakin bahwa putting-nya itu memberikan kemenangan pada HSBC Women’s World Championship. Putt yang akhirnya masuk itu menjadi birdie keenam yang ia catatkan pada putaran final itu, dan ketiga secara berturut-turut yang ia lakukan dari hole 16.
Jika pada bulan Januari lalu ia mencurahkan sampanye dalam pernikahannya dengan Jarryd Felton, pegolf yang kini berkiprah pada Webex Player Series, kini sampanye itu tercurah lagi atasnya sebagai perayaan gelar LPGA keempat dalam karier profesionalnya. Skor total 13-under 275 itu memberinya finis satu stroke lebih baik daripada Celine Boutier dan dua stroke di depan Yuna Nishimura dan Lee Mihyang.
Pegolf Australia ini mungkin memulai turnamen yang digadang-gadang sebagai ajang Major Asia ini dengan skor 74. Namun, skor 67 yang ia bukukan dalam dua putaran kemudian memberinya spot yang ideal untuk menjadi penantang, terpaut hanya dua stroke dari Ayaka Furue asal Jepang yang berada di puncak klasemen.
”Yang saya pikirkan ialah melakukan dua putt di hole 18, supaya saya tidak perlu melakukan play-off.” — Hannah Green.
Usai putaran ketiga itu, Green sempat berdiskusi dengan pelatihnya. Ia diarahkan untuk berfokus mengambil birdie lebih awal. Namun, pegolf berusia 27 tahun ini baru bisa mendapatkan birdie pertamanya di hole 5, sebelum kemudian menambahnya dari hole 9. Meski mencatatkan satu-satunya bogey melalui hole 10, perlahan-lahan Green menjadi salah satu pimpinan klasemen bersama dua pegolf lainnya. Dan usai membayar utang bogey itu dengan birdie di hole 12, Green menorehkan tiga birdie di tiga hole terakhirnya untuk menjadi pegolf Australia kedua, setelah Karrie Webb, yang menjuarai ajang ini.
”Saya tahu kalau saya, setidaknya, membutuhkan birdie di hole terakhir untuk menang satu stroke. Jadi, begitu putt (di hole 18) tersebut masuk, saya merasa, ’Ya Tuhan, saya menang!’’
Kemenangan ini praktis memperbarui catatan penampilannya pada ajang ini. Dalam debutnya di Singapura tahun 2021 silam, ia nyaris menang.

”Saya selalu suka mengunjungi Singapura. Pada tahun pertama saya, tahun 2021, saya nyaris memenangkan kejuaraan ini. Saya melakukan tiga putt di hole 17 dan tiga putt lagi di hole 18 sehingga kehilangan peluang,” jelasnya.
”Saya jelas mengandalkan kedi saya hari ini. Kami menjalin perbincangan dengan baik, persis ketika kami punya waktu untuk stop dan tidak memikirkan soal golf. Namun, kami juga berusaha untuk lekas menyelesaikan pertandingan dan menaklukkan cuaca sehingga tak punya banyak waktu memikirkan di mana situasi kami. Yang saya pikirkan ialah melakukan dua putt di hole 18, supaya saya tidak perlu melakukan play-off.”
Green jelas punya alasan mengapa ia ingin menuntaskan pertandingan dalam 72 hole reguler, alih-alih memainkan hole tambahan. Celine Boutier, yang menjadi pesaing terdekatnya bermain dengan sangat baik dan kembali bermain tanpa bogey, meskipun dengan tiga birdie lebih sedikit daripada ketika ia mencatatkan skor 64 pada putaran kedua. Bogey di hole terakhir bisa membuat Green harus menghadapi Boutier, yang telah membuktikan diri sebagai pemain yang tangguh dalam partai play-off. Pegolf asal Perancis itu sukses menaklukkan Atthaya Thitikul pada ajang Maybank Championship lewat play-off sembilan hole pada bulan Oktober 2023 lalu.

”… kami tidak punya perkiraan soal sembilan hole, dan saya juga tidak ingin memainkan play-off sembilan hole. Bisa melihat putt itu langsung masuk merupakan sebuah kejutan, tapi juga membuat saya senang,” imbuh Green lagi.
Kemenangan Green ini juga menjadi menarik jika melihat statistik permainannya. Juara KMPG Women’s PGA Championship 2019 ini bukan pemain dengan akurasi tee off yang bagus. Terutama pada putaran ketiga, ketika ia hanya bisa lima kali mengantarkan bolanya ke fairway dari total 14 fairway. Bahkan 11 fairway yang ia capai hari Minggu (3/3) ini tidak lebih baik daripada putaran ketiga, ketika ia bolanya sukses mendarat di 13 fairway.
”Saya tidak tahu kalau saya tidak memukul ke banyak fairway, tapi saya bisa memukul lebih banyak ke green, yang merupakan hal yang bagus. Agak sedikit bebas tekanan, tapi pukulan saya tidak sebagus pada tahun-tahun sebelumnya, tapi saya kira saya merasa lebih yakin saat melakukan putting. Saya banyak menguji putt di sembilan hole pertama untuk par karena antara saya tidak memukul sampai ke green atau malah melewati lubang. Senang rasanya bisa yakin menghadapi tiap putt karena posisi-posisi seperti itulah yang Anda harapkan bisa Anda masukkan. Putt di hole terakhir itu, Anda tidak selalu bisa berharap memasukkannya,” jelasnya.


