Mandiri Indonesia Open yang baru lalu kembali menegaskan prospek golf di Indonesia dalam skala besar.

Gelaran Mandiri Indonesia Open mungkin sudah berlalu, akan tetapi efek yang diciptakan dari kehadiran para pegolf kelas dunia di Pondok Indah Golf Course itu bisa sangat luar biasa.

Menyusul jeda kompetisi yang cukup panjang pada kancah Asian Tour, sebagian besar juara pada sirkuit papan atas Asia ini pun memutuskan mengejar catatan sejarah dengan bertolak ke Jakarta. Setidaknya 26 pegolf dengan total 78 gelar Asian Tour meramaikan kompetisi pada pekan pertama bulan Agustus itu.

Catatan ini memang masih belum termasuk mereka yang telah memenangkan kejuaraan di sirkuit-sirkuit, sepetri DP World Tour, Sunshine Tour, All Thailand Golf Tour, Korean PGA Tour, maupun Japan Golf Tour Organization. Pegolf Afrika Selatan, seperti Jaco Ahlers, misalnya telah menikmati enam gelar Sunshine Golf Tour—yang juga mendapat status pada Official World Golf Ranking. Sedangkan Lee Soomin telah mengoleksi empat kemenangan di Korea dengan satu gelar DP World Tour. Dengan demikian, bisa dibilang Mandiri Indonesia Open kali ini benar-benar menampilkan para jawara kelas dunia.

Tiga di antara para jawara itu merupakan pemenang kejuaraan paling bersejarah di Indonesia ini. Selain Raja Indonesia Open Gaganjeet Bhullar (2013, 2017, dan 2022), Panupol Pittayarat (2016) dan Miguel Carballo (2019) juga turut menambah kualitas peserta yang hadir.

”Saya belajar banyak dari melihat bagaimana pemenang Asian Tour bermain,” ujar Kevin Caesario Akbar, yang sempat ternganga menyaksikan pemegang enam gelar Asian Tour Chapchai Nirat mencapai green dengan satu pukulan di hole 4 par 4 di Pondok Indah Golf Course. ”Ketika menarik stik, mereka sudah tidak khawatir bakal memukul ke kanan atau ke kiri. Mereka sudah memiliki rasa percaya diri yang sungguh luar biasa ketika bermain. Hal seperti itulah yang mesti saya miliki supaya nantinya bisa bersaing dengan lebih baik.”

 

Kevin Caesario Akbar, Round 4 Mandiri Indonesia Open 2023.
Kevin Caesario Akbar (kiri) mencatatkan skor terbaiknya selama mengikuti Indonesia Open, membukukan total 5-under 283, melampaui skor yang ia raih tahun 2019. Foto: GolfinStyle.

 

Cuaca panas turut membuat lapangan garapan Robert Trent Jones Jr. tersebut menjadi lebih keras. Meskipun para peserta menikmati tantangan tersebut, mereka harus kewalahan menghadapi angin yang kerap berubah-ubah arah, yang kian menyulitkan melakukan pukulan approach demi menciptakan peluang birdie.

Meskipun begitu, lima punggawa Merah Putih menikmati pengalaman bermain penuh pada kejuaraan nasional terbuka ini. Memang tidak ada yang akhirnya bisa mengulangi prestasi sang legenda Kasiadi (1989). Akan tetapi, keberhasilan Gabriel Hansel Hari untuk finis di posisi T9 dengan skor total 13-under 275 memberikan prospek yang membanggakan.

Mahasiswa University of Oregon ini menikmati libur musim panas yang sangat produktif: menjuarai turnamen amatir Medco Pondok Indah Amateur Golf Championship dan mengikuti jejak Naraajie Emerald Ramadhan Putra ketika finis di sepuluh besar tahun 2019 silam. Meski finis T9, lima posisi di belakang Naraajie, catatan skornya satu stroke lebih baik daripada raihan seniornya, yang hanya bisa bermain dalam dua putaran pertama.

Adapun Jonathan Wijono dan Kevin Caesario Akbar memperbaiki catatan penampilan mereka pada ajang ini. Jonathan finis satu posisi dan satu stroke lebih baik daripada penampilannya tahun lalu. Jika tahun 2022 ia finis T34 dengan skor total 281, kali ini ia finis T33 dengan total 280. Adapun Kevin, meskipun tahun 2019 finis T50 dan kini finis T51, catatan skornya mengalami peningkatan signifikan. Dari sebelumnya hanya bermain 2-under 286, kini ia bisa finis dengan skor 283.

Sementara Nasin Surachman, satu-satunya pegolf veteran yang menembus putaran akhir pekan, dan Elki Kow berhasil menikmati putaran akhir pekan untuk pertama kalinya dalam karier mereka.

 

Gabriel Hansel Hari, Round 4 Mandiri Indonesia Open 2023.
Gabriel Hansel Hari mengikuti jejak Naraajie Emerald Ramadhan Putra yang mencapai finis di sepuluh besar sebagai amatir. Foto: Yongki Hermawan.

 

Sukses lima sekawan ini, terutama dengan antusiasme yang Hansel ciptakan oleh prestasinya, bakal menjadi inspirasi berharga tidak hanya bagi Hansel, tapi juga generasi berikutnya.

”Saya berharap mentransfer prestasi ini ke NCAA di Amerika. Targetnya pastinya memenangkan NCAA Championship supaya bisa mengikuti Masters Tournament. Saya juga berniat bisa berada di ranking atas PGA TOUR University, di mana peringkat teratasnya bisa langsung ke PGA TOUR sementara peringkat dua hingga peringkat lima bisa mengikuti Korn Ferry Tour,” ujar Hansel.

Efek Pariwisata dari Golf
Kehadiran rombongan pegolf profesional dari luar negeri turut memberi dampak positif bagi pariwisata Indonesia. Sebagian besar mereka bertolak ke Jakarta dalam tim kecil, yang artinya hampir semua mereka memasuki Indonesia tidak sendirian.

Mereka yang pertama kali menyaksikan langsung potensi besar golf sebagai harta terpendam pariwisata Indonesia, mengaku pengalaman pertama ini sungguh di luar harapan. Sementara mereka yang sudah berkali-kali bertanding di Indonesia terus menegaskan betapa mereka menikmati tiap kunjungan ke Nusantara.

Pegolf Afrika Selatan M.J. Viljoen bahkan mengaku mulai mempertimbangkan Indonesia sebagai basis domisilinya untuk melakoni karier profesionalnya di Asia.

 

Miguel Carballo, Round 4 Mandiri Indonesia Open 2023.
Juara Indonesia Open 2023 Miguel Carballo menyebut Indonesia sebagai rumah keduanya. Foto: GolfinStyle.

 

”Saya sangat menikmati Jakarta, sungguh menyenangkan. Saya sudah beberapa kali ke Thailand dan ketika mempertimbangkan membuat basis domisili, saya mempertimbangkan Thailand, tapi sekarang saya harus berpikir ulang,” ujarnya. ”Saya sangat menikmatinya, mall yang di sebelah lapangan golf ini sangat membuat nyaman. Saya sangat ingin kembali ke Indonesia untuk liburan.”

Viljoen telah melepas masa lajangnya dengan Kyla Westraadt pada 8 April 2023 lalu. Akan tetapi, pasangan muda ini tidak sempat berbulan madu. ”Saya menikah bulan April lalu dan belum pergi berbulan madu. Sehari setelah pernikahan saya terbang ke Vietnam untuk mengikuti International Series, jadi saya masih terbuka soal ke mana saya mesti berbulan madu, tapi saya mesti segera memutuskan dan berbulan madu kalau tidak ingin menghadapi masalah (dengan istri saya),” ujarnya bercanda.

Sementara itu, Juara Indonesia Open 2019 Miguel Carballo menyebut Indonesia sebagai rumah kedua baginya. Sebelum meraih kemenangan di Pondok Indah tahun 2019 itu, ia juga memenangkan ajang Asian Development Tour, Ciputra Golfpreneur Tournament 2018.

”Saya suka Indonesia dan tiap kali datang ke sini saya selalu bisa main bagus. Lapangan-lapanagnnya bagus dan sangat cocok buat permainan saya dan tiap kali bertanding di sini saya bisa main bagus. Ya, Indonesia bisa dibilang menjadi rumah kedua saya, saya dua kali menang di sini,” ujarnya.

Selain keramahan masyarakat dan keragaman budaya Indonesia, para pegolf internasional ini menyebut kemudahan pengurusan visa dan jalur penerbangan internasional yang banyak menjadi bagian dari alasan mengapa mereka selalu senang bisa mengikuti ajang Asian Tour di Indonesia.

 

Richard T. Lee, Round 2 Mandiri Indonesia Open 2023.
Richard T. Lee dari Kanada menyebut antrian saat mengajukan Visa on Arrival menjadi tantangan bagi tamu internasional. Foto: Graham Udel/Asian Tour.

 

”Ya, bagi kami warga Argentina, berkunjung ke Indonesia tidaklah susah. Dan kami juga tidak perlu jauh-jauh hari mengurus visa karena visa bisa diurus langsung saat kedatangan,” tutur Carballo, yang juga pernah berkompetisi di panggung PGA TOUR ini.

Hal yang sama turut diutarakan Viljoen, ”Hanya butuh lima menit buat mengurus visa. Sangat mudah untuk berkunjung ke Indonesia, meskipun memang ada perbedaan waktu,” ujar pegolf berusia 28 tahun ini.

Kemudahan pengurusan visa juga diakui pegolf Kanada berdarah Korea Richard T. Lee, yang telah mengoleksi dua gelar Asian Tour. ”Para pemain Asian Tour sangat senang bermain di seluruh Asia, lapangan-lapangannya juga sangat bagus dan kondisi cuacanya juga bagus. Di sini tersedia visa on arrival, tapi antriannya memang agak panjang kalau tidak segera mengantri, tapi hal-hal lainnya terbilang bagus,” ujarnya.

Salah satu perwakilan sponsor belum lama ini sempat mengungkapkan bahwa upaya mengejar prestasi bangsa adalah pekerjaan yang mesti digarap secara gotong-royong. Mandiri Indonesia Open sendiri menjadi pembuka kompetisi internasional di Indonesia hingga setidaknya Desember mendatang. Dengan sejumlah sponsor sudah berkomitmen mengadakan turnamen internasional, baik berskala Asian Development Tour maupun Asian Tour, pemerintah Indonesia pun dapat mempermudah kedatangan para pegolf profesional mancanegara tersebut.

Bisa dibayangkan jika mereka bisa memiliki jalur pengajuan visa on arrival khusus bagi peserta kompetisi internasional, peluang para atlet profesional ini untuk juga menjadi wisatawan di tempat diadakannya kompetisi jelas akan lebih besar lagi. Dan atlet profesional ini jelas akan menciptakan efek yang lebih besar lagi mengingat ajang seperti Mandiri Indonesia Open turut disiarkan secara global.