Matsuyama, Kim, Lee, Hovland, dan Aberg bakal menjadi beberapa pesaing dalam perburuan meraih Jaket Hijau.
Oleh Jim McCabe.
Jika Anda tergolong mengikuti kalender astrologi, sebuah alarm mungkin sudah menyadarkan Anda sejak awal Maret lalu. Perhatian, perhatian, musim semi sudah tiba di belahan bumi bagian utara.
Ya, musim semi. Musim tatkala hal-hal yang baru dan perubahan hadir, musim semi dalam golf juga berarti satu hal: The Masters segera hadir.
Sekarang kalau ada yang menyebutkan The Masters menampilkan visi dalam warna hijau, seperti halnya jaket yang diberikan kepada sang juara, atau rentang rerumputan yang nirbatas, atau pemandangan hutan pinus Georgia yang luas yang seakan-akan menyentuh langit, ada beberapa saran bagi Anda.
Ubahlah kompas Anda menjadi indra manusia dan kuncilah dalam suatu cita rasa. Pastilah akan muncul sinyal-sinyal kuat yang, oleh karena beragam rasa dalam The Masters, sangat kaya dan di mana kekayaan itu menjadi sesuatu yang bisa disadar tiap tahun dan pada bulan April dengan jajaran internasional yang sangat kuat.

Para penggemar golf, sapalah lini peserta Masters yang layak mendapat perhatian dari Anda: Hideki Matsuyama dari Jepang dan rekan senegaranya Ryo Hisatsune; para pegolf Korea Tom Kim, Im Sungjae, Kim Siwoo; dan Minwoo Lee, yang lahir dari orangtua Korea dan dibesarkan di Australia. Dan jangan lupa pula nama-nama, seperti Juara FedExCup 2023 Viktor Hovland dari Norwegia, dan salah satu bintang paling bersinar dalam golf, Ludvig Aberg asal Swedia, yang akan melakoni debutnya pada The Masters.
Mereka masih muda. Matsuyama, yang sepertinya sudah veteran, menjadi yang tertua dalam kelompok ini. Namun, usianya juga baru 32 tahun. Sementara Hisatsune, yang berusia 21, menjadi yang termuda. Meski begitu, jika meragukan kemampuan mereka Anda tanggung sendiri akibatnya.
Untuk menghargai cita rasa yang dihadirkan oleh kelompok pemain ini pada ajang Masters, Anda mesti mempelajari sejarah berharga dari kejuaraan Major ini. Sejak pertama digelar tahun 1934 dan dibangun dengan visi pegolf amatir yang ikonik Bobby Jones, Masters selalu menjadi ajang invitasi dan kredo ini tidak pernah sirna. Pihak penyelenggara menginginkan para pemain terbaik, ya, tapi mereka juga ingin memperluas cakupannya untuk menjamin mereka menghargai para pemain dari seluruh penjuru dunia.
Tahun 1934, undangan-undangan dilayangkan kepada para pegolf dari Inggris dan Kanada. Dua tahun kemudian, sepasang pegolf dari Jepang, Torchy Toda dan Chick Chin, yang disertakan di lapangan. Peserta untuk tahun 1940 termasuk Jim Ferrier dari Australia dan sepasang pemain dari Argentina, Martin Pose dan Enrique Bertolino.
Seiring dengan perkembangan olahraga ini dan kian dalamnya bakat para pemain yang muncul, memenuhi kuota peserta menuntut panitia Masters untuk mengacu pada standard kualifikasi (Official World Golf Ranking, juara-juara PGA TOUR, para pegolf yang finis di posisi atas pada kejuaraan-kejuaraan Major) dan setiap tahunnya mereka berhasil melakukannya dengan cemerlang. Namun, untuk lebih memberi kredit lebih jauh, panitia turnamen mengapresiasi bahwa terkadang ada para pemain yang luput dari kriteria yang ada sehingga undangan khusus itupun diperluas lagi.

Salah satunya untuk 2024 diberikan kepada Hisatsune.
”Masters Tournament memiliki sejarah panjang mengundang para pemain internasional yang terkemuka yang belum masuk kualifikasi,” ujar Ketua Augusta National dan Masters Fred Ridley ketika undangan itu diberikan kepada Hisatsune, Joaquin Niemann dari Chile dan Thorbjorn Olesen asal Denmark.
Itulah sebagian tradisi Masters yang sangat dihormati dan Anda mungkin akan sangat berpendapat bahwa panitia klub tidak menjalankan komitmennya ketika menyangkut visi internasionalnya. Pertimbangkan, misalnya, sejarah mengesankan baik dari Asia-Pacific Amateur Championship dan Latin America Amateur Championship.
Para pemenang kedua turnamen ini mendapatkan undangan Masters dan mungkin Anda akan menganggap ini langkah yang imut, tapi menjadi praktik yang sulit memberi dampak.
Pemenang dari dua ajang Asia-Pacific Amateur pertama, pemuda dari Jepang Hideki Matsuyama, malah memastikan kemenangan Masters bersejarah pada tahun 2021. Juara Latin America 2018, Niemann, dan salah satu pemain paling tangguh, menerima undangan Masters berkat kemenangan memukanya pada Australian Open.

Dan jika Anda memperhatikan jajaran kelas berat yang akan hadir di Augusta awal April ini, Anda akan menyadari trennya. Mereka adalah para pemain kelas berat berkewarganegaraan Amerika. Kita menyinggung pegolf No.1 Dunia dan Juara Masters 2022 Scottie Scheffler; mereka yang ada di No.5 dan 6, Xander Schauffele dan Patrick Cantlay yang total menjuarai 15 gelar PGA TOUR; No.7 Dunia Wyndham Clark yang juga Juara U.S. Open 2023; dan trio potensial yang terdiri dari Juara Masters 2015 Jordan Spieth, pemegang dua gelar Major Collin Morikawa; dan dua kali juara PGA Championship Justin Thomas.
Tujuh nama berkualitas itu semuanya orang Amerika. Namun, sebelum memihak kubu Amerika ini, ingatlah catatan sejarah The Masters. Sudah 49 Masters terselenggara hingga 1979 dengan hanya satu kemenangan internasional (oleh Gary Player dari Afrika Selatan) ketika seorang Spanyol bernama Seve Ballesteros membawa era baru kepada Masters dan golf.
Ballesteros menjuarai satu dari dua gelar Masters-nya tahun 1980 dan dalam 21 tahun berikutnya, telah ada 12 pegolf internasional yang memenangkan Jaket Hijau. Meskipun ada rangkaian kemenangan oleh pegolf Amerika lainnya, Tiger Woods (5) dan Phil Mickelson (3), tujuh pegolf internasional telah membubuhkan nama mereka ke dalam daftar pemenang Masters.
Berlebihankah jika menilai kemenangan bersejarah Matsuyama tahun 2021 akan membuka gelombang kemenangan Masters dari Jepang dan Korea, dan pelabuhan internasional lainnya, seperti Australia (Lee), Chile (Niemann), Norwegia (Hovland), Swedia (Aberg)? Sejarah ada di pihak mereka dan satu hal yang kami tahu pasti soal The Masters ialah: sejarah kaya yang mereka miliki akan bertambah tiap tahunnya.
Tahun 2024, subplot bersejarah itu akan lebih luas lagi dibicarakan. Yang paling menjanjikan, penampilan Rory McIlroy yang ke-10 di Augusta di mana perbincangan akan menyasar peluangnya untuk mewujudkan Grand Slam. (Hanya lima pemain yang sejauh ini bisa melakukannya: Gene Sarazen, Ben Hogan, Gary Player, Jack Nicklaus, Tiger Woods).

Perbincangan jelas akan berpusat di sekitar kemampuan memukul bola milik Scheffler dan putting-nya yang mendadak tajam, termasuk fokus pada akankah Schauffele (peringkat 2, 3, dan T10 dalam tiga dari lima kunjungan terakhirnya ke Augusta) bisa menuntaskan tugasnya untuk mengenakan Jaket Hijau itu.
Semua itu menjadi kisah yang layak dipertimbangkan, tapi demikian pula halnya dengan kontingen internasional ini. Terutama para pemain muda dari Jepang dan Korea dan Australia (via Korea). Tom Kim finis T16 pada debut The Masters tahun 2023; Im Sungjae telah dua kali finis di sepuluh besar dalam empat penampilannya di Augusta; Lee T14 dalam debut Masters dua tahun silam; Kim Siwoo telah lolos cut dalam enam dari tujuh penampilan Mastersnya.
Oh dan ada pula jalan yang ditempuh Matsuyama. Ia merupakan pegolf amatir terbaik dalam debutnya 13 tahun silam, kemudian menjadi juara tahun 2021. Menyebut dirinya sebagai pegolf yang membuka pintu dan menunjukkan jalannya kepada rekan-rekannya mungkin bukanlah sesuatu yang berlebihan.


