Tom Kim mengejar impian untuk meraih prestasi besar pada ajang tutup musim, TOUR Championship.

Bintang asal Korea Tom Kim segera memulai debutnya pada TOUR Championship hari Kamis (24/8) besok dengan sepenuhnya sadar bahwa banyak kemungkinan bisa terjadi dalam olahraga ini. Tidaklah mengherankan jika ia pun berniat menorehkan sejarah pada ajang FedExCup Playoff Finale ini.

Kim tidak sendirian. Wakil Asia lainnya hadir melalui Im Sungjae dan Kim Siwoo, yang juga merupakan pegolf Korea. Bagi Negeri Ginseng tersebut, inilah pertama kalinya tiga wakil Korea bisa tampil dalam ajang yang eksklusif hanya bagi 30 pegolf teratas klasemen FedExCup. Ketiganya juga berniat menjadi pegolf Asia pertama yang menjuarai FedExCup sejak ajang ini dimulai tahun 2007.

Jika berhasil menang pada hari Minggu nanti, Kim akan menjadi pegolf termuda yang menjuarai hadiah utama PGA TOUR ini. Sejauh ini rekor tersebut diraih oleh Jordan Spieth yang memenangkan FedExCup 2015 saat masih berusia 22 tahun dan 2 bulan. Im nyaris mengangkat trofi istimewa ini tahun lalu ketika finis di tempat kedua, di belakang Rory McIlroy.

TOUR Championship akan dimainkan dalam format skor berjenjang berdasarkan peringkat pemain dari hasil BMW Championship pekan lalu. Ketiga trio Korea ini akan bermain dengan bekal 2-under, delapan stroke di belakang Scottie Scheffler yang diberi bekal 10-under.

 

 

Tom tidak perlu diingatkan bahwa meraih kemenangan dari belakang bukan hal yang asing lagi baginya.

”Menurut saya selalu mungkin. Selisihnya delapan stroke, ada banyak pemain hebat yang bisa menang kapan saja, dan saya pikir saya juga ada di posisi itu. Saya cuma berpikir kalau tidak ada rasa sakit (di engkel kanan) dan bisa memukul bola dengan baik, saya selalu punya kesempatan,” ujar Tom, yang mengalami cedera engkel sejak The Open bulan lalu.

”Saya ingin bermain semaksimal mungkin dan mencurahkan segalanya dalam turnamen ini karena ini pekan terakhir saya dalam musim ini. Saya ingin main tanpa penyesalan pekan ini. Itulah target saya.”

Pegolf berbakat ini memang hanya perlu melihat keberhasilannya memenangkan gelar PGA TOUR pertamanya sebagai inspirasi. Pada ajang Wyndham Championship 2022 itu ia mengawali permainan dengan quadruple bogey, namun berhasil bangkit dan meraih kemenangan lima stroke setelah mencatatkan 9-under 61. Ia menjadi pegolf termuda kedua pada PGA TOUR sejak Perang Dunia II.

Menariknya, ketika McIlroy memenangkan FedExCup untuk ketiga kalinya setahun lalu, pegolf Irlandia Utara itu memulai permainannya dengan triple bogey dan bogey, namun berhasil mengalahkan Scheffler dan Im dengan satu stroke. McIlroy bahkan memuji Tom yang tidak menyerah meskipun ia tertinggal sepuluh stroke pada awal turnamen. ”Ia (Tom) memulai dengan quadruple bogey dan berhasil memenangkan sebuah turnamen golf,” ujar McIlroy. ”Jadi, memang memungkinkan!”

”Golf adalah olahraga yang dinilai berdasarkan hasil, jadi saya kecewa tidak menang tahun ini, tapi rasanya saya belajar banyak dan lebih dewasa.”

Pegolf No.16 Dunia ini akan memulai pekan pamungkas ini dengan berbekal sejumlah finis yang cukup meyakinkan. Ia menorehkan finis di peringkat T6, T2, T24, da T10 dalam empat turnamen terakhir yang ia ikuti. Termasuklah putaran dengan skor rendah 66 dan 63 pada akhir pekan lalu. Dengan gelar PGA TOUR kedua pada Shriners Children’s Open bulan Oktober 2022 dan tujuh kali masuk sepuluh besar pada musim 2022-2023, pemuda ini mengaku senang bisa mencontreng daftar target utamanya.

”Target terbesar saya ialah mencapai TOUR Championship. Tahun lalu saya tidak berhasil, jadi kali ini merasa sangat senang bisa mengikutinya untuk pertama kalinya,” ujarnya. ”Sejujurnya, saya tidak merasa sudah main sebagus yang saya inginkan. Saya tidak bersaing memperebutkan gelar sebanyak yang saya inginkan. Saya berusaha untuk tetap bersikap positif karena jalan saya masih panjang dan banyak yang bisa saya pelajari.

”Musim ini saya menang satu kali, tapi tidak saya raih pada tahun ini, dan gelar itu sudah terwujud sepuluh bulan lalu. Namun, ada beberapa hasil bagus pada ajang Major, finis di posisi 16 pada ajang Masters, peringkat 8 pada U.S. Open, dan tempat kedua pada The Open, jadi sungguh positif bisa meraih rasa percaya diri dan kenyamanan bermain dalam ajang Major.

”Golf adalah olahraga yang dinilai berdasarkan hasil, jadi saya kecewa tidak menang tahun ini, tapi rasanya saya belajar banyak dan lebih dewasa. Saya beri nilai 20 (dari 100) karena saya tidak menang, dan masih memberi nilai 50 atau 60 karena mendapat pengalaman dan melakukan peningkatan.”