Kemenangan Jon Rahm menjadi salah satu kisah menonjol di balik sejumlah hal yang cukup menyakitkan di Augusta National tahun 2023 ini.

Oleh Jim McCabe.

Tatkala hujan deras tercurah Jumat itu dan menciptakan bencana, baik pada putaran kedua yang baru bisa tuntas pada hari Sabtu, dan putaran ketiga yang berakhir hari Minggu, jelas panitia yang menjalankan Masters Tournament di Augusta National Golf Club, di Augusta, Georgia butuh keajaiban cuaca.

Persis itulah yang mereka dapatkan. Pertama, cuaca hari Minggu—sejuk, tapi matahari bersinar cerah—yang memungkinkan para pemain di jajaran atas klasemen bermain sebanyak 30 hole. Kemudian pemenang sempurna yang menjuarai kejuaraan terkemuka dalam golf profesional: pemain terbaik di dunia.

Ya, Jon Rahm, menyandang status No.1 Dunia (tatkala menjuarai Masters—Red.) pada Official World Golf Rankings dan sangatlah layak ketika ia mengenakan Jaket Hijau. Pegolf berusia 28 tahun asal Barrika, Spanyol ini mengikuti jejak pegolf senegaranya Seve Ballesteros, Jose Maria Olazabal, dan Sergio Garcia dalam mengejar gelar Major, memainkan 30 hole pada hari Minggu, dalam sesi marathon yang memang terpaksa terjadi akibat curah hujan yang tinggi mulai Jumat hingga Sabtu petang.

Bahwa edisi ke-87 Masters ini berujung pada Scottie Scheffler yang memasangkan Jaket Hijau kepada Jon Rahm terlihat sebagai sesuatu yang sudah selayaknya terjadi. Keduanya adalah dua pegolf terbaik di dunia dalam dua musim terakhir. Mereka bergantian menempati posisi teratas itu dan jika empat kemenangan Scheffler musim 2021-2022 membuatnya sebagai pemain unggulan, empat kemenangan Rahm dalam sepuluh turnamen yang ia ikuti musim 2022-2023 pada PGA TOUR menjadi jawaban yang meyakinkan.

 

Jon Rahm, Juara Masters Tournament 2023.
Jaket Hijau pertama yang dimenangkan persis pada ulang tahun ke-66 Seve Ballesteros menggarisbawahi pentingnya legenda Spanyol itu bagi Jon Rahm. Foto: Getty Images.

 

Bukan berarti mereka tidak punya kesempatan untuk melunasi utang, tidak dengan PGA Championship bulan Mei (Scheffler finis T2; Rahm finis T50—Red.), U.S. Open bulan Juni (Scheffler finis T3; Rahm finis T10—Red.), dan The Open Championship bulan Juli, Bersama hadiah utama PGA TOUR, FedExCup bulan Agustus. Tiga Major dalam periode singkat menawarkan suguhan yang menggiurkan sembari Anda meresapi Langkah Rahm yang membukukan skor 65-69-73-69 untuk 12-under 276 dan kemenangan Major keduanya, sembari mengapresiasi Scheffler, yang baru berusia 25 tahun, dan menunjukkan upaya mengagumkan untuk mempertahankan gelarnya dan finis T10 dengan 4-under 284.

Ada banyak alasan untuk menyukai The Masters tahun 2023 ini. Bukan hanya lantaran Rahm meraih kemenangannya dengan mengatasi kekuatan alam. Bukan pula hanya fakta bahwa ia melampaui pemegang empat gelar Major (kala itu) Brooks Koepka, yang ia hadapi secara langsung dalam 36 hole terakhir, di atas lapangan yang disirami hujan deras. Namun, ada pula serangkaian performa dari pegolf Norwegia Viktor Hovland, yang mengawali pekan itu dengan skor 65 dan berada dalam perburuan gelar sepanjang 72 hole.

Pekan yang meriah, meskipun Rahm menjadi atraksi utama dan penjelasan Fred Ridley, Ketua Augusta National, memastikan semua orang tahu apa yang mendorongnya. ”Empat puluh tahun silam, pahlawanmu, Seve Ballesteros, memenangkan Jaket Hijau keduanya; hari ini, Anda memenangkannya untuk pertama kalinya dan prestasi ini terjadi pada harinya (ketika Seve mestinya berusia 66 tahun).”

Rahm berjuang mengendalikan emosinya. ”Sejarah olahraga ini memainkan peranan besar dalam menjadi alasan mengapa saya memainkannya,” ujar Rahm. ”Seve menjadi salah satunya.”

 

Scottie Scheffler, Round 4 Masters Tournament 2023.
Scottie Scheffler telah tiga kali finis di sepuluh besar dalam tiga Major pertama 2023—T10 pada Masters Tournament, T3 pada PGA Championship, dan T2 pada U.S. Open. Foto: Getty Images.

 

Itulah alas an mengapa ajang Masters kali ini dianggap sebagai ajang yang pahit. Ya, Rahm layak mendapatkan penghargaan dan kenangan akan Ballesteros merupakan hal yang istimewa, tapi figur bersejarah lain turut terlibat dalam The Masters dan kehadirannya memberi nuansa menyedihkan. Dalam usia 47 tahun, Tiger Woods gagal membuktikan bahwa ia mampu memenangkan Jaket Hijau keenamnya.

Bertanding dalam kompetisi kedaunya pada musim ini dan ke-21 kalinya dalam empat tahun sejak kemenangannya yang mengejutkan pada Masters 2019, Woods harus mengalami kekecewaan lantaran penampilannya memberinya skor 73-74 dan membuatnya lolos cut untuk ke-23 kali secara berturut-turut dalam ajang Major yang sangat ia cintai ini. Namun, langkahnya tidak berlanjut lebih jauh dan jelas menyedihkan melihatnya tak dapat menuntaskan pekan itu.

Sebelum hukan menyapu Augusta National Golf Club pada Sabtu itu, Woods memukul bolanya ke air di hole 15 dan 16 dan terlihat pincang. Sungguh sulit melihat kompetitor mana pun mengalami rasa sakit yang demikian, tapi yang lebih buruk lagi ialah melihat hal itu terjadi pada salah satu bakat terbesar yang pernah dikenal dalam olahraga ini.

Woods tak sekadar memenangkan lima Jaket Hijau, tapi 15 kejuaraan Major secara totalnya dan ketika Anda membahas soal pemain paling penting dari generasinya, Anda akan memulai dengan Namanya dan tidak perlu melihat lebih jauh. Ungkapan yang terkenal berbunyi, ”Woods tidak membutuhkan jarum; dialah jarumnya.”

 

Tiger Woods, Round 2 Masters Tournament
Tiger Woods menjadi alasan lain mengapa Masters Tournament tahun 2023 ini turut menghadirkan pemandangan yang menyedihkan. Foto: Getty Images.

 

Secara khusus ia menguitp kehadiran rasa sakit plantar fasciitis (fascia plantar yang menyebabkan nyeri tumit) usai memutuskan mundur, tapi sesungguhnya, Woods juga bisa menyebut serangkaian operasi di punggungnya, kaki dan engkelnya, dan juga lututnya. Meskipun ia masih punya kemampuan koordinasi tangan dan mata yang dibutuhkan untuk memukul bola golf, kekuatan dan pergerakannya kini terbatas dan sangat jelas terlihat sampai Anda pun bisa membayangka tiap kali ia bersiap di belakang tee akankah momen ini menjadi momen terakhirnya.

Dalam jumpa pers ia membahas hasratnya untuk bermain dalam kejuaraan Major. Namun, semua itu menuntut berjalan dalam durasi panjang dan lama. Belum lagi kekuatan dan stamina yang dibutuhkan dalam sesi-sesi latihan jika ia ingin tampil di hadapan publik dengan permainan yang prima. Dan jangan salah juga, kebanggaan Woods itu tak pernah hilang dan ia menjadi pemain terbesar dari generasinya—dan mungkin sepanjang masa—dengan mendedikasikan dirinya untuk mengejar kesempurnaan.

Seandainya ia tidak bisa mempersiapkan dirinya, orang bisa bertanya-tanya akankah ia memang ingin kembali bertanding.

Akankah ini menjadi penampilan terakhirnya pada The Masters? Firasat kita tentu tidak. Oleh karena ia begitu mencintai turnamen ini, ia akan melakukan segalanya untuk bisa kembali bertanding pada bulan April 2024, bahkan jika ini berarti ia mesti mengistirahatkan badannya selama berbulan-bulan dan absen dari kejuaraan Major musim panas ini.

Woods sangat paham bahwa olahraga ini dipegang oleh generasi Tangguh, seperti Rahm. Masters tahun ini membuktikan hal tersebut. Namun, kita juga tahu kalau Woods layak menjalani pintu keluar yang lebih megah. Masters tahun ini juga membuktikan hal tersebut.