Rayhan Latief menciptakan finis terbaiknya pekan ini dengan skor 70 sekaligus berpeluang memecahkan rekor berusia 15 tahun bagi Indonesia pada Asia-Pacific Amateur Championship.
George Gandranata sempat kaget lantaran finis T17 yang ia ciptakan di Singapura tahun 2011 silam masih bertahan. Terutama mengingat para pegolf Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk bahkan menembus sepuluh besar.
Peluang terpecahnya finis terbaik Indonesia pada Asia-Pacific Amateur Championship itu sempat terbuka pada edisi 2024, tatkala Randy Bintang menjadi pegolf Indonesia pertama yang memimpin pada akhir putaran pertama. Sayangnya, ia hanya bisa finis di peringkat T19, meskipun catatan tersebut menjadi prestasi terbaik baginya.
Pencapaian terbaik itu hanya terulang pada edisi tahun lalu ketika Rayhan Latief menyamai finis T17. Kala itu Rayhan bermain satu stroke lebih baik dari catatan George, berkat finis dengan skor total 4-under.
Lalu untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, peluang kembali tercipta. Kali ini Rayhan berada di posisi yang ideal menyusul finis terbaiknya pada pekan ini dengan skor 1-under 70 di South Course, di Te Arai Links, Selandia Baru. Setelah dalam dua putaran sebelumnya terpaksa mencatatkan skor 73-75, skor total 5-over 218 membawanya duduk di posisi T14.
Setelah bermain 1-under berkat dua birdie dan sebuah bogey di sembilan hole pertamanya, Rayhan harus mendapat double bogey di hole 11, disusul dengan bogey di hole berikutnya.
”Harusnya bisa lebih baik daripada prestasi tersebut. Saya hanya perlu menempatkan diri di posisi yang bagus dan fokus pada prosesnya tiap kali saya ke lapangan dan bermain.” — Rayhan Latief.
Akan tetapi, tiga birdie di tiga hole terakhir memberinya skor di bawah par pertama pada pekan ini, yang sekaligus melambungkan posisinya sebanyak 11 peringkat.
”Tiga birdie berturut-turut, putaran ini membuat saya serasa menaiki wahana luncur,” ujar Rayhan. ”Saya mendapat double bogey di hole 11 dan kemudian bogey di hole 12, jadi menurut saya itu momen yang cukup krusial.”
Hasil positif ini jelas ikut membangkitkan rasa percaya diri Rayhan.
”Pastinya saya bisa melakukannya untuk diri saya dan untuk Indonesia, tapi menurut saya, saya bisa main lebih baik daripada tahun lalu, daripada ketika finis T17,” ujar mahasiswa tingkat dua pada University of North Texas ini.
Meski yakin akan kemampuannya, ia juga lekas kembali pada apa yang menjadi targetnya sejak semula.

”Harusnya bisa lebih baik daripada prestasi tersebut. Saya hanya perlu menempatkan diri di posisi yang bagus dan fokus pada prosesnya tiap kali saya ke lapangan dan bermain.”
Sementara itu, pemain debutan Indonesia Jayawardana Dornan harus menuntaskan putaran ketiga dengan skor 77 sehingga kini mencatatkan skor total 16-over 229, di posisi T45.
Seperti halnya Rayhan, Randy Bintang juga berhasil memperbaiki kartu skornya dengan bermain tujuh stroke lebih baik daripada skor 82 yang ia ciptakan pada putaran kedua. Dengan skor total 230, ia akan memulai putaran final dari peringkat T48.
Pimpinan klasemen kini ditempati oleh pegolf tuan rumah, Zack Swanwick, setelah kembali bermain dengan skor 4-under 67. Ia hanya mencatatkan satu bogey dan menciptakan lima birdie untuk menggeser juara bertahan Fifa Laopakdee (73) dari posisi teratas, sekaligus membuka peluang untuk menjadi pegolf Selandia Baru pertama yang memenangkan ajang ini.
”Saya kira saya mesti mengikuti rencana permainan saya. Pukul ke fairway dan ke green. Saya jarang memukul ke spot-spot tersebut untuk beberapa lama, dan akan berusaha menikmati setiap saatnya,” ujar pegolf berusia 20 tahun yang kini menduduki peringkat 24 pada World Amateur Golf Ranking ini.

