Mochamad Seandy Alfaraby tampil sebagai juara baru Indonesian Tourism Golf Pro Series setelah mencatatkan skor total 3-under 210.
Belajar dari pengalaman terdahulu, Mochamad Seandy Alfaraby memaksimalkan kesempatan yang ia miliki untuk tampil sebagai juara baru Indonesian Tourism Golf Pro Series (ITGPS). Pada Seri ke-12 yang dimainkan di lapangan legendaris Jakarta Golf Club, pegolf berusia 26 tahun ini mengemas skor 2-under 69 untuk memastikan kemenangan dengan skor total, mencegah Syukrizal dan Bradley Taslim yang mengejarnya pada 18 hole terakhir putaran final siang tadi.
Pegolf yang memulai debut ITGPS pada Seri ke-3 di Pondok Cabe ini memang beberapa kali berpeluang untuk mewujudkan kemenangan. Dalam tahun pertama mengarungi karier sebagai pegolf profesional, ia misalnya menampilkan permainan yang cukup meyakinkan ketika finis T4 di BSD pada Seri ke-4, terpaut hanya tiga stroke dari Jonathan Wijono yang tampil sebagai juara.
Kemudian ketika bertanding di PIK pada Seri ke-9, Seandy juga tampil apik dan berhasil finis sendirian di tempat keenam. Kala itu ia malah mencatatkan skor terbaiknya selama mengikuti ITGPS dengan raihan 6-under 210.

Catatan solid kembali ia raih ketika membukukan total even par 216 di Riverside Golf Club pada Seri ke-11. Kala itu ia malah sempat tampil sebagai pemuncak klasemen setelah pada hari pertama mencatatkan skor terbaik, 3-under 69, namun harus tersandung oleh skor 76 pada hari kedua dan harus puas finis di peringkat kelima.
Memulai putaran final di Rawamangun dengan berbagi tempat teratas bersama Syukrizal, Seandy berusaha mempertahankan permainannya. Ketelitiannya memang tidak sempurna, lantaran ia harus mengemas bogey di hole 2 dan 7, namun ia juga sanggup mencatatkan birdie di hole 3, 8, dan 9 untuk menuntaskan sembilan hole pertama dengan 1-under.
”Saya belajar dari beberapa putaran sebelumnya, lebih memperbaiki rencana permainan dan mental,” tuturnya. Sebelumnya, sudah bisa main bagus, tapi entah di hari kedua atau ketiga agak drop skornya. Mungkin di tengah-tengah bisa bangkit lagi, tapi sudah terlalu jauh tertinggal dari pemuncak klasemen,” tuturnya.

Dengan Syukrizal yang hanya bisa bermain even par berkat empat birdie, dua bogey, dan satu double bogey di sembilan hole pertama, serta mengalami kesulitan mencari birdie di sembilan hole terakhir, Seandy kian melenggang ketika mencatatkan birdie di hole 11 dan 15, meskipun harus menorehkan bogey di hole 12 dan 16.
Sementara itu, Bradley, yang memulai putaran final dengan tertinggal enam stroke, justru kian melejit dengan catatan empat birdie dan satu bogey di sembilan hole pertamanya. Ia bahkan menambah tiga birdie lagi dari hole 11, 15, dan 16 untuk menempel Seandy dengan terpaut satu stroke. Akan tetapi, upayanya kandas setelah di hole terakhir justru mendapat bogey, sementara Seandy mencatatkan birdie untuk memastikan kemenangan tiga stroke.
”(Ketika memasuki hole 18) pertama saya berniat mau main aman, mencari par saja. Saya melihat kondisi angin agak kencang dan agak melawan dan memotong ke kiri. Pertimbangan saya, kalau memukul solid kemungkinan akan mendarat sejajar dengan bunker. Tadi mungkin karena sudah unggul, (saya pikir) walaupun (pukulan saya) lurus, mungkin (bola bisa) ada di bawah pohon atau rough, cari bogey mungkin masih bisa menang,” ujarnya.

Akan tetapi, bolanya malah berhasil mencapai fairway dan memberinya sudut approach yang ideal untuk mengantarkan bola ke green dan mencatatkan birdie keenamnya hari ini.
”Sebenarnya, (kemenangan ini) lebih menjadi hadiah buat keluarga sih karena kakak-kakak ’kan sudah pro semua, jadi saya mencoba saya memecahkan telur dengan menjadi juara buat kakak-kakak dan orangtua saya, buat bapak saya, ibu saya,” ujar Seandy, yang merupakan adik dari M. Alga Topan, Denis Fella, dan Fahmi Reza ini.
Kemenangan ini juga memberi nilai yang sangat besar baginya, mengingat kini ia juga mengikuti jejak kakak-kakaknya sebagai pelatih profesional.

”Pertama, kemenangan ini menjadi motivasi ya, buat adik-adik junior yang saya bantu ajar. Mereka itu ’kan juga punya target untuk berprestasi, yang junior, amatir, dan mungkin nantinya ke profesional. Kedua, pengalaman ini bisa menjadi sharing pengalaman buat adik-adik atau yang niatnya serius buat mengejar prestasi di golf,” tegasnya.
Bagi Bradley, finis sendirian di tempat kedua menjadi prestasi terbaik pegolf asal Jawa Timur ini selama kiprahnya mengikuti ITGPS. Skor 66 yang ia bukukan pada hari terakhir juga sekaligus menjadi skor terendah yang diciptakan sepanjang tiga putaran pada pekan ini.
Sementara itu, pimpinan klasemen hari pertama, Galih Ananta Wiratno masih bisa berbangga. Pegolf binaan Jakarta Golf Club ini berhasil tampil sebagai pegolf amatir terbaik dengan finis sendirian di peringkat 15 dengan catatan skor total 221.
Setelah pekan ini, para pegolf profesional ini akan mengalihkan fokus mereka ke Bali National Golf Club untuk penyelenggaraan Seri ke-13.


