Chuah Choo Chiang mengeksplorasi bagaimana pilihan Jeeno Thitikul 16 tahun silam kini membawa sukacita dan harapan bagi golf wanita.
Oleh Chuah Choo Chiang
Ketika masih berusia 6 tahun, Atthaya ”Jeeno” Thitikul diperhadapkan pada keputusan terbesar dalam hidupnya yang masih muda. Ia harus menentukan antara tenis atau golf sebagai olahraga pilihannya. Demi golf, ia mengambil keputusan yang tepat.
Enam belas tahun kemudian, pegolf Thailand ini bertransformasi menjadi megabintang LPGA Tour, mempertegas posisinya dalam golf wanita dengan berhasil mempertahankan mahkota akhir musim CME Group Tour Championship pada akhir pekan lalu.
Pegolf No.1 Dunia yang berpembawaan ceria ini membawa pulang hadiah sebesar US$4 juta sebagai uang ”belanja”, menulis ulang buku sejarah dengan pembawaan khasnya yang tenang, semangat yang tak pernah lelah, dan pendekatan gigih, serta memberikan cukup alasan bagi kepemimpinan LPGA untuk menyadari adanya talenta besar yang terbentang sampai ke Timur di Asia.
Cukup mengerikan juga mengingat Jeeno baru berusia 22 tahun. Dengan dunia sebagai cangkangnya dan gelar Major dalam bidikan berikutnya, tentu banyak yang bisa diharapkan dari bakat besar yang membuat Komisioner LPGA Tour Craig Kessler mesti mengarahkan tim relasi publiknya untuk mengimbangi popularitas Jeeno yang sangat besar, begitu juga bintang-bintang Jepang, seperti Miyu Yamashita, pegolf kembar Chisato dan Akie Iwai, pegolf Korea Kim Seiyoung, dan pegolf China Yin Ruoning, yang menjadi amunisi penting bagi ambisi global Tour ini.

Jeeno, yang berasal dari Ratchaburi ini bicara soal kedewasaan sehingga satu saran yang ia berikan agar para pegolf yang penuh mimpi memetakan jalannya masing-masing, ketimbang meniru langkahnya yang melesat ke puncak sukses.
”Tiap orang punya jalannya sendiri. Beberapa pegolf amatir yang saya dengar berkata mereka ingin seperti Atthaya, tapi tidak mesti begitu. Tak seorang pun yang bisa persis sama seperti orang lain. Dan kalau mematok target yang mustahil seperti itu buat diri sendiri, kita takkan pernah menikmati olahraga ini,” ujarnya.
Menemukan kesukaan dalam hal yang ia lakukan, entah itu di lapangan, entah itu di luar lapangan, menjadi prioritasnya. Ikutilah kanal media sosialnya dan para penggemar akan melihat seorang Thai yang apa adanya dan menyenangkan, yang tak cuma mahir bermain golf.
Daftar penggemarnya yang makin bertambah termasuk bintang baru Thailand Fifa Laopakdee, juara Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) di Dubai bulan lalu. Fifa, yang baru berusia 20 dan mahasiswa tahun pertama pada Arizona State University dengan lugas menunjuk alasan mengapa Jeeno berbeda dibandingkan para pegolf lainnya.

”Melihatnya begitu dominan dan bagaimana ia mengendalikan diri sendiri, caranya bereaksi pada pukulan yang bagus, pukulan yang buruk sungguh mengagumkan,” tutur Fifa, yang menjadi pegolf Thai pertama yang menjuarai AAC dan mendapat undangan mengikuti The Masters dan The Open tahun depan.
”Dia selalu tersenyum dan selalu menertawakan pukulan yang buruk. Dia selalu menjadi orang yang paling menginspirasi saya. Meskipun luar biasa berbakat, dia juga seorang pekerja keras yang luar biasa. Dia punya kepribadian unik yang jarang dimiliki orang lain, dan selalu memancarkan energi positif. Dia memainkan peranan yang sangat besar tentang bagaimana saya ingin berada di lapangan.”
Tak seperti nama-nama besar dalam sejarah olahraga, Jeeno tidak diwarasi gen olahraga dari keluarganya. Meski demikian, sang ayah sangat berperan dalam memperkenalkannya pada olahraga. Beliau setelah membiarkannya menonton video tenis dan golf, di mana Jeeno memilih golf yang tidak memaksanya banyak berlari.
”Keluarga saya tidak main golf. Ketika masih kecil, usia 6 tahun, ayah saya menyuruh saya bermain olahraga dan menawarkan tenis atau golf, dan saya menonton golf di TV dan menyukainya,” tutur Jeeno, yang menjadi pegolf Thai kedua setelah Ariya Jutanugarn, yang menjadi pegolf No.1 Dunia.

Bintangnya benderang sebagai pegolf amatir. Dalam usia 14 tahun ia menjuarai Thailand Championship di panggung Ladies European Tour, dan menjadi pegolf termuda dalam sejarah yang memenangkan gelar profesional. Ia menjuarai ajang yang sama dua tahun kemudian, dan dengan kemenangan signifikan lainnya, termasuk Women’s Amateur Asia-Pacific Championship, ia memuncaki World Amateur Golf Ranking dalam dua kesempatan untuk menandakan perkembangannya yang menjanjikan.
Pegolf Selandia Baru Lydia Ko, yang juga sempat menjadi remaja berbakat dan kini anggota LPGA Hall of Fame, memuji bintang Thai yang juga termasuk dalam daftar Time 100 Next belum lama ini, sebagai salah satu bintang paling berpengaruh di dunia.
Ko menulis untuk majalah ternama itu, ”Mayoritas pegolf profesional sangat mahir dalam satu hal. Bagi beberapa pemain, mereka mahir dalam hal long game atau pukulan iron. Sedangkan yang lainnya putting atau chipping. Namun, bagi Jeeno Thitikul, ia mahir dalam semuanya. Saya melihat betapa gigih latihannya. Rasanya hanya soal waktu saja sampai ia bisa menjuarai ajang Major. Sebagai fenomena remaja yang menjadi pegolf peringkat atas, Jeeno memiliki permainan lengkap yang sungguh luar biasa. Dia memotivasi saya untuk menjadi pemain yang lebih baik, dan saya merasa beruntung bisa bermain bersamanya.”
Kemenangannya pada hari Minggu (23/11) lalu membuatnya mengangkat trofi LPGA ketiganya tahun ini, sekaligus yang ketujuh dalam kariernya. Ia juga memenangkan Rolex Player of the Year untuk kedua kali dalam kariernya, dan yang lebih penting lagi ia meraih Vare Trophy setelah mencatatkan skor rata-rata terendah musim ini, 68,681. Catatan ini melampaui rekor Annika Sorenstam yang bertahan sejak 2022 dengan rata-rata 68,696. Total ia meraih 14 kali finis di sepuluh besar dalam 20 turnamen musim ini dan mengantongi hadiah uang sebesar US$7,6 juta.

Nelly Korda, yang tergeser posisinya oleh Jeeno sebagai No.1 Dunia bulan Agustus lalu, mengagumi dominasi rivalnya itu tahun 2025 ini. ”Ya, cukup mengagumkan. Bakat besar, pemain hebat. Menyenangkan melihatnya menunjukkan keahliannya dari dekat. Sulit dipercaya ’kan? Bisa mengalahkan rekor yang bertahan lama sejak 2002 …. Rekor yang bertahan hingga 2025 itu saja sudah sulit dipercaya. Semua ini menegaskan bahwa pemain-pemain hebat tidak sering muncul,” tutur pegolf Amerika, yang sejauh ini telah menjuarai 15 gelar LPGA Tour ini.
Meski demikian, bagi Jeeno, yang ia inginkan ialah menjadi dirinya sendiri.
”Apa pun yang Anda lakukan dalam karier tidak mendefinisikan siapa diri Anda dan tidak menunjukkan siapa saya sebagai Jeeno,” ujarnya. ”Saya kira hidup saya masih akan tetap sama. Saya masih harus memukul bola. Saya masih harus melakukan putting dan chipping. Semua kemenangan yang saya miliki saat ini, siapa saja bisa mengambilnya dari saya. Menurut saya, saya masih menjadi bagian dari umat manusia seperti kalian semua. Saya harus bekerja. Mesti melakukan banyak hal. Ada momen-momen yang menyenangkan; ada juga momen-momen yang menyedihkan. Begitulang meringkas deskripsi kehidupan.”
Tentang Penulis
Chuah Choo Ciang sempat memimpin di sektor relasi publik dan pemasaran untuk PGA Tour dan Asian Tour selama lebih dari 20 tahun dan kini mengelola firma konsultasi relasi publiknya sendiri di Malaysia.

