Sebagai ujian sejati golf, THE PLAYERS Championship layak menjadi pembuktian bagi seorang pegolf sejati, seperti yang Scottie Scheffler lakukan pada 12 Maret 2023.
Oleh Jim McCabe.
Dengan aksi yang meledak-ledak, yang menunjukkan bagaimana Scottie Scheffler menuntaskan tugasnya pada putaran final THE PLAYERS Championship—lima birdie secara berturut-turut pada putaran final, yang membawanya memperbesar keunggulan dari dua stroke menjadi lima stroke—mungkin Anda berpikir kalau pegolf berusia 26 tahun ini memiliki pola perilaku tertentu.
Faktanya memang demikian. Kurang lebih seperti itulah cara kerjanya—ganas dan memiliki semangat yang tegas, yang tidak menunjukkan usianya, entah semuda apapun usianya saat ini.
Pertimbangkanlah, misalnya, bahwa kini ia telah memenangkan enam dari 27 turnamen PGA TOUR yang ia ikuti sejak Waste Management Phoenix Open pada 13 Februari 2022.
Oh, dan kurang dari lima tahun sejak ia lulus dari University of Texas, Scheffler sudah menjadi pegolf No.1 pada Official World Golf Ranking selama 32 pekan. (Kemenangannya pada THE PLAYERS ikut mengembalikannya ke posisi tersebut.)
Lalu ada realitas yang takkan pernah ia yakini bahwa ia terlalu muda untuk menggeser para pemain yang usianya lebih matang. Dalam usia 10 tahun, ia sudah menantang pemain PGA TOUR Joel Edwards di driving range, di Royal Oaks CC, Dallas, Texas, dan berusaha memukul tiang penanda jarak dengan pukulan-pukulan wedge.

”Ia membuat saya bangkrut! Saya kerap membawa banyak uang receh karena tahu dia bakal mengalahkan saya,” ujar Edwards, yang usianya 35 tahun lebih tua.
Dan kalau Edwards tidak ada di sekitarnya, Scheffler akan memilih anggota PGA TOUR lainnya yang berusia 25 tahun lebih tua. ”Dia gigih. Anda takkan bisa mengintimidasi dia,” ujar Harrison Frazar, yang diakali oleh Scheffler dan harus merelakan satu boks bola tiga butirnya ke bocah yang usianya cukup untuk menjadi anaknya.
Hal yang paling gila dari semua itu, di tengah panasnya Dallas, bocah itu menjadi satu-satunya di driving range itu yang mengenakan celana panjang. ”Dia selalu memakai celana panjang,” ujar Edwards. ”Seperti pemain Tour berusia 10 tahun.”
Jadi, mungkin semua itu menjelaskan mengapa sekarang, 16 tahun kemudian sejak pertama kali terlihat sebagai pemain Tour, Scottie Scheffler layaknya dinamo PGA TOUR dengan kemampuan menaklukkan lapangan dan kompetisi.
”Dari tee ke green, ia benar-benar semahir sekarang,” tutur Jordan Spieth. ”Dengan beberapa kemampuan dan keahlian di sekitar green dan memasukkan beberapa putt, ia pemain yang sulit untuk ditaklukkan.

”Saya sering bermain melawan dia di rumah (di area Dallas) dan secara konsisten ia membukukan skor yang sangat rendah. Ketika rasanya saya bisa main lebih bagus dari dia, rasanya percaya diri saya bertambah sekarang karena jelas dia pemain terbaik di dunia saat ini.”
Baiklah, jadi posisi Jon Rahm (5 kemenangan, 10 kali finis di delapan besar dalam 12 turnamen) dan Rory McIlroy (3 kemenangan, 9 kali finis di delapan besar dalam 12 turnamen) tidak benar-benar bergeser. Amannya, dan dengan mengatakan bahwa pegolf No.1, 2, dan 3 di dunia—secara berturut-turut Scheffler, Rahm, McIlroy—mewakili pemain tangguh jajaran atas.
Namun, di Stadium Course, di TPC Sawgrass, di halaman markas besar PGA TOUR di Ponte Vedra Beach, Florida, Schefflerlah yang tampil jauh lebih baik ketimbang yang lain. Pada pekan ketika tak satu pun pemain di lapangan yang bisa membukukan lebih dari dua skor di bawah 70, Scheffler membukukan skor 60-an setiap harinya—perjalanannya 68-69-65-69 untuk skor total 17-under 271 menempatkannya lima stroke lebih baik daripada tempat kedua Tyrrell Hatton (65—276).
Itulah selisih kemenangan terbesar pada THE PLAYERS dalam 17 tahun dan terjadi pada musim di mana para pemain terbaik berkumpul dan menampilkan kompetisi yang tak boleh dilewatkan sama sekali. Dari 20 turnamen yang telah berlangsung pada musim 2022-2023 (hingga sebelum THE PLAYERS—ed.), 15 turnamen ditentukan dengan play-off dengan satu atau dua stroke dan empat stroke menjadi selisih kemenangan terbesar.
Namun, pada pekan ketika nama-nama besar mengalami kesulitan di lapangan golf yang menyulitkan itu—Rahm mundur karena sakit sebelum putaran kedua; McIlroy mengawali dengan skor 76 dan gagal lolos cut; Juara U.S. Open Matt Fitzpatrick tidak terlihat pada akhir pekan; Justin Thomas T60, dan Patrick Cantlay, Xander Schauffele, Tony Finau, dan Spieth semuanya berada di luar 15 besar—Scheffler tampil luar biasa dan terdengar tidak begitu kaget dengan permainannya sendiri.

”Menurut saya, saya hanya merasa nyaman dengan permainan saya,” ujar Scheffler, yang terpaut dua stroke dari puncak klasemen setelah mengawali dengan skor 68-69. ”Rasanya permainan saya meningkat. Saya jelas belajar lagi dan lagi begitu berada dalam posisi bersaing dan fokus pada saat yang ada.”
Melesat unggul dua stroke setelah bermain dengan skor 65 pada putaran ketiga, Scheffler menyingkirkan Minwoo Lee (76—260, T6) lebih awal, kemudian mulai melesat, diawali dengan chip-in birdie yang dramatis di hole 8 par 3. Yang memicu penampilannya bukanlah pukulan yang mustahil, tapi sesuatu yang ia lakukan dengan begitu indah.
”Saya berada dalam posisi di mana melakukan chipping itu tidaklah mudah, tapi malah sangat memungkinkan untuk melakukan up-and-down, beruntung bolanya masuk,” ujarnya.
Saat ini, hal itu lebih daripada sekadar keberuntungan, setidaknya dari posisi Spieth. ”Dia punya tangan yang mahir. Dia punya tiap jenis pukulan. Kalau rasanya Anda tak lagi punya jalan lain … cukup perhatikan dan mencoba dan sekadar mengeksekusinya saja.”
Yang terjadi selanjutnya ialah birdie di hole 9 par 5, 10 par 4, 11 par 5, dan 12 par 4. Semuanya tercipta dengan langkah yang lebih konvensional—tenaga Scheffler dari tee, presisi ke green, dan pukulan yang prima di atas green. Dengan tiap birdie, jaraknya kian jauh dan rasa percaya dirinya pun makin meroket.

Hatton telah menuntaskan permainannya, jadi 12-under miliknya tak lagi bisa lebih baik lagi. Dan mengingat enam pemain yang berjarak lima stroke dari Scheffler yang memimpin justru mengawali permainan mereka dengan mengalami kesulitan dan skor total mereka menjadi 19-over par pada putaran keempat itu, sang pimpinan klasemen pun kian yakin bahwa takkan ada pemain lain yang bisa mengejarnya.
Begitupun, ia tak pernah memikirkan hadiah utama US$4,5 juta (sekitar Rp67 milyar) dari total US$25 juta (sekitar Rp373 milyar) yang diperebutkan. ”Sama sekali tidak tahu,” Scheffler berkeras. Bahkan ia tidak bermikir untuk bermain aman.
”Kami hanya memainkan lapangan golf ini seperti yang selalu kami lakukan,” ujar Scheffler kepada kedinya, Ted Scott, ketika mereka melangkah menuju green hole 11. ”Dia bilang, ’Ya, pastilah. Buat apa mengubah segalanya?’”
Ted Scott ini memang bak sosok langganan, yang telah memenangkan dua gelar Masters sebagai kedi Bubba Watson dan menang untuk ketiga kalinya di Augusta dengan Scheffler pada musim semi lalu. Kenapa juga Scheffler mesti mengubah semuanya, mengingat ia selalu menang dan menang dan menang selama 13 bulan terakhir.
Jadi, ia tidak mengubah apa-apa. Ia tetap bermain agresif. Dan ia menang lagi, lebih meyakinkan daripada sebelumnya. Bagi Scheffler masa-masa yang indah ini terus bergulir.


