Keita Nakajima menjawab tantangan dunia untuk menjadi pegolf No.1 Amatur Dunia yang menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship.
Takumi Kanaya, yang menjadi rekannya dalam Tim Nasional Jepang, dan juga menjadi sahabat serta mentornya, suatu ketika pernah menyampaikan sesuatu kepada Keita Nakajima. ”Hadapilah diri sendiri dan teruslah menjadi penantang.” Nakajima mengaku terkesan dengan saran sahabatnya itu dan berniat untuk melakoninya.
Tidaklah mengherankan jika kemudian pada Asia-Pacific Amateur Championship, yang akhirnya dapat digelar di Dubai Creek Golf & Yacht Club, pekan ini, Nakajima menampilkan semangat bersaing bak penantang, meskipun statusnya layak menjadikan dirinya incaran para pegolf elit amatir se-Asia Pasifik.
Kembalinya ajang Asia-Pacific Amateur Championship setelah terpaksa menjadi salah satu korban dari pandemi COVID-19 benar-benar terbayar tuntas. Kualitas permainan yang memukau berakhir dengan sebuah pernyataan tegas bahwa Jepang kini menjadi negara Asia terkuat dengan prestasi mengagumkan pada tahun 2021 ini. Menyusul keberhasilan Hideki Matsuyama menjurai Masters Tournament bulan April 2021 lalu, Mone Inami yang sukses mempersembahkan medali perak Olimpiade Tokyo 2020, Nakajima menambah daftar membanggakan yang diraih Jepang di panggung dunia. Ia sukses mengikuti langkah Matsuyama dan Kanaya, sahabatnya, dalam menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship.
Meski berstatus No.1 dunia, Lin Yuxin yang berstatus juara bertahan juga mendapat sorotan khusus. Pegolf China yang kini berusia 21 tahun ini telah menyejajarkan dirinya dengan Matsuyama, sebagai pegolf kedua yang berhasil menjuarai ajang amatir paling prestisius se-Asia Pasifik ini sebanyak dua kali, yaitu tahun 2017 dan 2019. Namun, pegolf kidal ini justru harus terlempar dari persaingan lantaran melakukan dua kesalahan fatal di hole 2 dan 15, di mana ia menorehkan double bogey di kedua hole tersebut.

Sebaliknya, pegolf Hong Kong Kho Taichi, yang bermain satu grup di depan Nakajima, tampil sebagai penantang terkuat bagi Nakajima. Setelah menorehkan tujuh birdie tanpa bogey pada putaran ketiga, mahasiswa University of Notre Dame itu kembali menjadi mesin birdie pada putaran final. Usai bermain 2-under berkat tiga birdie dan sebuah bogey di sembilan hole pertamanya, Kho menorehkan empat birdie tambahan di sembilan hole terakhirnya untuk mematok skor terendah 14-under 270.
Langkah Nakajima, sang peraih penghargaan Medali Mark H.McCormack, sempat tersandung lantaran mendapat bogey di hole 6 dan double bogey di hole 9 sehingga hanya bermain even par di sembilan hole pertamanya itu. Toh ia tidak menjadi pegolf No.1 dunia hanya karena kebetulan. Kualitasnya ia tampilkan di sembilan hole berikutnya di mana ia berhasil mencatatkan tiga birdie. Hanya karena putt-nya gagal mendapat kecepatan yang cukup, ia harus menutup hole 18 itu dengan par, yang memaksanya harus memainkan hole tambahan.
Kho, yang sepanjang pekan menampilkan permainan memukau dengan swing yang mengalir, mendapat keunggulan ketika bolanya mencapai fairway di hole tambahan pertama, sementara Nakajima harus melakukan pukulan keduanya dari bunker. Dan sekali lagi, pegolf yang menjadi mahasiswa pada Japan Sports Science University ini, menunjukkan kualitas permainannya dan berhasil melakukan up-and-down untuk kemudian kembali ke tee box hole 18.
Pada hole tambahan kedua, giliran Nakajima yang meraih keunggulan setelah menempatkan bolanya di fairway. Sebaliknya, bola Kho justru masuk ke bunker, yang kemudian terbukti menjadi titik kejatuhannya. Bolanya gagal mencapai green dan justru masuk air. Nakajima akhirnya memastikan kemenangannya pekan ini dengan putt birdie di hole play-off kedua.
Luapan emosi menyusul perayaan tatkala Nakajima mendapat sambutan dari teman-temannya, sebelum kemudian memberi penghormatan kepada lapangan yang sukses ia taklukkan sepanjang pekan itu.

”Saya merasa terhormat bisa mendapat kesempatan mengikuti ajang ini sebagai pegolf nomor satu dunia,” tutur Nakajim. ”Saya sangat bersemangat dan saya sangat senang bisa mengikuti jejak Hideki dan Takumi.”
Kemenangannya ini membuatnya berhak tampil pada ajang Masters Tournament 2022, ketika Matsuyama mempertahankan gelarnya, serta The Open Championship edisi ke-150. Namun, statusnya sebagai peraih Medali Mark H. McCormack juga membuatnya berhak tampil pada ajang U.S. Open.
Meskipun gagal meraih kemenangan, Kho juga berhasil menciptakan sejarah. Untuk pertama kalinya seorang pegolf Hong Kong berhasil bersaing ketat untuk meraih kemenangan. Kala memulai pekan ini, Kho berstatus sebagai pegolf peringkat 220 dunia, yang turut menempatkannya sebagai pegolf terbaik negaranya saat ini.
”Saya pikir sembilan hole terakhir, bahkan saat play-off, sungguh memberi rasa percaya diri untuk melangkah ke depan. Saya melakukan banyak hal yang saya tahu dapat saya lakukan, tapi memang adalah hal yang berbeda untuk benar-benar mewujudkannya. Saya merasa bangga pada diri sendiri dan merasa lebih percaya diri untuk melangkah. Masih ada musim yang akan saya jelang, jadi pengalaman kali ini akan menempatkan diri saya dengan berbeda secara mental,” jelasnya.
Sementara itu, dari kubu Indonesia, kebanggaan yang sedikit berbeda juga terpancar. Dari empat wakil Indonesia yang berhasil lolos cut, tiga di antaranya merupakan pemain debutan, yang terbukti layak berada di jajaran elit Asia Pasifik. Meskipun masing-masing merasakan kekecewaan lantaran meyakini potensi mereka layak memberi hasil yang lebih baik, proses yang mereka jalani pada pekan ini memberi pengalaman yang sangat mahal dan luar biasa berharga.

Naraajie Emerald Ramadhan Putra kembali berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu pemain elite yang mencapai finis terbaik. Kapten Tim Indonesia ini mungkin bermain 1-ver 72 pada hari terakhir, namun permainannya di sembilan hole terakhir menunjukkan perjuangan yang layak diapresiasi. Tiga birdie di sana membuatnya berhasil memperbaiki catatan penampilannya pada Asia-Pacific Amateur Championship. Dengan skor total 4-under 280, ia finis di peringkat T21, melampaui finis T24 yang ia raih di Singapura pada tahun 2018.
Adapun Alfred Raja Sitohang menjadi pegolf Indonesia kedua yang bermain under pada empat putaran, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang mencuri eagle di hole 10 par 5. Selain eagle tersebut, ia menorehkan lima birdie dengan tiga bogey dan sebuah double bogey. Skor total 3-under 281 memberinya finis di peringkat T26.
Debutan lainnya yang menunjukkan performa menjanjikan ialah Jose Suryadinata. Pada putaran final tadi, pegolf asal Surabaya yang kini berkuliah pada University of Idaho ini menorehkan empat birdie, tiga bogey, dan sebuah double bogey yang membuatnya mengoleksi skor total 2-over 286. Baginya, pengalaman di Dubai ini mewujudkan dua impiannya, yaitu bertanding di Dubai dan mengikuti Asia-Pacific Amateur Championship.
Jonathan Xavier Hartono melengkapi kuartet yang bermain penuh selama empat putaran. Bermain bersama pegolf asal Yordania Shergo Kurdi, yang mengakhiri status amatirnya dan beralih profesional seusai Asia-Pacific Amateur Championship ini, Jojo, sapaan Jonathan, menuntaskan 18 hole terakhirnya di bawah empat jam. Ia mencatatkan tiga birdie, namun harus mendapat enam bogey. Salah satu hal positif baginya ialah bahwa birdie ketiga ia bukukan di hole terakhir.
Setelah Asia-Pacific Amateur Championship ini, pekan depan giliran enam wakil Indonesia lainnya yang akan berlaga pada ajang Women’s Amateur Asia-Pacific. Tongkat estafet pun praktis diserahkan kepada Ida Ayu Indira Melati Putri, Viera Permata Rosada, Patricia Sinolungan, Lydia Sitorus, Michela Tjan, dan Inez Wanamarta.


