Dua pegolf tuan rumah Mone Inami dan Nasa Hataoka kini berpeluang untuk memenangkan medali setelah menuntaskan putaran ketiga Olimpiade Tokyo 2020.

Putaran final kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020 menjanjikan persaingan yang tak kalah serunya dengan para pegolf pria pekan lalu. Meskipun pegolf No.1 Dunia Nelly Korda masih memimpin dengan skor total 15-under 198, unggul tiga stroke dari pegolf India Aditi Ashok, empat pegolf lainnya berada di posisi T3, dengan setidaknya sembilan pemain lainnya berpeluang untuk menaiki podium. Bukan tidak mungkin pula persaingan memperebutkan medali perunggu akan menjadi sangat menarik.

Tiga birdie dan sebuah bogey yang menghias kartu skor Korda masih memberinya keunggulan berharga untuk mengikuti langkah Xander Schauffele mempersembahkan medali emas bagi Amerika Serikat. Sementara Ashok kembali menampilkan permainan solid dan mencatatkan lima birdie dengan dua bogey untuk mempertahankan posisi ideal meraih medali, bahkan bersaing untuk membawa pulang emas bagi India.

Dua pegolf tuan rumah, Mone Inami dan Nasa Hataoka kini berpeluang untuk mewujudkan medali bagi Jepang. Setelah upaya Hideki Matsuyama harus berakhir pada babak play-off yang dimenangkan oleh C.T. Pan.

Untuk sementara, Inami berada di posisi yang lebih baik, menorehkan total 10-under 203 setelah tadi (6/8) bermain dengan skor 4-under 67. Ia berada di peringkat T3 bersama pegolf Australia Hannah Green (67), peraih medali perak Rio 2016 asal Selandia Baru Lydia Ko (68), dan pegolf Denmark Emily Kristine Pedersen (70).

Sementara itu, Nataoka, yang tadi bermain dengan skor 4-under 67 berbagi peringkat ke-7 bersama pegolf Swedia Madelene Sagstrom dan pegolf Denmark lainnya Nanna Koerstz Madsen.

”Olimpiade sudah menjadi target saya sejak masih amatir. Saya akan berusaha mewujudkannya besok (7/8) dengan tanpa penyesalan sama sekali.” — Nasa Hataoka.

Pada putaran ketiga tadi, Hataoka mengawali permainannya dengan bogey dan harus bersabar hingga hole 5 untuk mendapatkan birdie pertamanya. Di sembilan hole pertama itu, ia kemudian menambah tiga birdie lagi dengan satu bogey, lalu mengamankan par di hole 18 dengan dua birdie di hole 13 dan 17 untuk menempatkannya dalam persaingan meraih medali.

”Idealnya, saya berharap bisa mendapat birdie lagi sebelum mengakhiri putaran ini. Namun, saya harus memukul dari bunker sehingga saya harus menerima par itu sebagai hal yang positif,” tutur Hataoka.

Sebagai andalan utama tuan rumah, ia mendapati putaran ketiga ini memaksanya harus berkali-kali mengamankan par untuk menyelamatkan skornya. Beberapa posisi pin yang sulit membuatnya harus berbangga mendapatkan skor tersebut. ”Pin di hole 11, diposisikan persis di dekat bunker dan diset cukup jauh. Saya harus bermain golf dengan sabar hari ini. Dalam prosesnya, saya senang bisa mencatatkan skor 4-under hari ini,” sambung pemegang empat gelar LPGA ini.

Tidaklah mengherankan jika ia merasa puas dengan permainannya kali ini, mengingat kini ia berpeluang untuk bersaing meraih medali. Namun, ia juga sadar masih harus berjuang keras dalam 18 hole terakhir, yang dijadwalkan dimulai pukul 06:30 atau 04:30 WIB untuk mengakali kemungkinan cuaca buruk yang menerpa Kasumigaseki Country Club.

”Olimpiade sudah menjadi target saya sejak masih amatir. Saya akan berusaha mewujudkannya besok (7/8) dengan tanpa penyesalan sama sekali,” tegasnya.

Berbeda dari Hataoka, meskipun berada di posisi yang lebih baik, Inami harus merasakan sedikit kekecewaan lantaran mengakhiri putaran ketiga tadi dengan bogey. Terutama setelah memulai permainannya dengan solid. Tiga birdie ia torehkan dalam enam hole, sebelum kemudian mendapat bogey pertama di hole 9.

 

Mone Inami pada putaran ketiga Olimpiade Tokyo 2020.
Mone Inami berharap bisa menginspirasi anak-anak di Jepang dengan bersaing untuk meraih medali pada putaran final Olimpiade Tokyo 2020. Foto: Stan Badz/PGA TOUR/IGF.

 

”Saya sangat menikmati hari ini. Satu-satunya (yang mengecewakan) ialah di hole terakhir di mana saya salah membaca jalur putt yang kemudian mengakibatkan boget. Namun, selain itu, saya menikmati hari yang baik,” tutur Inami.

Ia sempat mengobrol dengan Matsuyama, sebelum pemenang Masters Tournanment 2021 itu bertolak untuk mengikuti World Golf Championships. ”Ia menyampaikan, oleh karena ia tak dapat mempersembahkan medali kemenangan dari kompetisi golf pria, ia berharap yang lebih baik untuk kami,” ujar pegolf berusia 22 tahun, yang telah mengoleksi tujuh gelar JLPGA ini.

Meskipun bermain dalam Olimpiade merupakan mimpi yang menjadi kenyataan, Inami mengaku tidak merasa gugup ketika mulai membawa negaranya pekan ini.

”Saya masih belum sepenuhnya menyerap bahwa saya bersaing pada ajang Olimpiade. Biasanya saya tidak mudah gugup dan saya merasakan hal yang sama pada ajang ini,” ujar pegolf yang beralih profesional pada 2018 ini.

Dengan 18 hole yang tersisa, Inami bakal mengandalkan mentalitasnya yang tidak gampang merasa gugup, mengingat tiap pukulan pada putaran final besok akan menjadi sangat krusial. Dan ia bakal berusaha tampil sebaik mungkin, tidak hanya untuk meraih medali, tapi juga memberikan inspirasi untuk generasi muda yang menyaksikan perjuangannya.

”Menurut saya hal yang paling menyenangkan bagi anak-anak ialah bisa menyaksikan kami bersaing dan berada di jajaran atas papan klasemen. Saya merasa sangat senang bisa bersaing, jadi saya ingin berfokus pada hal ini besok,” tandasnya.