Xander Schauffele meraih medali emas kompetisi golf pria bagi Amerika Serikat setelah melalui putaran final yang menegangkan pada Olimpiade Tokyo.
Impian itu terpenuhi sudah. Xander Schauffele tak hanya mewakili sang ayah, Stefan, menjadi atlet Olimpiade, tapi juga mempersembahkan medali emas bagi keluarganya, bagi Amerika Serikat. Tidak ada yang lebih indah daripada pencapaian tersebut di panggung pesta olahraga terbesar di dunia yang hanya diadakan empat tahun sekali—meski Olimpiade Tokyo menciptakan sensasi berbeda dari periode tersebut lantaran pandemi COVID-19.
Kita mungkin sudah mengetahui, entah dari para komentator NBC Golf yang bertugas sepanjang pekan ini, entah dari berbagai artikel lainnya yang beredar di internet, bagaimana Stefan muda harus mengubur impiannya menjadi atlet dekatlon Olimpiade setelah mengalami kecelakaan. Dari dekatlon beralih ke golf, Stefan kemudian menjadi pegolf dengan handicap 0—dikenal dengan istilah scratch—untuk kemudian membantu menyiapkan putranya untuk menjadi salah satu pegolf terbaik di dunia.
Schauffele mungkin belum menyandang status juara Major, seperti ketiga rekan senegaranya, Collin Morikawa, Patrick Reed, dan Justin Thomas. Namun, medali emas di panggung seakbar Olimpiade jelas bisa memberinya kebanggaan tersendiri, yang kelak akan menjadi bekal mewujudkan impian Major tersebut. Terutama melihat kemampuannya untuk mempertahankan keunggulan justru ketika ia membutuhkannya, seperti di hole 18 par 4 di East Course, Kasumigaseki Country Club.
Ada banyak skenario yang tersedia pada putaran final ini. Dengan Hideki Matsuyama yang berusaha mewujudkan harapan medali negaranya, termasuk Paul Casey yang juga berharap bisa mengulangi pencapaian Justin Rose untuk Britania Raya. Termasuk pemegang empat gelar Major Rory McIlroy yang juga berusaha meninggalkan kesan dalam debut Olimpiadenya.
Namun, tak satu pun dari mereka yang sanggup menghalangi Schauffele. Dua birdie di dua hole pertama memberikan momentum tambahan bagi pemegang empat gelar PGA TOUR ini. Ia kian mempertahankan posisinya dengan dua birdie lagi di hole 5 dan 8 untuk membawanya mencatatkan 18-under.

Secara mengejutkan pegolf kelahiran Afrika Selatan yang berkewarganegaraan Slovakia, Rory Sabbatini melejit ke jajaran. Pegolf berusia 45 tahun ini seakan memutar waktu untuk membawa dirinya dari periode dekade 2000-an, ketika ia berhasil memenangkan enam gelar PGA TOUR dan meraih posisi kedua Masters Tournament 2007, ke Kasumigaseki Country Club. Sabbatini, yang ditemani oleh sang istri, Martina, yang merupakan putri dari presiden Asosiasi Golf Slovakia.
Sabbatini, yang mengusung bendera Slovakia sejak 2019, mendadak melejit ke jajaran atas setelah menorehkan empat birdie, sebuah eagle, dan satu bogey di sembilan hole pertamanya. Tak berhenti di situ, ia menambah empat birdie lagi ketika memainkan sembikan hole terakhirnya. Bogey di hole 16, yang menjadi bogey ke-9 baginya sepanjang pekan itu, tak menghambat laju permainannya. Seakan berada dalam zona yang berbeda daripada pemain lainnya, Sabbatini menorehkan dua birdie lagi untuk menciptakan rekor baru dalam sejarah penyelenggaran cabang olahraga golf pria pada Olimpiade. Skor 10-under 61 itu membuatnya mengumpulkan 17-under 267.
Lalu ketika Schauffele harus tersandung di hole 14 setelah harus mengambil drop bola yang berujung penalti, menyusul pukulan tee yang meleset dan berakhir di posisi yang menyulitkannya untuk melakukan pukulan, Sabbatini seakan mulai memiliki peluang untuk medali emas.
Sekali lagi Schauffele dihadapkan pada posisi yang kerap membuatnya terlempar dari persaingan Major, seperti ketika ia harus puas finis di posisi T2 pada The Open Championship 2018, serta T2 dan T3 yang masing-masing ia raih pada Masters Tournament 2019 dan 2021. Baginya, hole-hole terakhir hari ini (1/8) menjadi salah satu ujian terbesar. Tidak ada jutaan dollar yang dipertaruhkan, namun medali emas dengan nilai yang jauh lebih besar menjadi tujuan yang sangat penting bagi Amerika, dan baginya, serta keluarganya. Dan kali ini ia tidak lagi melewatkan peluang tersebut.
Bahkan setelah meraih birdie di hole 17 untuk kembali berada di puncak klasemen dengan 18-under, Schauffele masih harus mengalami ujian berikutnya. Sekali lagi bolanya harus melenceng jauh dari fairway di hole 18 par 4. Toh sekali lagi ia menunjukkan ketenangan yang membantunya mengembalikan bola ke fairway untuk menyiapkan pukulan ketiga dari posisi hanya 90 meter dari pin. Dengan eksekusi pukulan ketiga yang cemerlang, mengantarkan bola hanya berjarak kurang dari 1,5 meter, Schauffele tidak melewatkan kesempatan mengamankan par, sekaligus memastikan medali emas tersebut.
”Biasanya saya sangat tenang, tapi terkadang ada pergolakan buruk terjadi dalam diri saya. Jadi, saya bisa belajar dari momen-momen tersebut, di mana saya biasanya kalah di hole-hole terakhir, ketika saya melakukan pukulan yang buruk atau permainan wedeg yang buruk atau melakukan putt yang buruk dan kehilangan pengendalian diri. Namun, hari ini saya berpikir punya keunggulan satu stroke menuju hole 16 atau 17 dan melihat papan klasemen dan mendapati Rory (Sabbatini) bermain 61, jadi itu teguran yang bagus buat saya; untunglah ada papan klasemen di sana, kalau tidak saya takkan tahu (posisi saya). Ya, memang hari ini menjadi hari yang turun naik buat saya, terutama di sembilan hole terakhir dan saya senang bisa kembali mengandalkan beberapa bagian dari permainan saya untuk mempertahankan keunggulan,” jelas Schauffele.

Tidak ada luapan emosi besar tatkala ia memasukkan putt tersebut, namun beban dan tekanan yang ia alami sepanjang 18 hole terakhir ini jelas benar-benar telah terangkat dari pundaknya. Ia berhasil memperbaiki pencapaian Matt Kuchar lima tahun silam; ia sukses memberi kebanggaan bagi sang ayah yang impian Olimpiadenya harus pupus; dan Schauffele berhasil membuktikan dirinya layak menjadi salah satu pegolf terbaik di dunia.
Kini pegolf bernama lengkap Alexander Victor Schauffele ini memiliki modal yang sangat berharga untuk mewujudkan impian Major. Targetnya dalam waktu dekat, sudah tentu, FedExCup Playff dan TOUR Championship, sebelum memfokuskan perhatiannya untuk kembali membela Tim Amerika pada ajang Ryder Cup, menghadapi para pegolf Eropa.
Bagi Sabbatini, prestasi medali perak pekan ini jelas merupakan suatu kejutan yang bahkan mungkin tidak banyak yang menduga bakal bisa ia menangkan.
Lalu drama putaran final pun tak berakhir sampai dengan kemenangan Schauffele. Tujuh pegolf berbagi peringkat ketiga setelah mencatatkan skor total 15-under. Pegolf China Taipei C.T. Pan dan pegolf Amerika lainnya Collin Morikawa sama-sama mencatatkan skor 63, sedangkan pegolf Chile Mito Pereira, pegolf Kolombia Sebastian Munoz, dan McIlroy mencatatkan skor 67, lalu Casey yang membukukan skor 68, dan terakhir Matsuyama yang bermain dengan skor 69; semuanya harus melakoni play-off.
Memainkan hole 18 par 4, Matsuyama dan Casey harus tersingkir lebih awal. Dan ketika mereka menuju hole 10 par 3, Munoz menjadi korban berikutnya. Lalu di hole 11 par 4, giliran McIlroy dan Pereira yang tersingkir. Sampai akhirnya Pan memastikan medali perunggu untuk China Taipei dengan membukukan par, tatkala ia dan Morikawa kembali ke hole 18. Bagi Pan, prestasi ini seakan melengkapi dua medali emas yang ia raih pada Asian Games Incheon 2014 silam.


