Nateesh Ganesh asal Malaysia mengincar sejarah lewat Asia-Pacific Amateur Championship untuk memenuhi ambisi masa kecilnya.

Nateeshvar Anatha Ganesh bersemangat untuk mengejar kemenangan pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship di Te Arai Links, Selandia Baru mulai 29 Oktober-1 November mendatang. Pegolf Malaysia yang kini menempuh karier golf kampus di A.S. ini berniat untuk mengejar ambisi masa kecilnya. Ia berharap menjadi pegolf Malaysia pertama yang bisa bermain pada The Masters.

Pegolf berusia 21 tahun ini segera tampil untuk keempat kalinya pada kejuaraan amatir prestisius se-Asia Pasifik ini. Penampilan terakhirnya ialah pada tahun 2023. Namun, kini ia akan bertolak ke Selandia Baru dengan status Juara NCAA Divisi I menyusul kemenangan perdananya di Torrey Pines bulan Maret lalu.

Juara edisi ke-17 Asia-Pacific Amateur bakal menerima undangan untuk mengikuti Masters Tournament serta The Open tahun depan. Kejuaraan ini sendiri mulai digelar tahun 2009 oleh Asia-Pacific Golf Confederation (APGC), The R&A, dan Masters Tournament untuk lebih mengembangkan golf di wilayah ini.

”Tentu bakal sangat berarti bagi saya dan keluarga saya … pegolf Malaysia pertama yang bermain pada The Masters,” ujarnya.

Mahasiswa Tingkat tiga pada Loyola Marymount University (LMU) di Los Angeles ini berharap bisa bersaing menghadapi para pegolf amatir paling berbakat di Asia-Pacific ketika tiba di Te Arai Links nanti. Mereka termasuk juara bertahan Fifa Laopakdee dari Thailand, peraih tempat kedua tahun lalu asal Jepang Taisei Nagasaki, Jaden Dumdumaya asal Filipina, Zhou Zhiqin dari China, serta pegolf Vietnam Nguyen Anh Minh.

 

Nateesh Ganesh kecil.
Nateesh Ganesh sangat mengidolakan Tiger Woods sampai berdandan mengikuti sang idola. Foto: Dok. Pribadi Nateesh Ganesh.

 

”Beberapa tahun lalu, saya sempat bilang kalau bermain pada turnamen ini bakal menjadi pengalaman yang sangat berarti dan bakal menyenangkan bisa bermain di lapangan yang keren,” tutur Nateesh, yang juga telah lima kali finis di sepuluh besar di luar kemenangannya pada UC San Diego Invitational tahun ini.

”Tapi sekarang, saya melihatnya dengan berbeda. Kalau menang, saya bisa bermain pada ajang Major. Sebagai pegolf amatir, kesempatan itu menjadi sebuah kehormatan. Anda berpeluang untuk bersaing dan kalau main bagus, Anda bisa bertanding pada The Masters dan The Open. Asia-Pacific Amateur memberi peluang besar untuk mencapai level tertinggi.”

Bagi banyak anak muda, The Masters dan The Open merupakan dua turnamen paling prestisius yang ingin dikejar. Impian Nateesh juga tumbuh di kampung halamannya, di Melaka, ketika ia pertama kali memainkan club plastik saat berusia 3 tahun. Berkat sang ayah yang bekerja di industri golf, ia terpikat oleh olahraga ini setelah menyaksikan dominasi pegolf legendaris Tiger Woods. Pengaruh Woods sedemikian rupa hingga Nateesh mengenakan baju yang erat kaitannya dengan pemegang 14 gelar Major tersebut.

”Sejak kecil saya sudah menjadi penggemar Tiger. Saya melihatnya mengayunkan club-nya dan berusaha meniru dia, dan sampai sekarang masih menjadi tujuan saya agar bisa bertemu dengannya suatu hari nanti,” tutur Nateesh, yang sempat gagal lolos cut pada Asia-Pacific Amateur Championship 2021 dan 2022, lalu finis T63 pada 2023.

”Saya sudah sering menyaksikan The Masters dan tahu hole-hole hebat di Augusta National, seperti hole 12, 16, dan 18. Kalau bisa bermain di sana … bukan, ketika saya bermain di sana suatu hari nanti, semoga saya bisa bermain selama empat putaran pada The Masters.”

 

Nateesh Ganesh dan Jason D’Amour.
Keputusan untuk transfer ke Loyola Marymount University di bawah bimbingan pelatih kepala Jason D’Amour (kanan) ikut mengembangkan permainan Nateesh Ganesh. Foto: Dok. Pribadi Nateesh Ganesh.

 

Nateesh dan Fifa sudah beberapa kali bertemu ketika mereka masih junior. Pemuda Malaysia ini pun merasa senang ketika pegolf Thai itu menjuarai Asia-Pacific Amateur di Dubai bulan Oktober lalu, untuk kemudian bertanding pada The Masters dan The Open tahun ini.

Belum pernah ada pegolf Malaysia yang mengikuti The Masters. Fakta ini menguatkan semangat Nateesh untuk tampil sebaik mungkin di Selandia Baru nanti. Ia menyebut perjalanan amatirnya selama ini sudah penuh tantangan, dan peluang untuk bermain bagi LMU turut memberi dorongan besar baginya.

”Saya mulai bermain golf saat berusia 3 tahun dan memukul berkeranjang-keranjang bola di driving range. Meski bolanya tidak terbang jauh, orangtua saya mendukung dan melihat saya sangat terpikat oleh golf. Ada banyak tantangan, tapi semuanya membakar semangat saya untuk berjuang lebih keras, agar menjadi lebih baik. Orangtua saya mencurahkan waktu dan uangnya buat saya. Itu sebabnya, mereka mengirim saya ke A.S. dan merekalah alasan saya menekuni olahraga ini.”

Pelatih kepala LMU Jason D’Amore yakin Nateesh punya bakat untuk menjadi pegolf top.

”Kemenangan di Torrey Pines memberinya kepercayaan diri yang ia butuhkan untuk mengukur kemampuannya dengan para pegolf terbaik dalam olahraga kita. Saya yakin kemenangan itu bukan menjadi yang terakhir baginya,” ujar D’Amore.

 

Nateesh Ganesh dan Keluarga.
Nateesh Ganesh kecil berpose bersama ibu, ayah, serta kakaknya di depan clubhouse Glenmarie Golf & Country Club. Foto: Dok. Pribadi Nateesh Ganesh.

 

”Nateesh memiliki short game yang luar biasa. Putting dan short game menjadi kekuatan super baginya. ia juga sangat akurat dengan pukulannya dan mampu mempertahankan bolanya tetap di fairway, selalu memberi peluang untuk mencetak skor. Menurut saya, dia punya pemikiran yang luar biasa, yang membantunya tetap tenang secara mental dan fokus pada apa yang ia hadapi.”

Kehidupan kampus di AS memang membuatnya jauh dari keluarga, tapi Nateesh yakin bertanding menghadapi para pegolf kampus terbaik di sana akan mempertajam permainannya dan mempersiapkan dirinya untuk golf profesional masa depan.

”Tak mudah berada di luar negeri sendirian. Terkadang rasanya kesulitan, tidak bisa bertemu orangtua. Ada banyak pengorbanan juga. Saya ingin menjadi pegolf profesional, dan akan luar biasa jika bisa masuk ke PGA Tour suatu hari kelak … begitulah mimpi saya,” tuturnya lagi.

”Bisa menang di Torrey Pines rasanya sungguh Istimewa, dan saya tidak tahu tempat keren mana lagi yang cocok untuk mewujudkannya. Beberapa turnamen menyadarkan diri, tapi turnamen lain bisa membangkitkan semangat. Kemenangan ini tentu memberi percaya diri. Kalau bisa main dengan baik, rasanya saya bisa mengalahkan siapa saja.”

Sepanjang sejarah Asia-Pacific Amateur, prestasi terbaik Malaysia diraih oleh Mohd Iszaimi Ismail (finis di posisi ke-7 pada 2009), Ervin Chang (7/2018), dan Marcus Lim (T7/2023).