Rayhan Latief siap mengejar impian masa kecilnya dengan almarhum sang ayah sebagai semangat tambahan untuk bersaing pada Asia-Pacific Amateur Championship, Kamis (23/10) besok.
Bagi Rayhan Latief, sosok sang ayah, Hasanuddin Abdul Latief, adalah sosok yang sangat berperan memperkenalkan golf kepadanya. Meskipun almarhum telah setahun lebih berpulang, Rayhan meyakini sang ayah masih akan menjadi bagian dari perjuangannya ketika memulai penampilan keempatnya secara berturut-turut pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship, yang mulai berlangsung di Majlis Course, Emirates Golf Club, Kamis (23/10) besok.
Pegolf berusia 18 tahun ini menuturkan bagaimana selama sosok almarhum Hasanuddin, dan sang ibu, Sunarni Darmoredjo, telah mengorbankan banyak hal baginya.
”Mereka kerap memberikan 1.000 persen usaha mereka; bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan buat saya. Sekarang saya mesti memberikan usaha semaksimal mungkin demi kebaikan diri saya,” tutur Rayhan, yang menyandang status sebagai pegolf amatir terbaik Indonesia berdasarkan World Amateur Golf Ranking, dengan menempati No.266 Dunia.
”Beliau bisa menanamkan mental pembunuh di dalam diri saya. Beliau bisa mengangkat saya dari bawah hingga ke atas. Beliau tahu cara memotivasi saya, menyemangati saya ketika patah arang. Beliau sepenuhnya mengenal saya.”
”Saya benar-benar berharap dan tahu kalau saya bisa memiliki kesempatan untuk bermain di Augusta National tahun depan, minimal dalam waktu dekat. Ayah saya pasti akan senang sekali.”
Ketika mengobrol dengan orangtuanya tak selalu menciptakan rasa nyaman bagi kebanyakan anak, Rayhan justru menikmati bertukar pikiran dengan almarhum. Tidak mengherankan jika sang ayah memberikan pengaruh yang sangat kental dalam pertumbuhannya.
”Beliau banyak membantu saya, tahu kapan bersikap keras dan kapan bersikap lembut. Pengaruh beliau buat saya sangatlah besar,” sambung Rayhan.
Almarhum memperkenalkan olahraga ini kepada putranya ketika Rayhan masih berumur 8 tahun. Tidak ada niatan untuk mendorongnya menjadi atlet. Sampai mereka menemukan kanal YouTube milik Karl Vilips. Saat itu, pegolf asal Australia ini merupakan salah satu pemain muda yang sangat menonjol. Kini ia bahkan telah berstatus juara di sirkuit PGA Tour.
”Kami tak berniat untuk ikut turnamen-turnamen internasional. Tapi kemudian kami mulai menonton kanal YouTube Karl, dan ayah meminta saya untuk mulai serius dengan golf saya,” kenang Rayhan.

Ia masih ingat ketika mencatatkan skor 114 dan 108 pada kejuaraan nasional tahun 2015. Perlahan-lahan Rayhan memperbaiki permainannya, mencari pelatih dan bertemu Tony Blacker. Pelatih asal Australia yang sempat menetap di Indonesia ini ikut berperan dalam meyakinkan Rayhan bahwa ia bisa lebih kompetitif jika bertanding di luar negeri.
Meski demikian, frekuensi sang ayah yang kerap membawa pulang piala ternyata ikut menjadi pembakar semangat Rayhan untuk makin menekuni golf.
”Ayah saya benar-benar maniak golf. Beliau sudah bermain golf selama lebih dari 40 tahun, dan tiap bulan selalu membawa pulang pula. Saya pun ingin melakukan hal yang sama, dan itulah titik balik buat saya untuk mulai bermain golf dengan lebih serius.”
Kenangan manis lainnya ialah tatkala menyaksikan Masters Tournament 2004 bersama sang ayah. Kala itu Phil Mickelson memenangkan Jaket Hijau untuk pertama kalinya, dengan menyebut peran sang kakek yang ikut ”mengarahkan” putt-nya agar masuk dan meraih kemenangan di hole 18 pada putaran final kala itu.

Momen tersebut turut membuatnya yakin bahwa kenangan dan arwah sang ayah akan ikut memandunya ketika memulai persaingan menghadapi para pegolf terbaik se-Asia Pasifik pekan ini.
”Saya dan ayah membahas bagaimana kakek Phil menginginkannya untuk memenangkan The Masters, yang ia wujudkan tahun 2004. Hal pertama yang muncul dalam benak Phil ialah ’Saya pikir beliau mengarahkan bola itu untuk masuk’ baginya agar memenangkan The Masters,” kenang Rayhan.
”Saya mengingat hal tersebut lagi sekarang. Saya benar-benar berharap dan tahu kalau saya bisa memiliki kesempatan untuk bermain di Augusta National tahun depan, minimal dalam waktu dekat. Ayah saya pasti akan senang sekali.”
Jelas masyarakat golf Indonesia masih harus menunggu hingga hari Minggu (26/10) nanti untuk melihat jawabannya. Akan tetapi, George Gandranata, yang telah dua kali mengikuti kejuaraan ini dan memegang rekor pencapaian terbaik Indonesia sepanjang sejarah Asia-Pacific Amateur Championship menyampaikan, ”Menurut saya, anak-anak kita itu punya potensi untuk masuk lima besar, sepuluh besar, atau setidaknya bisa ikut dalam persaingan (di jajaran atas). Menurut saya mereka punya bakat untuk bisa bersaing. Pukulan mereka jauh, short game juga bagus.”


