Kembalinya Jon Rahm sebagai pegolf No.1 Dunia, menyusul kemenangannya pada Sentry Tournament of Champions bulan Januari 2023 lalu, menandai dimulainya musim penuh bintang.
Oleh Jim McCabe.
Seperti halnya mustahil menghindari perbincangan dan besarnya pemberitaan—total hadiah US$15 juta dan US$2,7 juta untuk sang juara—komoditas paling bernilai pada PGA TOUR dan seluruh anggotanya mengakhiri Sentry Tournament of Champions bulan Januari 2023 lalu tanpa antusiasme pengantar.
Hal ini lebih dikarenakan apa yang terjadi tidaklah bisa diperkirakan sebelumnya dan sama sekali tidak merugikan—kecuali berlimpahnya ketangguhan Jon Rahm dan celah dari nyali Morikawa.
”Hari yang tak masuk akal!” ujar Rahm sambal menggelengkan kepalanya.
Jika Anda kaget karena ia bisa mengatasi deficit enam stroke dalam tujuh hole terakhirnya dan meraih kemenangan di Plantation Course di Kapalua Resort Kepulauan Hawaii yang terkenal itu, cobalah membayangkan rasa kaget yang menyelimuti Morikawa. Ia memegang keunggulan solid saat memulai putaran final dan bermain 27-under, lebih baik ketimbang Rahm yang dalam 11 hole baru menorehkan 21-under.
Kemudian, hal yang mustahil itu seakan-akan menerpa satu demi satu, persis seperti ombak yang memecah bebatuan di Honolua Bay, persis di bawah hole 11 par 3 itu.

Rahm menorehkan birdie, birdie, birdie, eagle, par di hole 12-16; Morikawa justru memainkan kelima hole itu dengan 3-over. Tambahkan dengan par di hole 17 dan birdie di hole 18, dan Anda hanya menyisakan delapan stroke. Enam hole tersisa dan ketika hendak melakukan pukulan tee di hole 12 itu ia sudah menang dua stroke.
Singkirkan sejenak apa arti dari hasil berbeda yang mengejutkan itu bagi kian besarnya aura Rahm, yang kini berusia 28 tahun, atau apa yang bakal menjadi tantangan bagi Morikawa yang baru berusia 25 tahun, para pemukul bola yang Tangguh, yang short game-nya secara mengejutkan telah memberinya mimpi buruk.
Sebaliknya, marilah menghargai apa arti finis turnamen ini bagi PGA TOUR, mengingat inilah debut dari 13 turnamen khusus yang hadir dengan peningkatan hadiah uang dan komitmen dari para pemain terbaik dalam 13 turnamen (plus empat kejuaraan Major).
Kekuatan fundamentalnya ialah kemampuan ajang seperti ini untuk bersinar, seperti yang terlihat pada Sentry Tournament of Champions.
Para pegolf elite bersaing di hole-hole yang sama pada saat yang sama dalam turnamen keempat yang memikat 17 dari 20 pemain terbaik di dunia. Momen-momen seperti inilah yang menegaskan makna dari komitmen kukuh PGA TOUR untuk ajang individual 72 hole benar-benar berjalan maksimal.
Dalam kondisi terbaiknya, golf yang diberi dorongan oleh hasrat yang sejatinya akan memberikan suguhan hiburan paling murni. Dan hiburan atletik, patut diingat, sama-sama menjadi wajah keceriaan yang sulit diabaikan dan menyuguhkan momen-momen yang membuat para penggemar sulit memalingkan wajahnya.
Ajang istimewa seperti ini bakal berjalan dengan baik. Rayakanlah!
Hadiah uangnya besar, tapi daya Tarik sejatinya ialah kehadiran dari hamper 20 nama besar. Rayakan lagi!
Seperti inilah para pemain paling tangguh tetap menjalani misinya. Rayakan lagi!
Tak ada waktu untuk istirahat, lantaran sembilan pekan setelah Sentry Tournament of Champions ini masih ada empat ajang istimewa lainnya. Rayakan lagi!
”Jelas awal yang luar biasa buat saya, untuk tahun yang sudah pasti akan berbeda ini,” tutur Rahm.
Pegolf Spanyol ini masih sedikit terpaku lantaran hasil akhir yang tidak ia bayangkan itu. Morikawa telah bermain tanpa bogey sepanjang 54 hole dan menorehkan 24-under. Semua orang, termasuk Rahm, berpikir ia akan bermain melampaui 30-under. ”Jujur saja, saya tidak berpikir bisa menang,” tutur Rahm lagi.
Ah, tapi inilah alasanmu memainkan olahraga ini. Terutama untuk ajang 72 hole dengan peserta yang meliputi sepuluh pegolf teratas dunia, seperti Scottie Scheffler, Patrick Cantlay, Xander Schauffele (yang pada saat-saat terakhir terpaksa mundur karena masalah punggungnya), Will Zalatoris, Justin Thomas, Matt Fitzpatrick, dan Viktor Hovland. Ah, dan para pemain undangannya juga sekaliber Tony Finau, Sam Burns, Tom Kim, Jordan Spieth, Max Homa, Cameron Young, dan Billy Horschel.
Kelompok besar ini ada di sana. Terbiasalah menyaksikan hal serupa karena hal seperti ini bakal hadir lebih sering, ujar Rahm, yang senyumnya menandakan betapa leganya ia bisa menang. Dan arus gerakannya meninju udara menunjukkan ia tidak hendak berhenti.
”Rasanya saya sudah menjadi pemain terbaik di dunia (sejak musim panas tahun 2022),” sambung Rahm. Ia mengaku Scheffler merupakan pegolf No.1 Dunia pada awal 2022, lalu Rory McIlroy merebut posisi itu, ”tapi rasanya sekarang sayalah orangnya (No.1 Dunia).”
Komputer menghasilkan angka yang berbeda—McIlroy, Schefflfer, Cam Smith, dan Cantlay merupakan pegolf No.1-4. Rahm melanjutkan betapa ia bingung, tapi jelas ia tidak membawa kebingungan itu ke lapangan golf.
Ia telah memenangkan tiga dari delapan turnamen terakhirnya, mulai dari Agustus 2022. Ia juga telah enam enam kali finis di lima besar, dengan turnamen lain memberinya finis T8 dan T16.

Sama mengagumkannya, resume McIlroy juga terlihat istimewa. Sejak The Masters April 2022, pegolf Irlandia Utara itu telah menang tiga kali, total sebelas kali finis di lima besar, dan 13 kalia masuk sepuluh besar. Dari tujuh turnamen terakhirnya, ia finis di peringkat 4, 1, T4, 4, T2, 1, T8, yang membuatnya layak merebut posisi No.1.
Namun, jika ingin berpihak pada Rahm bahwa ia bermain layaknya pegolf No.1 Dunia sejati, tidak banyak yang akan menentang Anda juga. Hal tersebut ikut membantu menjelaskan mengapa seri turnamen yang statusnya telah ditingkatkan ini akan lebih berdampak daripada sekadar memberi efek finansial bagi para pemainnya. Level hiburannya juga akan lebih meningkat dan memuaskan.
”Kami semua berlatih dengan keras. Saya tahu semua orang mencurahkan banyak upaya untuk berusaha dan bertahan (di jajaran atas OWGR) selama mungkin,” ujar Rahm. ”Namun, ya, saya ingin kembali ke atas (No.1 Dunia).”
Begitu juga Morikawa, yang bertekad untuk melupakan kekecewaan di sembilan hole terakhirnya di Maui itu. Bahwa bogey yang ia raih justru terjadi pada saat yang salah—hole ke-68, 69, dan 70 pada pekan itu—tampaknya telah menjadi pendorong baru baginya.
”Kejadian itu semoga akan mendorong saya untuk lebih dan lebih memahami apa yang dibutuhkan untuk menuntaskan 72 hole,” tegasnya.

