Atthaya Thitikul menikmati musim yang mengagumkan dengan meraih predikat pemain terbaik pada Ladies European Tour musim 2021. Kini ia mulai mengarungi panggung yang lebih besar.

Mungkin ia tidak menjuarai Major, seperti rekan senegaranya, Patty Tavatanakit. Namun, Atthaya Thitikul jelas menjadi bintang fenomenal yang meniti karier profesionalnya dengan sangat mulus. Bintang remaja asal Ratchaburi, Thailand ini terus bersinar terang.

Anda mungkin masih ingat bagaimana ia menyita perhatian dunia tatkala menjadi pegolf termuda yang pernah menjuarai sebuah ajang profesional. Dalam usia 14 tahun, 4 bulan, dan 9—usia yang masih masuk kategori junior—Thitikul menjuarai Thailand Championship pada tahun 2017. Skor 70-71-70-72 yang ia torehkan kala itu memberinya kemenangan dua stroke atas pegolf Meksiko Ana Menendez.

Terlepas suksesnya tersebut, pegolf sensasional ini tidak hendak mengikuti jejak Pachara Khongwatmai, yang beralih profesional dalam usia muda—15 tahun. Ia masih terus melanjutkan karier amatirnya. Salah satu targetnya ialah memberikan prestasi terbaik bagi Thailand dalam sejumlah turnamen individu maupun beregu.

Itulah sebabnya, ia memilih absen dari mempertahankan gelarnya di Phoenix Gold Golf & Country Club di Pattaya pada tahun 2018 demi membela Thailand pada South East Asian Games. Dan ketika akhirnya bisa bertanding pada Thailand Championship di lapangan yang sama tahun 2019, ia kembali meraih kemenangan.

Sakit-Sakitan dan Sukses Dini
Siapa yang mengira bahwa ketika usianya jauh lebih kecil, Thitikul adalah sosok yang mudah sakit. Perubahan cuaca kerap membuatnya sakit. Hal ini kemudian mendorong orangtuanya untuk berolahraga sehingga kesehatannya bisa terjaga.

”Mereka mencari olahraga yang bisa menjadi karier, sekaligus sebagai olahraga yang bersifat individu,” tutur Thitikul yang mulai bermain golf saat berusia 6 tahun. ”Jadi, pilihannya adalah golf dan tenis.

 

Atthaya Thitikul, Tipsport Czech Ladies Open 2022.
Kemenangan Atthaya Thitikul di Rep. Ceska ini menjadi gelar pertama dari dua trofi yang ia raih tahun 2021. Foto: Tristan Jones/LET.

 

”(Namun,) saya pikir tenis bakal menjadi olahraga yang sangat berat dan sulit karena Anda harus selalu berlari! Jadi, saya memberi tahu orangtua saya kalau kami akan fokus ke golf sehingga saya dibawa untuk berlajar dari pelatih profesional. Saya menyukainya dan akhirnya fokus pada golf.”

Tentu saja ia pun lekas menyadari bahwa olahraga ini juga tidak mudah.

”Kalau tenis Anda mesti menggunakan seluruh tubuh Anda, tapi kalau golf Anda menggunakan tubuh, pikiran, dan semua yang Anda miliki. Saya pikir, golf adalah olahraga di mana Anda tidak bisa mengharapkan apa-apa,” jelas Thitikul lagi.

Pilihan tersebut terbukti tepat. Dengan kerja keras dan dedikasinya, kariernya meroket. Pretasinya di Pattaya tahun 2017 itu turut memperbarui rekor yang sebelumnya dipegang Brooke Henderson saat menjuarai ajang Canadian Women’s Tour dalam usia 14 tahun, 9 bulan, dan 3 hari.

”Setelah menjuarai gelar Ladies European Tour pertama, hidup saya berubah. Saya mendapat banyak kesempatan untuk bersaing pada ajang British Open, Evian Championship, dan saya mendapat banyak pengalaman ketika masih semuda ini,” ujarnya.

Ia jelas mengetahui posisinya sebagai salah satu profil sukses Thailand dan menyadari peran besar yang ia mainkan.

”Saya sangat ingin menjadi anutan … menginspirasi Thailand untuk menjadi pegolf yang mahir dan menjadi pegolf masa depan. … saya ingin menginspirasi mereka dengan cara mereka sendiri, bahwa mereka bisa menjadi mahir karena tiap orang punya kesempatan …. Jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain. Semua orang memiliki hal yang baik dalam dirinya,” ujarnya.

 

Atthaya Thitikul, hattrick pada Ladies European Tour 2021.
Atthaya Thitikul menjuarai Race to Costa Del Sol, Rookie of the Year, dan Player of the Year LET. Foto: Tristan Jones/LET.

 

Ratu Eropa Menatap LPGA
Thitikul baru memutuskan beralih profesional tahun 2020. Sayangnya, pandemi COVID-19 memaksanya hanya bisa mengikuti satu ajang Ladies European Tour, Women’s NSW Open di Australia, di mana ia meraih hadiah uang pertamanya di sirkuit Eropa itu dengan finis di posisi T4.

Seperti halnya Kim Hyojoo yang kemudian menjuarai HSBC Women’s World Championship, kualitas permainan Thitikul terjaga melalui sirkuit dalam negeri setelah perjalanan internasional harus terkendala.

Sejumlah kemenangan di dalam negeri terbukti menjadi modal berharga untuk menciptakan sensasi baru. Thitikul menjuarai dua ajang Ladies European Tour lainnya, dan menjuarai Race to Costa del Sol setelah mengumpulkan 3.591,96 poin dari 17 turnamen yang ia ikuti, unggul 1.638,07 poin dari remaja ajaib lain asal Slovenia, Pia Babnik. Selain dua gelar pada ajang  ia juga 12 kali finis di jajaran 10 besar dengan 8 di antaranya finis di lima besar.

Meskipun sepanjang kariernya ia telah berkali-kali bermain pada ajang Major dan mencatatkan hasil positif di panggung LPGA, toh ia belum memegang kartu LPGA. Maka usai mencapai sukses di Eropa, ia menuju Amerika untuk bermain pada Qualifying Series.

Bermain dalam delapan putaran yang dilakukan dalam dua pekan, Thitikul berhasil menorehkan skor total 26-under 548 dan menempati peringkat ketiga untuk segera bergabung dengan sejumlah rekan senegaranya, termasuk anutannya, Ariya Jutanugarn.

Tentu saja kita masih harus menantikan bagaimana kiprahnya di panggung LPGA. Namun, tidak salah jika kita berkomentar bahwa kariernya bukan saja masih sangat panjang, tapi juga bakal cerah.