Bersama Michelle, sang istri, C.T. Pan akhirnya mempersembahkan medali perunggu untuk China Taipei pada kompetisi golf pria Olimpiade Tokyo.

Ada kebahagiaan terpancar di wajah pegolf China Taipei C.T. Pan pada Minggu (1/8) sore di Kasumigaseki Country Club itu. Perjuangannya sepanjang pekan ini mungkin hanya membuahkan medali perunggu, namun medali ini menjadi perunggu bersejarah baginya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Olimpiade, China Taipei berhasil memenangkan medali perunggu pada kompetisi golf pria Olimpiade Tokyo. Yang menjadikan pencapaian ini lebih istimewa lagi ialah lantaran sang istri, Michelle Lin, ikut mendampingi sebagai kedi di sampingnya.

Pegolf berusia 29 tahun ini meraih prestasi istimewa ini setelah melakoni babak play-off dengan enam pegolf lainnya di Kasumigaseki Country Club. Tidak tanggung-tanggung, ia harus menyingkirkan para pemain top dunia, seperti Rory McIlroy yang membela Irlandia, Paul Casey (Britania Raya), Mito Pereira (Chile), Sebastian Munoz (Kolombia), pemain favorit tuan rumah Hideki Matsuyama, serta pegolf Amerika Collin Morikawa.

Setelah memainkan empat hole tambahan, Pan berhasil mengungguli pemegang dua gelar Major Morikawa setelah berhasil mencatatkan par di hole 18.

”Sangat memuaskan,” ujar Pan lega. ”(Prestasi) in menjadi sebuah kejutan. Setelah hari pertama, bermain plus 3, skor 74, saya ingat mengirim pesan kepada salah satu teman baik saya dan saya merasakan pergumulan yang sesungguhnya. Jadi, pembicaraan itu menjadi titik balik untuk memenangkan medali perunggu pekan ini, sesuatu yang bahkan tak pernah saya pikirkan, tidak terlintas dalam pekan saya setelah putaran hari Kamis (29/7). Jadi, secara keseluruhan, prestasi ini menjadi sebuah akhir yang membahagiakan.”

Penampilannya pada pekan ini merupakan partisipasi kedua bagi Pan pada panggung Olimpiade, setelah lima tahun silam di Rio ia finis T30. Setelah permainan yang mengecewakan dengan skor 74 pada hari Kamis, ia menorehkan skor 66 pada putaran kedua dan ketiga. Pan tidak segan memuji sang istri, yang berhasil mengembalikan semangatnya. Lalu ketika memainkan putaran final bersama Rory Sabbatini, yang secara mengejutkan tampil luar biasa, Pan juga berusaha mengimbangig dengan membukukan enam birdie dan satu eagle dan meraih skor 63. Ia kembali masuk dalam persaingan, meskipun untuk memperebutkan medali perunggu.

Tujuh pemain yang semula mengikuti babak play-off ini segera mengerucut menjadi hanya dua pemain, dengan Pan dan Morikawa memastikan melanjutkan duel setelah keduanya mencatatkan birdie di hole ekstra ketiga, yang dilangsungkan di hole 11. Namun, bintang asal China Taipei itu terbukti menjadi yang terbaik setelah bermain par di hole play-off berikutnya, di hole 18. Harapan Morikawa untuk menemani Xander Schauffele, yang sukses memenangkan medali emas bagi Amerika Serikat, harus pupus setelah ia hanya bisa mendapat bogey.

”Saya belum pernah mengikuti play-off dengan pemain sebanyak itu, tujuh pemain untuk memperebutkan satu tempat, benar-benar sulit dipercaya. Dan jika melihat para pemainnya, ada Rory McIlroy, Collin, kami juga menghadapi dua atau tiga pemain peringkat sepuluh besar dunia. Dan ada saya, yang cuma berperingkat 200, main 3-over pada hari pertama, tak tahu mesti bermain seperti apa pada hari Kamis itu,” tutur Pan lagi.

 

C.T. Pan dan Michelle Lin pada putaran final Olimpiade Tokyo 2020.
C.T. Pan membentuk tim yang solid dengan Michelle, sang istri, untuk meraih medali perunggu. Foto: IGF.

 

”Saya berkata pada diri sendiri untuk tetap menunduk, melakukan pukulan demi pukulan, dan sekadar mengingatkan untuk terus bergurau dengan istri saya, dia luar biasa, dia kedi yang hebat, tapi jelas dia menjaga suasana hati saya agar tetap riang dan hal itu membantu saya untuk bisa lebih fokus. Jadi, saya ingin berterima kasih kepadanya untuk semua itu. Dan play-off tersebut, benar-benar sulit dipercaya!”

Michelle juga terlihat sangat gembira dan berdiri dengan penuh kebanggaan di pinggir green ketika menyaksikan upacara penyerahan medali dan menyaksikan bendera China Taipei ikut dikibarkan bersama bendera Amerika dan Slovakia.

”Perasaan ini sulit dipercaya buat saya,” ujarnya sambil meneteskan air mata. ”Setelah putaran pertama, kami berada di posisi T57 dan sungguh gila. Pagi ini ketika bangun, saya melihat CT mengemas seragamnya dalam diam dan saya hanya bilang kalau kami masih punya kesempatan dan ayo bermain 8 atau 9-under untuk memenangkan medali dan kami melakukannya.

”Dia teramat sangat tenang. Golf adalah permainan yang membuat Anda harus terus bermain hingga putt terakhir karena kami tak tahu apa yang akan terjadi dan Anda harus tetap fokus pada satu saat dan fokus pada tiap pukulan. Itulah yang kami lakukan sampai putt terakhir.”

Michelle jelas sangat bersyukur ketika Pan mendorong dirinya untuk menjadi kedi bagi sang suami. Tugas ini membuatnya bisa menikmati waktu bersama kontingen China Taipei di permukiman atlet. Kesempatan ini sekaligus menebus momen ketika ia tak dapat menyaksikan kemenangan Pan pada Asian Games 2014 dan kemenangan PGA TOUR pertamanya tahun 2019 lalu.

”Ia menjuarai medali emas pada Asian Games, tapi saya tidak berada di sana. Ketika ia menjuarai RBC Heritage, saya pun tak bersamanya. Jadi, saya senang berada di sini dan sepanjang waktu bersama dia sejak pukulan tee pertama sampai putt terakhirnya. Saya sungguh mengagumi kerja keras C.T. dan memberi kesempatan untuk berpartisipasi pada Olimpiade ini. Ini susatu kehormatan. Kami senang bisa memberi kontribusi satu medali,” tandas Michelle.

Xander Schauffele memastikan medali emas untuk Amerika Serikat menyusul permainannya yang solid hingga hole terakhir. Ia mencatatkan skor total 18-under 266 untuk memastikan keunggulan satu stroke atas Rory Sabbatini, yang mengusung bendera Slovakia. Sabbatini juga tampil luar biasa dengan menciptakan rekor skor terendah baru dalam sejarah Olimpiade, dengan skor 10-under 61 pada putaran final untuk meraih medali perak.