Dua atlet Jawa Barat berpeluang menjuarai Seri I IGS Junior Competition, namun tiga atlet Ciputra Golfpreneur Foundation berkesempatan memberi kejutan.

Randy Arbenata Mohamad Bintang bakal menikmati keunggulan lima stroke menjelang putaran final Intercollegiate Golf Series I Junior Competition yang segera berlangsung siang hari ini (25/11). Pegolf asal Jawa Barat ini membukukan skor 3-under 69 dan menorehkan skor total 2-under 142 untuk mengungguli Rayhan Abdul Latief.

Kondisi cuaca yang lebih ramah membuat para pemain kemarin mampu bermain dengan lebih agresif. Tidaklah mengherankan jika kemudian jumlah birdie yang tercipta bertambah dari hanya 23 pada putaran pertama menjadi 38 pada putaran kedua kemarin. Dan Randy menjadi bintang—sesuai dengan nama belakangnya—berkat tujuh birdie dan empat bogey.

Permainannya di sembilan hole pertama terkesan turun-naik. Setelah mengawali dengan bogey di hole 10, ia langsung membukukan birdie di hole berikutnya, namun harus mencatatkan dua birdie dengan dua bogey dan hanya bermain even par.

Arah permainannya berubah tatkala memasuki sembilan hole terakhir. Dalam enam hole di sembilan hole terakhir itu, ia membukukan empat birdie. Meski kemudian mendapat bogey keempat di hole 8, skor 69 yang ia torehkan kemarin memberinya dominasi penuh menuju hari terakhir.

”Di sembilan hole pertama itu sebenarnya saya sudah menjalankan strategi dengan benar, sayangnya saya masih melakukan beberapa kesalahan. Namun, entah kenapa, di sembilan hole terakhir saya merasa lebih percaya diri,” tutur pegolf yang berusia 18 tahun ini. ”Besok (hari ini, 25/11) saya akan main sesuai dengan rencana permainan yang sudah saya siapkan, pola pikirnya juga harus mencari birdie, bermain under.”

 

Rayi Geulis Zullandari
Meski mendapat tiga bogey di tiga hole terakhirnya, Rayi Geulis Zullandari masih bertahan di puncak klasemen menuju putaran final. Foto: Ciputra Golfpreneur Foundation.

 

Rekan Randy sesama atlet Jawa Barat, Rayi Geulis Zullandari, juga masih bertahan di puncak klasemen sementara. Pegolf berusia 16 tahun ini memang harus menuntaskan putaran kedua dengan tiga bogey berturut-turut dan menyudahi permainannya kemarin dengan skor 4-over 76, namun ia masih memegang keunggulan dua stroke dan berpeluang mencatatkan sejarah dalam gelaran Intercollegiate Golf Series Junior Competition ini.

”Kondisi angin memang lebih baik, tapi untuk pukulan dan putting saya hari ini sebenarnya kurang maksimal, banyak pukulan yang meleset dari green dan kurang tenaga, putting saya juga kurang solid sehingga banyak pukulan yang gagal untuk mengamankan par atau mendapatkan peluang birdie,” jelas Rayi, yang terakhir bermain di Damai Indah Golf PIK Course dua tahun silam. ”Saya berharap (besok) kondisi angin di lapangan tidak sekencang pada hari pertama dan untuk permainan, saya akan memberikan permainan yang lebih baik daripada hari ini dan kemarin.”

Rayhan Abdul Latief, yang merupakan satu dari tujuh atlet binaan Ciputra Golfpreneur Foundation yang turun pada kejuaraan ini, menjadi pesaing terdekat untuk memperebutkan Best Gross Overall. Keputusannya untuk bermain lebih agresif juga turut didorong oleh kondisi cuaca yang lebih bersahabat. Meskipun ia berhasil mencatatkan lebih banyak birdie—enam birdie, ketimbang dua birdie pada putaran pertama—ia juga harus mendapat empat bogey.

”Kemarin (putaran pertama) saya memang bermain terlalu ragu, terlalu defensif. Hari ini saya mengubahnya menjadi jauh lebih agresif. Kondisi cuaca memang lebih baik daripada kemarin, tapi hari ini yang menyulitkan adalah penempatan pin-nya,” jelas Rayhan, yang terpaut lima stroke dari Randy. ”Mudah-mudahan cuaca dan kondisi juga mendukung, mudah-mudahan saya bisa mengejar ketertinggalan dan main lebih baik lagi.”

 

Bianca Naomi Amina Laksono
Bianca Naomi Amina Laksono hanya terpaut dua stroke dari Rayi Geulis Zullandari. Foto: Ciputra Golfpreneur Foundation.

 

Sementara itu, di kelompok putri, dua atlet Ciputra Golfpreneur Foundation lainnya, Bianca Naomi Amina Laksono dan Sania Talita Wahyudi berpeluang untuk menciptakan kejutan, mengingat keduanya hanya terpaut dua stroke dari Rayi. Kedua atlet putri ini kemarin, masing-masing, mencatatkan skor 73 dan 74 dan sama-sama mengoleksi skor total 152.

Bianca mencatatkan skor terbaik di kelas Girls A itu berkat tiga birdie dan empat bogey. Ia mencatatkan birdie di hole 1, 4, dan 18. Ia bersyukur permainan short game-nya hari itu sedang bagus sehingga bisa terhindar dari membuang terlalu banyak pukulan.

”Hari ini saya bisa merasakan kalau saya lebih fokus dan lebih percaya diri dengan permainanku sendiri. Memang deg-degan juga karena saya banyak mengamankan par lewat chipping, bukan karena green in regulation,” jelasnya.

Dari kelas Boys B, Teuku Husein M. Danindra yang membela PGI DKI Jakarta memegang keunggulan tujuh stroke atas atlet PGI DKI Jakarta lainnya, Prakasa Alfa Rizki. Adapun pada kelas Girls B Milani Adisty dari Insan Golf Jakarta memiliki keunggulan enam stroke atas atlet Ciputra Golfpreneur Foundation lainnya, Caithlyn Darlene Ong.

Ciputra Golfpreneur Foundation—yang bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung dan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember menjadi tuan rumah untuk Intercollegiate Golf Series I—menurunkan delapan atletnya pada kejuaraan pekan ini. Selain Rayhan, Sania, Bianca, dan Caithlyn, Markus Maximus Soenarjo (Boys A), Reicherin Giftrudy Hanslkie (Girls A), Cynthia Valerie Ong (Girls A), dan Richtier Joelle Hanslkie (Girls B) ikut meramaikan persaingan pada pekan ini.

Intercollegiate Golf Series ini sendiri merupakan buah dari kolaborasi Ciputra Golfpreneur Foundation dan Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri (HIMPUNI) dengan cita-cita memberikan peluang Jalur Prestasi bagi para atlet golf berprestasi untuk memasuki Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Seri ini telah resmi diluncurkan pada hari Minggu (21/11) yang lalu.