Collin Morikawa menjuarai Major kedua dalam penampilan perdananya pada ajang The Open Championship untuk meraih status Champion Golfer of the Year.

Dominasi Louis Oosthuizen akhirnya terpatahkan setelah pegolf Afrika Selatan itu kembali tersandung, dan Collin Morikawa bermain cemerlang pada putaran final The Open Championship. Pegolf asal California itu pun menuntaskan debutnya dengan keluar sebagai juara, untuk menyandang status Champion Golfer of the Year 2021. Dan Morikawa menjadi pegolf pertama yang sukses memenangkan PGA Championship dan The Open Championship dalam debutnya.

Kisah kemenangan Morikawa pekan ini bukan hanya merupakan sebuah kisah sukses di atas panggung, namun juga di belakang layar. Di panggung Royal St. George’s itu ia menampilkan permainan yang bersih dari bogey, meskipun harus bersabar sampai hole 7 untuk mendapatkan birdie pertamanya. Kesabaran yang sangat membuahkan hasil, mengingat birdie itu menjadi yang pertama dari rangkaian tiga birdie berturut-turut yang melejitkan posisinya menggeser Oosthuizen yang harus tersandung oleh bogey di hole 4 dan 7.

Bagi Oosthuizen, kedua bogey di sembilan hole pertama itu terbukti memupus harapannya untuk mengakhiri ”kutukan” Major yang ia alami. Ketika ia seakan bangkit dengan birdie di hole 11, bogey ketiga di hole 13 seakan menenggelamkan asanya. Dan dengan hanya mendapat satu birdie di lima hole terakhir, ia harus kembali memperpanjang penantiannya dalam mewujudkan gelar Major kedua dalam kariernya.

Jordan Spieth, yang mengawali putaran final dengan tertinggal tiga stroke dari Oosthuizen dan dua stroke dari Morikawa, justru tampil sebagai pesaing terkuat ketika memasuki sembilan hole terakhir. Toh upayanya untuk kembali mengangkat Claret Juga juga kandas lantaran hanya bisa menambah tiga birdie lagi, setelah sebelumnya mendapat satu birdie, satu eagle, dan dua bogey untuk menempati peringkat kedua.

Morikawa mengukuhkan keunggulannya dengan birdie keempat di hole 14 par 5 dan bermain even par di empat hole terakhir untuk memenangkan The Open pertama dalam karier profesionalnya yang baru berumur dua tahun. Dalam usia yang baru 24 tahun, ia menjadi pegolf kedua setelah Tiger Woods yang menjuarai PGA Championship dan The Open sebelum genap berusia 25 tahun.

 

 

”Ketika Anda menciptakan sejarah, dan saya masih berusia 24 tahun, rasanya sulit dicerna dan sulit dipercaya. Sungguh sulit untuk melihat ke belakang dalam dua tahun yang singkat sejak saya menjadi profesional dna melihat apa yang sudah saya lakukan karena saya ingin (meraih kemenangan) lebih banyak. Saya menikmati momen-momen ini dan menyukainya, dan ingin mengajarkan diri saya untuk sedikit lebih menerima (kemenangan itu),” tutur Morikawa yang sepanjang pekan mengoleksi skor 15-under 265, dua stroke lebih baik daripada Spieth.

Jika Anda menyaksikan putaran final dan melihatnya tampil tenang, Anda jelas tertipu oleh penampilannya. Sebaliknya, Morikawa justru menjalani putaran final ini dengan ketegangan, terutama di sembilan hole terakhirnya.

”Saya senang kalau saya kelihatan tenang karena sebenarnya saya mengalami ketegangan. Namun, Anda mesti menyalurkan ketegangan ini menjadi semangat dan energi, dan menyingkirkan kekhawatiran itu menjadi sesuatu yang saya inginkan. Seperti itulah yang saya lihat, terutama di sembilan hole terakhir. Jordan (Spieth) membuat banyak birdie; saya pikir (Jon) Rahm juga menyusul; Louis (Oosthuizen) membuat birdie yang luar biasa di hole 11. Namun, Anda tak bisa mengkhawatirkan skor. Anda harus fokus pada tiap pukulan. Bisakah saya mengeksekusi tiap pukulan sesuai dengan kemampuan terbaik saya? Kita tidak bisa mengendalika apa yang bakal terjadi, apa yang sudah terjadi. Jadi, saya hanya melihat hal ini, fokus pada tiap pukulan, bagaimana saya melihat pukulan sebaik mungkin, dan berusaha melakukan yang terbaik dari sana,” jelasnya lagi.

Selain penampilan yang cemerlang dalam putaran final itu, perubahan yang terjadi di belakang layar terbukti menjadi keputusan krusial lain bagi Morikawa. Keputusannya untuk melakukan perubahan pada kombinasi club yang ia bawa ke Royal St. George’s terbukti menjadi keputusan yang sangat tepat. Dan semua itu terjadi menyusul pengalaman pertamanya bertanding di lapangan links ketika mengikuti ajang abrdn Scottish Open di The Renaissance sepekan sebelum menuju The Open. Meskipun kedua lapangan itu berbeda, Morikawa menilai karakter rumput dan fairway dengan fescue-nya itu masih sama dan memutuskan mengganti 9-7-iron dari blade menjadi cavity back, serta melakukan modifikasi pada putter-nya.

”Saya merasa kalau melakukan perubahan yang tepat, saya bisa bermain dan menang di sini. Saya sekadar untung-untungnan dan berharap iron ini bekerja dengan baik. Saya tidak tahu apakah bakal berfungsi atau tidak. Tidak ada jawaban sungguhan, dan saya juga masih mencari jawabannya. Meskipun saya bisa memukul dengan sangat baik, saya masti perlu mencari tahu alasannya. Saya tak bisa sekadar menggunakan iron ini dan berharap ia bisa digunakan untuk 15 tahun ke depan. Saya mesti lebih jauh lagi melihat dan mencari tahu mengapa iron TaylorMade P7MC ini justru mujarab,” jelasnya.

”Ketika bermain pada PGA Championship tahun lalu, saya sudah bermain dengan berbagai turnamen bersama semua nama besar itu, dan rasanya menjadi sebuah ajang yang biasa. Saya pun bermain pada pekan ini tanpa memusingkan bermain menghadapi semua pemain.” — Collin Morikawa.

Meskipun masih dipenuhi tanda tanya, faktanya perangkatnya itu membantunya mendapatkan titik balik ketika berhasil meraih birdie pertamanya di hole 7. ”Pada saat itu, saya merasa melakukan pukulan-pukulan yang berkualitas. Saya melakukan pukulan dengan baik dan memberi peluang birdie. … Pada titik itu, saya seakan baru memulai putaran ini,” ujarnya lagi.

Namun, jika ada satu hal lagi yang turut membantunya mewujudkan kemenangan, sekaligus membuatnya tampak bermain dengan tenang, ialah fakta bahwa ia telah mengubah perspektifnya dan sudah sangat terbiasa bermain dengan nama-nama besar dalam golf.

”Saya dengar Brooks (Koepka) sempat berkata, kalau tak salah, pada ajang Travelers Championship, yang merupakan turnamen PGA TOUR ketiga saya sebagai profesional, ia berkata kalau ia bermain untuk menang. Ketika ia pertama kali beralih profesional, ia bermain untuk lolos cut. Lalu ia masuk 30 besar dan 20 besar dan 10 besar. Sejak hari itu saya mengubah kacamata saya dan bermain untuk menang,” papar Morikawa.

”Jadi ketika bermain pada PGA Championship tahun lalu, saya sudah bermain dengan berbagai turnamen bersama mereka, semua nama besar itu, dan rasanya menjadi sebuah ajang yang biasa. Saya pun bermain pada pekan ini tanpa memusingkan bermain menghadapi semua pemain. Saya berusaha mempelajari lapangannya. Begitulah saya melihatnya sebagai sebuah tantangan.”

Dan ketika tantangan di Royal St. George’s sudah berhasil ia atasi, kini saatnya bagi Morikawa untuk memfokuskan perhatiannya untuk tantangan berikutnya, yaitu ketika ia mewakili Amerika Serikat pada ajang Olimpiade Tokyo, yang segera dimulai pada 29 Juli-1 Agustus 2021 mendatang.