Bagaimana menyesuaikan ekspektasi terhadap para pegolf Indonesia menjelang Indonesia Women’s Open presented by BTN?
Publik kerap memiliki harapan yang tinggi ketika sebuah ajang internasional digelar di negeri sendiri. Sebagai tuan rumah, prestasi di dalam negeri seakan menjadi sebuah kewajiban mutlak.
Premis awal Indonesia Women’s Open ialah menghadirkan juara asal Indonesia untuk memberi efek domino bagi popularitas golf. Ketua Indonesia Women’s Open, sekaligus pemprakarsa ajang ini, Song Changkeun berharap apa yang terjadi di Korea ketika Park Seri menciptakan ledakan golf yang menginspirasi masyarakat Korea untuk menggandrungi golf.
”Tidak banyak orang yang tahu soal golf di Korea pada beberapa dasawarsa silam, sampai Park Seri memenangkan U.S. Women’s Open. Itulah yang menginspirasi semua orang Korea,” ujar Song ketika meluncurkan Indonesia Women’s Open presented by BTN (IWO) pada awal Januari lalu.
Akan tetapi, golf dalam konteks Indonesia, yang masih kalah bersaing dengan olahraga populer lainnya, menyesuaikan ekspektasi menjadi sikap yang lebih aman bagi seluruh kalangan. Meskipun kejutan sering terjadi dalam olahraga ini, mengharapkan Indonesia bisa bersinar dengan memenangkan ajang pada pekan ini jelas menjadi hal yang tidak realistis.

Pekan ini ada 29 pegolf Indonesia yang segera mengikuti IWO di Damai Indah Golf BSD Course. Dari jumlah tersebut 13 di antaranya berstatus profesional. Mereka adalah Holly Victoria Halim, Kristina Natalia Yoko, Tatiana Wijaya, Agnes Retno Sudjasmin, Patricia Walanda Sinolungan, Ida Ayu Indira Melati Putri, Dea Mahendra, Aufa Rachmadya, Meva Helina Schmit, Juriah, Putri Aisyah Amani, Victoria Chandra, dan Marelda Pyrena Ayal.
Adapun 16 pegolf berstatus amatir adalah Jennifer Quinn Effendi, Kathleen Gann, Farah Anabel Xaviera, Bianca Naomi Laksono, Abigail Rhea Soeryo Wiharko, Sania Talita Wahyudi, Thea Jessica Tan, Lydia Hawila Stevany Sitorus, Fausta Bianda, Rayi Geulis Zullandari, Maureen Shavelle Yose, Ni Putu Alida Brigitte Lie, Catherine Chloe Hartono, Putu Mayvil Widya Handayani, Isabella Sudarmanto, dan Redlichlein Revieve Hanslkie.
Lalu siapa yang berpotensi bermain secara penuh pada pekan ini? Mari melihat rekam jejak mereka.
Dari lini profesional, Holly dan Yoko menjadi dua nama yang paling potensial untuk bisa bermain penuh. Alasan pertama ialah hanya mereka yang lolos cut pada edisi 2025. Holly finis T6, sedangkan Yoko finis T45. Selain itu, bersama Patricia Sinolungan, Tatiana Wijaya, dan Ida Ayu Indira Melati Putri, Holly dan Yoko menjadi pegolf Indonesia yang paling sering mengikuti kompetisi internasional.
Holly menjadi pegolf Indonesia pertama yang mendapatkan poin pada Rolex Rankings—peringkat dunia resmi golf profesional wanita. Kini ia menduduki peringkat 879. Dari total 9 turnamen resmi yang ia ikuti, pegolf yang memegang kartu CLPG Tour di China ini hanya tiga kali gagal lolos cut, sekali mundur, dan dua kali finis di sepuluh besar.

Adapun Yoko, yang menduduki peringkat 990, berhasil finis di peringkat 14 pada Order of Merit Thai LPGA dan memastikan keanggotaannya pada sirkuit tersebut untuk musim 2026 ini. Dari total enam turnamen yang ia ikuti, Yoko dua kali finis di sepuluh besar dengan berbagi tempat kedua pada ajang Singha-SAT Experience at Trang An Open.
Setelah menjuarai Women’s PGA Tour of Australasia Qualifying School, Tatiana mengikuti sembilan turnamen di Australia dengan tiga kali lolos cut. Prestasi terbaiknya ialah T31 lewat ajang World Sands Green Championship. Selain itu, ia juga dua kali bermain penuh pada turnamen Thai LPGA. Jelang IWO pekan ini, Tatiana menduduki peringkat 1400 pada Rolex Rankings.
Ida Ayu menjadi nama lain yang rutin mengikuti kompetisi. Tahun ini ia mengikuti tujuh turnamen pada Thai LPGA dan berhasil lolos cut dalam empat turnamen. Hasil terbaiknya terjadi pada bulan Juli dengan finis T49 pada Singha-SAT Thai LPGA Ladies Open.
Seperti halnya Holly, Patricia menjadi wakil Indonesia yang memegang kartu keanggotaan pada China LPGA Tour. Sayangnya, musim ini penampilannya tidaklah memuaskan. Dari 11 turnamen, ia hanya empat kali lolos cut dengan T56 sebagai finis terbaiknya.
Dari segi skor, hanya Holly, Yoko, dan Tatiana yang tahun ini mampu menorehkan skor 68. Adapun skor terbaik Patricia musim ini hanyalah 1-under 71.

Meskipun keempatnya memiliki intensitas kompetisi internasional yang lebih tinggi ketimbang rekan-rekan mereka, catatan ini juga tidak menjamin keempatnya bisa melenggang hingga putaran final. Pengalaman mereka jelas menjadi modal berarti sehingga, di atas kertas, mereka lebih berpeluang daripada pegolf Indonesia lainnya. Keempatnya juga tercatat mampu bermain under, meskipun mayoritas putaran mereka mainkan dengan skor over. Gambarannya, jika mereka bisa bermain 2-under 142 dalam dua putaran pertama, mereka sangat berpeluang melangkah ke putaran final. Hanya para pemain yang membukukan skor total maksimal 4-over dalam 36 hole yang berhak melangkah ke putaran final pada edisi tahun lalu.
Bagaimana dengan lini amatir? Sejumlah nama layak mendapat perhatian. Bianca Naomi Amina Laksono (No.417), Abigail Rhea Soeryo Wiharko (No.708), dan Sania Talita Wahyudi (No.817) menjadi wakil Indonesia dengan World Amateur Golf Ranking terbaik pada pekan ini. Bianca dan Abigail akan termotivasi untuk tampil prima untuk memberi modal penting sebelum mengikuti Women’s Amateur Asia-Pacific.
Satu nama lagi yang patut diperhatikan ialah Jennifer Quinn Effendi. Meski baru berusia 13 tahun, pegolf asal Jawa Timur ini sempat menjadi pegolf Indonesia terbaik pada ajang Pondok Indah International Junior Golf Championship bulan lalu. Dan pada Kejuaraan Nasional Junior pekan lalu, ia tampil sebagai penantang bagi Abigail.
Dengan minimnya kompetisi yang diikuti wakil Indonesia, prestasi besar pada pekan ini jelas menjadi hal yang berat. Akan tetapi, kesempatan bisa berbagian pada ajang yang diakui oleh KLPGA Tour ini benar-benar wajib mereka maksimalkan sebaik-baiknya.



