Rayhan Latief siap melangkah menuju Asia-Pacific Amateur Championship di Te Arai Links, Selandia Baru dengan modal berharga.
Ada rasa percaya diri baru yang membara dalam diri Rayhan Latief. Pegolf berusia 19 tahun ini mendapatkan modal berharga menjelang penampilan kelimanya pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship, yang akan berlangsung di Te Arai Links, Selandia Baru pekan depan.
Rayhan, yang kini duduk di tingkat dua pada University of North Texas (UNT) kian sering terpilih masuk tim golf kampusnya. Dari tiga turnamen NCAA Divisi I yang ia ikuti, Rayhan dua kali menjadi bagian penting timnya dalam meraih hasil positif. Dan ketika bertanding sebagai individu, ia juga berhasil menembus 15 besar, sebelum kemudian mencatatkan lima besar pertama dalam kariernya di level NCAA.
Mengawali musim kompetisi di AS pada awal September lalu, Rayhan ikut membantu timnya finis di peringkat ketiga pada ajang Island Resort Intercollegiate, meskipun ia harus finis di peringkat T38.
Ia memang tidak ikut menjadi bagian dari tim kampusnya ketika bertolak untuk ajang Argent Financial Classic akhir September lalu. Akan tetapi, ia mencatatkan skor total pertamanya di bawah par untuk finis di posisi T12.

Sepekan setelah itu, ia kembali berkontribusi dengan menjadi pemain terbaik dari timnya. Ia membukukan skor 69-75-71 untuk finis sendirian di tempat keempat, sekaligus membawa tim UNT finis di peringkat ketiga.
”Saya mengalami perkembangan yang luar biasa tahun ini bersama Tim Golf UNT. Mereka punya program yang sangat bagus, dan tiap hari mereka mencatat hampir segalanya dari permainan, persiapan fisik, dan permainan mental saya,” ujar Rayhan.
”Menurut saya, kami punya tim yang sangat hebat dan orang-orang hebat yang mengurus kami, dari persiapan tubuh dan fisik sampai permainan golf dan mental saya. Saya sangat bersemangat dan percaya diri dengan persiapan yang saya miliki menuju AAC tahun ini.”
Berada dalam kondisi permainan yang prima jelas akan sangat krusial untuk mewujudkan mimpinya menjadi pegolf Indonesia pertama yang menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship ini. Setelah tahun lalu ia berhasil menyamai finis terbaik Indonesia yang diciptakan George Gandranata tahun 2011 dengan finis T17, kini ia berharap bisa menjadi salah satu penantang gelar, menghadapi juara bertahan asal Thailand Fifa Laopakdee, peraih tempat ketiga tahun lalu Taisei Nagasaki asal Jepang, dan pegolf No.1 Filipina Jaden Dumdumaya.
”Secara khusus saya bersemangat untuk bermain di lapangan Istimewa, seperti Te Arai Links,” ujarnya lagi. “Saya kira lapangan ini akan menjadi ujian yang sangat bagus. Dengan kondisi dan kesulitan di lapangan, siapa pun yang juara akan menjadi pemenang yang layak.
”Saya kira, yang menjadikan AAC unik ialah bahwa tiap tahun Anda bisa bertemu banyak teman dan wajah-wajah baru dari berbagai latar belakang, negara, dan budaya yang berbeda.”
”Rasanya juga Istimewa bisa mengenal pemain seperti Fifa dan mengikuti perjalanannya. Saya bangga terhadap dirinya dan semua pencapaiannya. Saya menyaksikan beberapa tayangan langsungnya (yang menyiarkan permainan Fifa). Pengalaman itu sungguh luar biasa baginya. Kami sudah bermain bersama sejak Junior Presidents Cup 2022, jadi tentunya saya merasa sangat senang melihatnya memainkan dua turnamen besar itu dan mendapatkan pengalamannya.”
Pegolf yang telah dua kali membawa Indonesia menjadi bagian dari Junior Presidents Cup yang prestisius ini telah berkali-kali menekankan pentingnya ajang Asia-Pacific Amateur Championship ini bagi pegolf seperti dirinya. Selain kesempatan menuju ajang Major di mana sang juara berhak bertanding pada Masters Tournament dan The Open Championship, kompetisi yang diprakarsai oleh Asia-Pacific Golf Confederation (APGC) bersama The R&A dan Masters Tournament ini juga memberi peluang untuk mengenal para pegolf terbaik di wilayah Asia Pasifik.
”Turnamen ini sangat penting buat saya. Ini turnamen tahunan yang sangat menjadi prioritas saya tiap tahun mengingat betapa istimewanya kesempatan ini. Kalau menang, Anda berpeluang mengikuti dua kejuaraan major, jadi alasan itu menegaskan mengapa Kejuaraan ini sangat berarti,” tuturnya.
”Saya kira, yang menjadikan AAC unik ialah bahwa tiap tahun Anda bisa bertemu banyak teman dan wajah-wajah baru dari berbagai latar belakang, negara, dan budaya yang berbeda. Saya kira itulah yang membuat AAC ini Istimewa dan unik.
”Level persaingannya selalu tinggi. Ada banyak pemain amatir dari seluruh Asia Pasifik, jadi Anda paham kalau Anda mesti bermain dengan baik agar bisa bersaing.”

Salah satu tantangan terbesar bagi pegolf Indonesia ialah tidak ada lapangan berkarakter links yang bisa memberi pengalaman seperti yang bakal mereka hadapi di Te Arai Links nanti. Lapangan yang menyuguhkan 16 hole dengan pemandangan langsung ke lautan Samudra Pasifik ini akan memberi ujian yang berat dengan embusan angin kencang yang tak dapat ditemukan di Indonesia.
Toh tantangan tersebut tak meredupkan asa Rayhan, yang tahun lalu menjadi pegolf Indonesia pertama yang sukses mempertahankan kemenangan pada ajang Ciputra Golfpreneur Junior World Championship, turnamen yang digelar oleh Ciputra Golfpreneur Foundation, yayasan yang sejak 2021 mendukungnya ini.
”“Target pribadi saya untuk Selandia Baru, tentunya, memenangkan turnamen ini. Pasti tidak akan mudah mengingat kondisi dan lapangannya, tapi saya sudah banyak latihan dengan kondisi angin di Texas, makanya saya merasa percaya diri menuju Te Arai Links dan yakin saya bisa bermain dengan baik,” ujarnya.
”Bisa bermain dalam dua ajang major, terutama The Masters dan The Open, sudah menjadi salah satu target saya. Pasti akan luar biasa bila bisa mewujudkannya tahun ini. Saya sudah berlatih keras sebagai persiapan, dan rasanya saya sudah melakukan semua yang saya bisa untuk menempatkan diri saya agar bisa bersaing untuk kemenangan. Semoga saja saya bisa mewujudkannya di Selandia Baru.”
Rayhan akan ditemani oleh Randy Bintang, Kenneth Sutianto, William Wijaya, Asa Najib Bhakti, dan pemain debutan Jayawardana Dornan pada Kejuaraan yang akan mulai bergulir pada 29 Oktober-1 November pekan depan ini.

