Tim Sumut segera menjawab tantangan di Royal Sumatra Golf Course sembari menatap prestasi yang melampaui PON XXI.

Perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) kerap menjadi arena bergengsi yang sarat persaingan. Gengsi sebagai pesta olahraga yang hanya berlangsung sekali dalam empat tahun membuat kompetisi akan berlangsung sangat seru, termasuk dalam cabang olahraga golf.

Kompetisi golf yang akan mulai bergulir pada 12-18 September 2024 di Royal Sumatra Golf Course ini tidak hanya penting bagi para pengurus provinsi untuk cabang olahraga ini, tapi juga bagi provinsi mereka secara keseluruhan. Dari olahraga ini, tujuh medali emas akan diperebutkan, yaitu dari nomor individu putra, individu putri, beregu putra, beregu putri, foursome putra, foursome putri, dan mixed-foursome.

Bagi tuan rumah, persiapan telah dimulai sejak kompetisi golf dipastikan berlangsung di Medan.

 

Rayhan Abdul Latief, PON XXI.
Rayhan Abdul Latief menilai komitmen PGI Pengprov Sumut yang melampaui PON memberinya alasan kuat untuk membela Tim Sumut. Foto: GolfinStyle.

 

”Begitu diumumkan (golf akan dipertandingkan) di Sumatera Utara, kami merasa senang. Terakhir kalinya PON digelar di sini itu tahun 1950-an, jadi kapan lagi PON bisa diselenggarakan di sini? Apalagi sebagai tuan rumah, masyarakat golf di sini pun sangat mendukung!” ujar Rizki Marwan, yang didaulat menangani bagian pembinaan.

Dari tujuh atlet yang dipastikan berlaga mulai pekan ini, nama Rayhan Abdul Latief, Mikail Jaydra Muhamad Darmawan, dan Viera Permata Rosada menjadi andalan untuk mengukir prestasi. Adapun keempat atlet lainnya Christianto Agita Sinuhaji, Asa Najib Bhakti, Savana Nazwa Putri Waloejo, dan Monica Amorita Abiwardani merupakan atlet-atlet yang juga siap untuk memberi kejutan di Royal Sumatra.

”Yang paling utama adalah attitude. Kalau attitude sudah bagus, masalah kemampuan akan lebih bisa dipoles,” tutur Rizki menyinggung soal pertimbangan utama dalam memilih atlet ke dalam Tim Sumut. ”Alhamdulilah, anak-anak memiliki sikap sportif yang sangat baik.”

Sebagai tuan rumah, harapan meraih medali, terutama medali emas, jelas merupakan hal yang wajar. Meski demikian, Rizki mengungkapkan PGI Pengprov Sumut memilih untuk tidak membebankan para atletnya dengan target.

 

Viera Permata Rosada, PON XXI.
Viera Permata Rosada mencatatkan tiga kali finis di sepuluh besar pada kompetisi di AS tahun 2024, termasuk peringkat ke-3 pada Conference-USA Women’s Championship. Foto: GolfinStyle.

 

”Kami ingin mereka bermain selepas mungkin dan membuat mereka merasa bermain seperti sedang berlatih. Target pasti akan membuat mereka terbeban, jadi kami hanya mendorong supaya mereka bisa memainkan permainan masing-masing secara maksimal,” ujarnya.

”Intinya, semua mereka ingin bermain dengan baik. Ketua PGI Pengprov Sumut, Pak Ichsan (Batubara), berpesan agar kami berusaha sekeras mungkin. Tentunya tidaklah mungkin kami mengharapkan suatu hasil kalau tidak bekerja keras.”

Melampaui PON
Sangatlah gampang menyimpulkan iming-iming bonus finansial sebagai salah satu pemikat atlet untuk membela provinsi tertentu. Akan tetapi, visi untuk meraih prestasi melampaui PON menjadi alasan utama dari atlet andalan tuan rumah untuk bergabung dengan Tim Sumut.

Rayhan menyebut keinginan Ketua PGI Pengprov Sumut Ichsan Batubara untuk mendukung atlet dalam jangka panjang sudah cukup untuk meyakinkan dirinya bergabung dengan Tim Sumut.

 

Monica Amorita Abiwardani, PON XXI.
Monica Amorita Abiwardani sempat berkompetisi di AS dan mencapai predikat Summa Cum Laude saat lulus dary Lynn University. Foto: GolfinStyle.

 

”Awal kami bertemu, beliau sudah menekankan kalau beliau tidak ingin saya hanya fokus di golf, tapi juga sekolah. PON adalah batu loncatan, jadi fokusnya bukan cuma PON, melainkan hal yang lebih jauh lagi. Dan menurut saya beliau punya passion dan komitmen untuk ikut melahirkan bintang baru.” ujar Rayhan.

Viera Permata Rosada, yang baru saja menuntaskan kuliahnya pada Sam Houston State University, juga mengaku komitmen serius PGI Pengprov Sumut dalam memproses atlet agar berhasil menjadi alasannya untuk bergabung.

”Dari dulu memang saya belum punya kesempatan bermain pada PON. Waktu Tim Sumut mengontak saya, saya melihat mereka punya komitmen pada proses dan hasilnya, jadi saya pikir ini sebuah kesempatan berharga juga,” ujarnya.

Sementara pengalamannya bermain dalam atmosfer tim di level internasional ketika masih menekuni olahraga basket juga menjadi salah satu kekuatan Mikail Jaydra Muhamad Darmawan untuk Tim Sumut; tidak hanya dalam mengikat kebersamaan, tapi juga ketika dipercaya untuk bermain dalam nomor foursome.

 

Asa Najib Bhakti, PON XXI.
Asa Najib Bhati sempat finis di tempat ke-3 pada Medco-Pondok Indah Amateur Golf Championship 2024. Foto: GolfinStyle.

 

”Basket dan golf memang dua olahraga yang berbeda, mulai dari kecepatan permainannya, karakternya yang lebih ke tim. Tapi saya akan membawa pengalaman bermain di level yang tinggi dari basket itu ke PON,” tegas pegolf yang menjuarai PGA Indonesia Sumut Golf Championship bulan Juni lalu ini.

Mentalitas juara juga ada pada anggota tim lainnya. Savana Nazwa Putri Waloejo, misalnya, sempat menjuarai ajang Indonesian Amateur Open Golf Tournament tahun lalu. Sementara Monica sempat menikmati kompetisi di Amerika bersama Lynn University, Asa Najib Bhakti sempat finis di tempat ketiga pada Medco-Pondok Indah Amateur Golf Championship lalu, dengan Christianto Agita Sinuhaji finis di posisi ke-10.

”Saya kira mereka butuh sedikit konsistensi, dan saya kira bermain cerdas di lapangan ini akan sangat membantu. Anda tidak bisa sekadar memukul saja karena lapangan ini akan menghukum Anda jika melakukan pukulan yang buruk. Jadi, minimalisasi pukulan-pukulan yang buruk dan kalaupun terpaksa mendapat bogey, terima saja dan lupakan dan jangan sampai kena double apalagi triple. Sebab untuk bisa bangkit tidaklah mudah. Namun, tim ini punya beberapa pemain yang sangat bagus dan mereka punya kekuatan tersendiri,” ujar Balraj.

Melalui latihan intens beberapa bulan terakhir, jelas Tim Sumut telah menghapal tiap hole di Royal Sumatra Golf Course. Kini mereka tinggal mengeluarkan kemampuan terbaik untuk menjawab tantangan yang disuguhkan oleh Bob Moore, sang desainer lapangan.