Kemenangan Hideki Matsuyama pada Masters Tournament bulan April 2021 lalu seakan telah menjadi sesuatu yang digariskan sejak awal, sebagaimana disampaikan oleh Chuah Choo Chiang berikut ini.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director International Marketing & Communications, APAC PGA TOUR

Impian masa kecil Hideki Matsuyama yang terwujud lewat kemenangan Masters Tournament kini diperkirakan bakal memicu percepatan pertumbuhan golf di Jepang dan seluruh Asia.

Seperti kebanyakan pegolf, Matsuyama yang kini berusia 29 tahun, tumbuh dengan menyaksikan idolanya, Tiger Woods, mendominasi Augusta National Golf Club. Bahkan ia mulai berangan-angan kelak akan bersaing di lapangan yang sama dan meraih semua hak istimewa yang diberikan ajang tersebut: Jaket Hijau, hak bertanding seumur hidup, dan santap malam eksklusif tiap hari Selasa pada pekan turnamen Bersama para juara terdahulu.

”Saya memiliki banyak kenangan indah menyaksikan Masters Ketika masih kecil. Saya selalu bermimpi kalau suatu hari bisa bermain di sini,” tutur Matsuyama.

Mengusung harapan dari negara yang menggandrungi golf dan tekanan luar biasa untuk menjadi juara Major pria pertama, Matsuyama mewujudkan takdirnya itu, meskipun  dengan sediki kegelisahan yang berakhir dengan kemenangan satu stroke di Augusta National Golf Club, pada hari Minggu bulan April yang cerah itu.

Dengan menjadi bagian dari folklor Masters, ia menjadi pegolf Jepang pertama yang mengenakan Jaket Hijau dan pegolf pria Asia kedua yang menjuarai kejuaraan Major setelah kemenangan Y.E. Yang pada PGA Championship 2009.

Kemenangan Matsuyama ini juga terasa sempurna, mengingat Tokyo juga segera menggelar Olimpiade pada bulan Juli 2021 ini, di mana golf menjadi bagian dari cabang olahraga yang dipertandingkan. Sempurna juga bagi golf untuk melakukan lompatan besar berikutnya ke masa depan, persis seperti yang dialami Korea melalui ledakan luar biasa pada era 2000-an berkat kesuksesan yang diraih oleh Yang dan juga Park Seri pada LPGA Tour.

 

 

Besarnya nilai kemenangan ini juga berhasil ditangkap oleh Komisioner PGA TOUR Jay Monahan. Ketika memberi selamat kepada Matsuyama, ia berujar, ”Kemenangannya yang bersejarah ini akan menginspirasi begitu banyak pegolf di negaranya dan di seluruh dunia dan secara sempurna bertepatan dengan Olimpiade musim panas ini di Tokyo, di mana ia pasti akan menjadi pusat perhatian.”

Kebangkitan Matsuyama telah menjadi salah satu kisah dengan kesan meyakinkan di Asia dalam satu dekade terakhir. Dan sepertinya kisah ini seakan telah ditakdirkan sejak awal bahwa ia bakal menyandang status pahlawan dan juara Major setelah ayahnya memberikan club kepadanya saat ia masih kecil.

Ketika akhirnya menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2010, Matsuyama bisa mengikuti kejuaraan itu hanya setelah tuan rumah Jepang mendapat empat spot tambahan dari semula hanya enam. Dia bahkan tidak masuk enam besar, tapi berhasil memaksimalkan peluangnya dan meraih prestasi signifikan pertamanya. Prestasi itu memberinya hak bertanding pada Masters 2011. Dan di sana ia berhasil finis sebagai pemain amatir terbaik, T27 di Augusta National. Ia juga diundang memasuki Butler Cabin dan menyaksikan secara langsung bagaimana Phil Mickelson mengenakan Jaket Hijau kepada Charl Schwartzel.

Dominic Wall, Direktur R&A Asia Pasifik mengingat, ”Jika kami menggelar AAC di negara lain selain Jepang tahun itu, Hideki tidak bakalan bermain. Hasilnya kemudian seperti yang telah kita peroleh.”

Banyak yang mengatakan bahwa para pegolf ini membutuhkan kesempatan tertentu agar mereka bisa menemukan jalannya sendiri. Matsuyama pun menyadari keberuntungannya. ”Saya sangat beruntung bisa menerima satu undangan tambahan untuk bermain pada 2010. Saya masih 18 tahun dan sangat ingin bermain dalam ajang besar. Menjuarai AAC 2010 telah mengubah kehidupan saya,” ujarnya. ”Bermain pada Masters membuat saya ingin kembali tiap tahun, dan untuk melakukannya saya tahu harus berlatih lebih. Semua sesi berlatih saya ditujukan untuk satu target ini.”

”Dia seperti Tiger Woods bagi seluruh dunia, Hideki bagi Jepang.” — Adam Scott.

Untuk melacak perjalanannya dalam olahraga ini, kita mesti memulai dari pengaruh yang diberikan sang ayah, Mikio, juara klub, yang membawanya ke driving range setempat ketika ia berusia empat tahun. Lalu Ketika berusia delapan tahun, Matsuyama berhasil bermain di bawah 100 di lapangan golf dan keluarganya, menyadari potensi dan hasratnya untuk golf, mendaftarkannya ke Meitoku Gijuku High School berkat program golfnya dan selanjutnya ke Tohoku Fukushi University di Sendai.

Namun, ketika ia bersiap untuk debut Mastersnya, Matsuyama nyaris mundur menyusul gempa berkekuatan 9 skala magnitude yang memicu tsunami serta memakan korban hingga hampir 20.000 jiwa di Sendai pada bulan Maret 2011. Ia pulang dari latihannya di Australia dan mendapati wilayah di sekitar sekolahnya luluh lantak. ”Ia serius berpikir untuk mundur, tapi semua orang mendorong dia untuk pergi dan bermain bagi Jepang, ujar manajer dan penerjemahnya, Bob Turner, pada The Masters April lalu. ”Dan di sinilah kita sekarang.”

Matsuyama mempertahankan gelar AAC-nya di Singapura pada tahun 2011, yang sekaligus menegaskan reputasinya dalam golf amatir. Ia juga menikmati kunjungan Masters keduanya dengan finis T54. Lalu ketika beralih professional pada tahun 2013, ia langsung memberi dampak dengan menjuarai daftar peraih hadiah uang pada Japan Golf Tour dengan empat kemenangan yang memukau. Dan dalam usia 22 tahun, ia meraih gelar PGA TOUR pertamanya dengan menjuarai Memorial Tournament 2014, ajang dengan Jack Nicklaus sebagai tuan rumahnya.

Dengan empat kemenangan lain, termasuk sepasang gelar World Golf Championships, Matsuyama tampak siap untuk melakukan loncatan sebagai megabintang golf global.

Namun, entah mengapa, ia mengalami kemarau gelar dan, menyusul tiap nyaris menjuarai Major—ia enam kali finis di sepuluh besar sebelum memenangkan Major—beban yang ditaruhkan oleh negara di bahunya menjadi kian berat. Toh Matsuyama tak pernah mundur dan mempertahankak etos kerjanya. Sering kali ia menjadi pemain terakhir yang meninggalkan fasilitas latihan.

 

Hideki Matsuyama dan Tiger Woods pada Hero World Challenge 2016.
Matsuyama menerima selamat dari Tiger Woods usai menjuarai Hero World Challenge 2016. Foto: Getty Images.

 

Pada tiap turnamen, tiap pukulan yang Matsuyama layangkan selalu diamati dengan saksama oleh serombongan media Jepang dan, terlepas dari apakah ia membukukan skor 65 atau 75, ia terpaksa memenuhi tanggung jawab wawancara seusai putaran, yang ia jalani dengan tenang dan sabra. Meskipun bahasa Inggrisnya terbatas, beberapa orang juga berguyon kalau bahasa Jepangnya juga terbatas, yang artinya ia sangat jarang emmbuka dirinya kepada dunia. ”Saya senang media hadir di sini untuk meliput, tapi hal tersebut bukan favorit saya juga,” ujarnya seusai memenangkan Masters.

Pegolf Australia, Adam Scott, yang juga merupakan Juara Masters, merupakan salah satu yang yakin bahwa golf akan berkembang berkat keberhasilan Major Matsuyama ini. ”Dia seperti Tiger Woods bagi seluruh dunia, Hideki bagi Jepang,” ujarnya.

Yang terutama ialah bahwa Matsuyama bermimpi para pegolf Jepang lainnya akan mengikuti langkahnya, dengan pemain seperti Takumi Kanaya, yang juga merupakan pemenang Asia-Pacific Amateur Championship, disebut-sebut sebagai bintang baru Jepang.

”Semoga, saya menjadi pionir dalam hal ini dan banyak pegolf lain yang mengikuti. Saya senang bisa membuka gelombang ini dan semoga ada lebih banyak lagi yang mengikuti saya,” ujarnya. ”Saya berharap prestasi ini bisa memengaruhi golf di Jepang dengan positif. Tidak hanya bagi mereka yang sudah menjadi pegolf, tapi semoga generasi muda yang bermain golf atau berpikir hendak main gof, saya harap mereka melihat kemenangan ini dan berpikir keren untuk mencoba mengikuti langkah saya.

”Sampai sekarang, kami belum memiliki juara Major (pria) di Jepang, dan mungkin banyak pegolf atau pegolf muda, juga, berpikir, mungkin prestasi ini sesuatu yang mungkin untuk dicapai. Dengan saya mewujudkannya, semoga bisa memberi contoh bahwa menjadi juara Major adalah hal yang mungkin dan kalau mereka berfokus melakukannya, mereka pun bisa mewujudkannya juga.”