Hanya berjarak tiga kemenangan dari rekor kemenangan sepanjang masa, hitung mundur bagi Tiger Woods pun dimulai.

Sedikit melewati Sam Snead Memorial Highway, tak jauh dari Sam Snead Tavern, berdirilah sebuah properti yang dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan dan lahan pertanian. Lingkungannya senyap di tempat yang terlihat termakan waktu yang—seperti halnya rekor yang menyertainya—tampaknya hampir membeku oleh waktu.

Jika mengikuti jalan berbukit dari titik tertinggi hingga ke titik terendah dari properti—tak jauh dari jalanan utama—Anda akan mendapati Pemakaman Samuel J. Snead, tempat peristirahatan terakhir bagi anggota keluarga ini sejak 1763. Termasuklah salah satu yang mungkin menjadi anggota yang paling dikenal, sosok yang warisannya telah melampaui batas-batas rumahnya.

Selama 68 tahun terakhir, Sam Snead memegang kehormatan sebagai pemain dengan jumlah kemenangan PGA TOUR terbanyak sepanjang masa. Ia mempertahankan prestasi ini sejak musim 1950, tatkala ia melampaui Ben Hogan dengan 11 kemenangan pribadinya. Selama beberapa waktu, memang ada perdebatan soal jumlah kemenangannya. Snead menjuarai begitu banyak turnamen, dan dengan PGA of America yang berwenang pada mayoritas kemenangan yang ia bukukan sebelum dibentuknya PGA TOUR, pertanyaan yang sering timbul ialah kemenangan mana yang layak diperhitungkan sebagai rekor resmi Snead.

Pada tahun 1987, Blue Ribbon Panel pun bersidang untuk menilai seluruh kemenangan tersebut dan menentukan kemenangan mana yang layak diperhitungkan dan bagaimana rekor mengagumkan itu akhirnya ditetapkan pada angka 82. Kemenangan resmi terahirnya ia raih pada ajang Greater Greensboro Open 1965.

”Ayah memberi tahu saya bagaimana suatu ketika ia berjalan menuju tee pertama, dan dia tahu tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengalahkannya,” ujar putra Sam, Jack Snead. ”Itu perasaan yang luar biasa, begitu ia memberi tahu saya. Tak banyak yang pernah merasa demikian, ketika Anda merasa tak seorang pun bisa menyentuh Anda. Ia tak mengungapkan hal ini di depan publik, tapi ia memberi tahu saya.

Pencapaian Snead masih belum terancam sama sekali sejak saat itu. Belum, sampai sekarang.

Tahun 2013 lalu, keniscayaan itu nyaris tak terhindarkan dengan Tiger Woods tampaknya bakal melampaui Snead sebagai peraih gelar terbanyak sepanjang masa. Woods menjuarai lima gelar pada tahun itu dan praktis mencapai angka 79 dalam kariernya. Ia pun digadang-gadang bakal segera melampaui The Slammer dalam waktu dekat.

 

Jack Snead bersama sang ayah, Sam Snead. Foto: PGA TOUR.

 

”Ayah menyadari betapa istimewanya bakat Tiger, dan ia melihat keistimewaan itu untuk pertama kalinya ketika mereka memainkan putaran latihan bersama-sama di Augusta,” ujar Jack Snead. ”Tiger menjadi No.1 di dunia dan disebut-sebut sebagai pemain terbaik yang pernah memainkan olahraga ini. Zaman dulu belum ada ranking, tapi ada masa-masa tertentu dalam karier ayah ketika ia merupakan pemain terbaik yang pernah ada. Jadi, mungkin rasanya pas, jika ada orang yang bisa mengalahkan rekor ayah, orang itu pastilah Tiger. Jack (Nicklaus) menjadi kemungkinan yang lain.”

Tapi tentulah semua orang tahu kisah selanjutnya. Kisah yang diwarnai dengan empat operasi punggung, salah satunya membuat Woods tidak bisa berkompetisi sama sekali sepanjang 2016, yang membuatnya terlihat bakal terlempar dari kariernya. Sampai prosedur terakhir—operasi penyambungan tulang belakang pada awal 2017—yang akhirnya berhasil meringankan rasa sakit yang selama ini harus Woods derita.

Musim kebangkitan yang ajaib pada tahun 2018 lalu pun segera terwujud, dengan ”keajaiban untuk berjalan” yang ia sebut sendiri berhasil menepis keraguan dengan menjuarai ajang tutup musim TOUR Championship pada akhir September di Atlanta. Kemenangan ini, dipertegas dengan ribuan penggemar yang berjalan bersama sang idola menuju green hole 18 di East Lake Golf Club, menjadi kemenangan ke-80 dalam kariernya. Dalam sejarah PGA TOUR, hanya ada dua pemain yang mencapai angka ajaib 80 kemenangan tersebut. Woods hanya berjarak dua kemenangan untuk menyamai rekor Snead dan hanya tiga lagi untuk melampauinya.

”Saya tak pernah mengira bisa bermain lagi. Ketika berbaring dan tak bisa bergerak untuk beberapa bulan, golf menjadi hal terjauh dalam benak saya,” ujar Woods. ”Dan bisa melampaui masa-masa tersebut untuk mencapai titik sekarang ini adalah sesuatu yang menyenangkan.

”Tahun (2018) ini merupakan salah satu tahun-tahun terbaik, mengingat saya bahkan tak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya sama sekali tak tahu. Dan fakta bahwa saya bisa melangkah sejauh ini sungguh menyenangkan buat saya. Saya memiliki masa depan yang cerah karena pada masa kini tahun lalu, performa seperti ini bukan menjadi masalah penting. Tapi kini saya tahu kalau saya masih punya masa depan yang cerah.”

Masa depan cerah itu sendiri telah memicu perdebatan, mengingat banyak yang mengira kariernya sudah habis bahkan sebelum akhir musim lalu dimulai. Sanggupkah Woods melampaui Snead dengan rekor sepanjang masanya?

Jawabannya mungkin tak sederhana juga. Paling tidak, kebanyakan orang berpikir Woods bakal melakukannya setelah sukses dengan lima kemenangan pada 2013 silam. Dan sampai sekarang, catatan rekor itu sama sekali tidak berubah. Warisan Snead terus bertahan.

 

Papan penanda jalan dengan nama Sam Snead. Foto: PGA TOUR.

 

”Bisa mencapai angka 80 jelas merupakan sesuatu yang besar,” ujar Woods. ”Sam masih ada di depan saya. Saya masih punya, rasanya, peluang untuk bermain beberapa lama dan mungkin bisa berusaha mencapai angka tersebut dan mungkin malah melampauinya. Tapi saya mengira, dengan apa yang saya alami dan saya hadapi, saya beruntung, jujur saja. Saya merasa beruntung.”

Toh sejarah seolah memihak Woods. Ia hanya membutuhkan dua kemenangan musim ini untuk menyamai Snead, dan tiga lagi untuk melampauinya. Itu bakal menjadi standar bagi Woods, yang dalam kariernya telah menang setidaknya dua kali dalam semusim sebanyak 13 kali.

Suasana yang akrab seperti itu semestinya membantu Woods mewujudkan misinya. Enam ajang PGA TOUR telah berkontribusi hampir separuh dari 80 kemenangan profesionalnya, termasuk delapan kemenangan pada ajang Arnold Palmer Invitational dan World Golf Championships-FedEx St. Jude Invitational. Dan meskipun ajang terakhir dipindahkan dari Akron ke Memphis pada musim ini, Woods masih akan berada di lingkungan yang akrab baginya, yaitu Bay Hill Club di Orlando, Torrey Pines Golf Club di luar San Diego, tempat di mana ia meraih tujuh kemenangan Farmers Insurance Open; dan Muirfield Village Golf Club, di mana Woods menjuarai lima gelar Memorial.

Namun, banyak yang telah berubah sejak Woods mendominasi olahraga ini dalam rentang waktu lima tahun yang tak terlupakan itu, ketika ia meraih 36 kemenangan. PGA TOUR kini memiliki para pemain bintang yang lebih beragam yang bakal memberi tantangan bagi Woods tiap pekannya. Dan mereka akan menghadapi pemain yang tak lagi berusia 22 tahun seperti ketika ia mendominasi golf, tapi sosok berusia 43 tahun, yang harus secara jeli menyusun jadwal bertandingnya untuk menjaga stamina.

Woods turun dalam 19 turnamen sepanjang 2018 lalu. Angka ini menyamai total turnamen yang ia ikuti pada musim 2013. Meskipun rencana awalnya tidaklah seperti itu, tapi kualifikasi akhir musimnya untuk bisa bermain pada WGC-Bridgestone Invitational, termasuk menembus TOUR Championships membuat Woods mengakhiri musim 2017-2018 dengan tujuh turnamen dalam sembilan pekan.

Dengan jadwal PGA TOUR yang baru—format yang dipadatkan, dengan menampilkan turnamen berprofil tinggi tiap bulan, di awali dengan THE PLAYERS Championship bulan Maret—Woods bersiap untuk menjadi lebih berhati-hati dengan kalendernya. Ini berarti akan ada lebih sedikit kesempatan untuk memecahkan rekor Sam Snead.

”Saya tahu saya bisa menang, tentu saja, karena saya sudah membuktikannya. Sekarang tinggal mempersiapkan agar performa saya berada di puncak pada saat yang tepat,” ujar Woods, yang bermain hanya 19 turnamen sejak 2006. ”… Kehendak dan kemauan dan hasrat itu belum berubah; hanya masalah apakah tubuh ini ingin melakukannya.

 

Papan penanda area pemakaman Sam Snead. Foto: Stan Badz/PGA TOUR.

 

”Ada hari-hari atau pekan-pekan ketika tubuh saya tidak bekerja sama, jadi sebagian karena cedera yang saya alami dan usia. Semakin tua usia seorang atlet, semakin ia tidak bisa beperforma sekonsisten yang biasa ia lakukan. Saya sudah bermain sekitar 20 tahunan.”

Tapi usia hanyalah angka. Snead telah membuktikannya, menjuarai 12 turnamen pada usia 42 tahun, termasuk terakhir kalinya di Greensboro, persis sebelum ia berulang tahun ke-53. Prestasi ini masih menjadi rekor kemenangan oleh pemain tertua pada PGA TOUR.

Snead bahkan masih lolos cut pada usia 67 tahun pada ajang Manufacturers Hanover Westchester Classic 1979. Ia pun masih menjadi pemain tertua yang berhasil menembus putaran akhir pekan.

Woods masih mempertahankan langkahnya itu, meski dengan jadwal yang lebih sedikit dan fisik yang menua.

”Sudah pasti ekspektasinya berbeda dengan sebelumnya,” katanya. ”Sekarang, apakah saya masih bisa menang? Apakah saya masih bias bersaing? Ya. Sekarang, bisakah saya melakukannya untuk 20 tahun ke depan? Tidak. Karena itu tidak realistis.

”Ketika saya masih berusia 28 tahun, saya merasa saya bisa bermain golf pada level elit selama 20 tahun. Sekarang, saya 43 tahun, dan (main untuk) 20 tahun (lagi) jelas tidak mungkin.”

Satu-satunya ekspektasi Woods yang belum berubah ialah menang. Ia masih ingin memecahkan rekor Snead, termasuk rekor 18 Major Nicklaus, empat lagi bagi Woods. ”Untuk bisa memecahkan rekor Jack, saya harus melampaui rekor Snead,” ujarnya lagi. ”Itu matematika sederhana, dan saya ingin mewujudkannya.”

Nicklaus termasuk salah satu yang meyakininya.

”Ia kompetitor tangguh, ia pekerja keras, dan ia masih fokus. Jadi, itu alasan kenapa saya tak pernah meragukannya,” ujar Nicklaus di Memorial. ”… Saya sangat senang melihatnya. Saya tak pernah mengira dia bakal kembali bermain setelah operasi itu. Saya bukan dokter, tapi saya tak pernah bermimpi Anda bisa menyambung seseorang dan mereka bisa kembali main golf. Itu sungguh luar biasa … mungkin kekuatannyalah yang menyelamatkan dia.”

Beban sejarah akan tetap ada pada tiap turnamen yang Woods mainkan tahun ini. Para penonton akan bergumam, jurnalis akan memberitakannya. Inikah pekan ketika Tiger melakukan sesuatu yang sulit dibayangkan?

 

Tempat peristirahatan terakhir Sam Snead. Foto: Stan Badz/PGA TOUR.

 

”Pertama kalinya saya bertemu Snead ialah ketika saya masih kecil, dan seiring berlalunya waktu, kami membangun hubungan yang luar biasa,” ujar Woods. ”Tiap tahun saya tak sabar menjumpai dia pada The Masters. Dia akan berdiri pada santap makan Para Jawara dan menceritakan lelucon dan cerita, dan kami akan berbincang tentang golf. Bisa berada di ruangan yang sama dengan Sam, Mr. (Byron) Nelson, dan Mr. (Gene) Sarazen jelas merupakan kehormatan. Mendengarkan mereka berbincang tentang golf dan mengingat beragam turnamen serasa menjalani hidup melalui lintasan waktu.

”Sam masih tetap tampak bugar bahkan ketika usianya bertambah tua, dan saya selalu kagum melihat apa yang bisa ia lakukan secara fisik. Dia atlet yang luar biasa. Saya kehilangan Sam, dan sangat bersyukur bisa menjadi temannya.”

Sementara itu, di Hot Springs, Va., hanya akan ada keheningan. Pada sisi berlawanan dari property tersebut, di seberang tempat peristirahatan terakhir Sam Snead, sebuah harta karun sejarah diletakkan di sebuah ruangan.

Club Wilson dari tiap jenis—dan tiap tahun mulai 1930-an, disimpan di salah satu sudutnya. Kliping surat kabar yang dikoleksi oleh ibu Sam, Laura, diletakkan di sisi lain. Sementara artifak-artifak 82 kemenangan yang belum tertandingi itu disimpan di bangunan lain di pinggiran Commonwealth.

Sejarah itu bertahan hingga nyaris tujuh dekade. Berapa lama lagi sejarah itu bisa bertahan, jelas masih menjadi pertanyaan banyak orang.

”Jelas ini bukan menyangkut hadiah uang karena pada masa itu, Anda harus berjuang keras untuk bisa hidup dari bermain golf,” ujar Jack Snead. ”Ayah akan menjuarai satu turnamen, dan hadiahnya hanya beebrapa ribu dollar. Itu jumlah yang yang besar, tapi ia tidak menjadi kaya hanya karena bermain golf. Kemenangan itu sendirilah yang sangat berarti baginya. Ia akan melihat daftar turnamen yang telah ia menangkan, dan tentu saja dia merasa bangga.

”Dan kemenangan itu tak hanya turnamen-turnamen PGA TOUR. Ayah menang di seluruh dunia. Panama, Argentina, Cuba, Brasil, Kanada. Ia tak pernah bermain pada Tim Ryder Cup yang kalah, ia menjadi kapten Ryder Cup, dan menjuarai empat gelar beregu World Cup, dengan Demaret, Hogan, dan Palmer sebagai rekannya. Dan ia menjuarai satu gelar individu World Cup.

”Itulah yang paling berarti bagi Ayah. Kemenangan-kemenangan tersebut.”

Leave a comment