Empat mantan juara dari Asia bersiap untuk bersaing di Royal Porthcawl untuk ajang Major terakhir tahun 2025, AIG Women’s Open.

Shin Jiyai asal Korea, Yani Tseng dari China Taipei, Ariya Jutanugarn asal Thailand, dan Hinako Shibuno dari Jepang akan berusaha untuk kembali mengangkat trofi pada ajang AIG Women’s Open, yang segera dimulai Kamis (31/7) pekan ini.

Keempat pegolf ini menjadi bagian dari total 11 mantan juara yang telah berkumpul di Royal Porthcawl, di Wales. Selain keempatnya, Stacy Lewis (2013) asal AS, Georgia Hall (2018) dari Inggris, Sophia Popov (2020) dari Jerman, Anna Nordqvist (2021) dari Norwegia, Ashleigh Buhai (2022) dari Afrika Selatan), Lilia Vu (2023) asal AS, serta juara bertahan Lydia Ko (2024) juga berharap bisa mengukir nama mereka di trofi pada hari Minggu (3/8) nanti.

 

Ariya Jutanugarn, AIG Women’s Open 2025.
Pada tahun 2016 Ariya Jutanugarn menjadi satu-satunya pegolf Asia Tenggara yang menjuarai AIG Women’s Open. Foto: Tristan Jones/LET.

 

Ariya Jutanugarn menjadi satu-satunya pegolf Asia Tenggara yang pernah menjuarai AIG Women’s Open. Ia memenangkan ajang Major ini dalam penampilannya yang ketiga, setelah dalam debutnya tahun 2014 finis di posisi T45 dan gagal lolos cut tahun 2015. Selain kemenangan pada 2016 di Woburn itu, pegolf Thailand ini telah tiga kali finis di jajaran sepuluh besar (T4 pada 2018, T10 pada 2020, serta finis sendirian di peringkat ke-6 pada edisi 2024. Pekan ini menjadi penampilan yang ke-12 baginya.

Penampilannya pada musim ini juga terbilang positif. Dari 12 turnamen yang ia ikuti ia hanya gagal lolos cut dalam dua turnamen. Pegolf yang kini berusia 29 tahun ini bahkan berpeluang meraih gelar Major keduanya lewat ajang Chevron Championship sampai akhirnya tersingkir lewat babak play-off. Selain finis T2 pada ajang Major tersebut, ia juga mencatatkan lima kali finis di sepuluh besar (T3 pada T-Moblie Match Play; T6 pada Black Dessert; T9 pada U.S. Women’s Open; T7 pada The Evian Championship; dan T8 pada ISPS HANDA Women’s Scottish Open.

Tiga tahun setelah kemenangan Jutanugarn tersebut, Hinako Shibuno tampil mencuri hati para penggemar golf dunia. Penampilannya yang dipenuhi tebaran senyum membuatnya meraih julukan The Smiling Cinderella. Kisah kemenangannya tahun 2019 itu memang bak Cinderella, lantaran itulah pertama kalinya ia mengikuti sebuah pertandingan di luar Jepang. Ungkapan klasik vini, vidi, vici jelas sangat cocok baginya. Ia membukukan skor 66-69-67-68 untuk menang satu stroke atas pegolf Amerika Lizette Salas.

 

Hinako Shibuno, AIG Women’s Open 2025.
The Smiling Cinderella Hinako Shibuno menjuarai AIG Women’s Open 2019 dalam debutnya bertanding di luar Jepang. Foto: Tristan Jones/LET.

 

Setelah kemenangan fenomenal di Marquess Course, di Woburn itu, Shibuno berhasil finis di tempat ketiga pada edisi 2022 setelah finis T34 pada edisi 2021. Sisanya, ia gagal bermain penuh.

Musim ini jelas ia mengalami kesulitan untuk tampil cemerlang. Pegolf berusia 26 tahun ini hanya bermain penuh dalam 9 dari total 16 turnamen LPGA pada musim ini. Satu-satunya hasil positif ia raih pada U.S. Women’s Open dengan finis di posisi T7.

Shin Jiyai menjadi pegolf paling senior di antara keempat mantan juara dari Asia pada pekan ini. Pegolf berusia 37 tahun ini menjadi salah satu nama yang dominan di Korea dan Jepang. Musim ini ia bahkan memenangkan gelar JLPGA ke-30 dalam kariernya setelah menjuarai World Ladies Championship Salonpas Cup pada pertengahan Mei 2025 lalu.

 

Shin Jiyai, AIG Women’s Open 2025.
Shin Jiyai menjadi pegolf Asia kedua yang dua kali memenangkan AIG Women’s Open, yaitu pada 2008 dan 2012. Foto: Tristan Jones/LET.

 

Shin melakoni debutnya pada ajang Major ini pada tahun 2007. Tahun berikutnya, ia meraih kemenangan pertamanya dengan mengungguli Yani Tseng di Sunningdale. Kala itu ia mencatatkan skor total 18-under dan menang tiga stroke dari rivalnya asal China Taipei tersebut.

Empat tahun kemudian, di Royal Liverpool, ia menjadi pegolf Asia kedua yang berhasil memenangkan dua gelar AIG Women’s Open. Kali ini ia mengungguli rekan senegaranya, Park Inbee. Kemenangan pada tahun 2012 ini juga istimewa lantaran skor total 9-under 279 miliknya merupakan skor kemenangan dengan selisih skor terbesar yang pernah diciptakan oleh seorang pegolf Asia. Rekor selisih terbesar diciptakan oleh Ayako Okamoto dengan keunggulan 11 stroke ketika menjuarai edisi 1984, jauh sebelum ajang ini menjadi sebuah ajang Major.

Tahun ini ia telah bermain dalam 12 turnamen JLPGA. Selain kemenangannya bulan Mei itu, Shin telah empat kali finis di sepuluh besar (T2 pada Daikin Orchid Ladies; T10 pada SMBC Ladies Open; T9 pada Ai Miyazato Suntory Ladies; dan T5 pada Earth Mondahmin Cup).

 

Yani Tseng, AIG Women’s Open 2025.
Yani Tseng menjadi pegolf ketiga sepanjang sejarah AIG Women’s Open, yang berhasil mempertahankan gelarnya. Ia meraih kemenangan pada 2010 dan 2011. Foto: Tristan Jones/LET.

 

Rekam jejak Shin pada ajang AIG Women’s Open ini juga terbilang sangat bagus. Dari keempat mantan juara asal Asia, ia selalu bermain hingga akhir pekan. Selain dua kemenangannya pada 2008 dan 2012, ia juga finis T8 pada edisi 2009, lalu dua kali hampir menang dengan finis di tempat ke-3 pada edisi 2023 dan T2 pada edisi 2024 lalu.

Meskipun Shin bisa dibilang menjadi mantan juara asal Asia paling sukses, Yani Tseng menjadi satu-satunya pegolf Asia yang sukses mempertahankan trofi setelah pada tahun 2011 ia kembali menjadi juara. Tseng menjadi pegolf ketiga yang sukses mempertahankan gelar sepanjang sejarah kejuaraan ini.

Sebelum pekan ini, Tseng telah 12 kali mengikuti ajang Major ini. Setelah finis sendirian di tempat kedua, di belakang Shin, pada tahun 2008, ia meraih kemenangan pertamanya tahun 2010 di Royal Birkdale dengan mengalahkan Katherine Hull asal Australia dengan unggul satu stroke setelah bermain dengan skor total 11-under. Setahun kemudian, ia memperbaiki permainannya dan finis dengan skor 16-under untuk menang empat stroke, kali ini atas pegolf AS Brittany Lang di Carnoustie.