Park Inbee terlihat rileks menjelang upayanya mempertahankan emas pada Olimpiade Tokyo, Rabu (4/8) besok.

Pegolf andalan Korea Park Inbee merasa rileks dan percaya diri menjelang upayanya mempertahankan emas pada Olimpiade Tokyo, ketika kompetisi golf wanita mulai berlangsung Rabu (4/8) besok di Kasumigaseki Country Club. Pegolf yang kini berusia 33 tahun itu telah menciptakan sejarah ketika golf kembali dipertandingkan pada Olimpiade di Rio 2016 lalu. Kala itu ia harus bertanding dalam keadaan tertekan lantaran cedera ibu jari yang ia alami.

”Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh tekanan yang pernah saya rasakan dalam hidup saya. Saya tidak yakin bisa melakukannya lagi. Jika merasakannya lagi tahun ini, mungkin saya takkan bisa bermain. Namun, tahun ini jelas lebih baik dan lebih rileks karena kondisi saya. Tahun 2016 itu saya harus mengalami cedera, harus mengatasi banyak tekanan, tapi tahun ini sedikit berbeda,” tutur pemegang 21 gelar LPGA ini.

”Ini kesempatan sekali dalam empat tahun dan saya ingin bermain dengan baik dan tak ingin mundur. Saya berjuang keras untuk mengatasi cedera, tapi jelas banyak orang yang khawatir. Keluarga saya, staf saya, dan mungkin seluruh korea khawatir kalau saya tidak dalam kondisi terbaik. Saya sudah mengalami berbagia situasi di mana saya merasakan banyak tekanan, tapi semua itu memberi saya kekuatan untuk mengatasi berbagai hal dan sanggup memenangkan emas adalah prestasi yang luar biasa.”

Park akan memainkan dua putaran pertama bersama pemenang medali perak Lydia Ko dari Selandia Baru dan pegolf China Feng Shanshan yang meraih perunggu di Rio, mulai puku 08:41 (06:41 WIB). Mereka akan menjadi grup pamungkas.

Pegolf No.1 Dunia dan Juara KPMG Women’s PGA Championship Nelly Korda dari Amerika Serikat, pegolf No.2 Dunia Ko Jinyoung dari Korea, dan andalan tuan rumah, No.11 Dunia, Nasa Hataoka juga akan menjadi daya tarik pada pekan ini ketika mereka memulai putaran pertama pada pukul 08:14 (06:14 WIB).

Park sendiri kini berada di peringkat tiga dunia dan masih menjadi unggulan untuk kembali meraih emas. Pasalnya ia kini tengah menjalani musim yang luar biasa pada tahun ini. Ia sudah menang sekali dan mencatatkan enam finis di sepuluh besar sebelum menuju Tokyo 2020.

”Tahun ini saya tidak mengalami cedera dan bermain dengan baik pada musim ini. Jadi, situasinya agak sedikit berbeda daripada tahun 2016, tapi hasil yang sama jelas bagus ’kan?” ujarnya sembari tertawa.

”Saya bisa bilang sebuah medali pada ajang Olimpiade sangatlah istimewa karena meskipun saya sudah menjadi juara Major, tapi kalau dipikir, kami punya lima Major tiap tahun, ….” — Feng Shanshan.

”Saya sangat bersemangat berada di sini dan sudah jelas mewakili negara untuk kedua kalinya secara beturut-turut merupakan kehormatan besar buat saya. Berada di Tokyo dan lima tahun setelah Rio, ini mimpi yang jadi kenyataan buat saya. Kalau bisa mengibarkan bendera kami di posisi tertinggi, jelas akan memberikan pengalaman yang lebih baik. Semoga saja pengalaman di Rio akan membantu saya bermain pekan ini dan sudah tentu dengan cuaca yang panas dan kondisi yang lembab, Anda mesti mengondisikan diri dengan baik.”

Ko Jinyoung, yang telah menjuarai delapan ajang LPGA, masih ingat menyaksikan Park meraih medali emas bagi Korea dan mulai bermimpi untuk bisa tampil pada Olimpiade Tokyo. ”Saya menonton TV dan kemudian ia mendapat medali emas dan saya mulai berpikir, saya sangat ingin bermain pada Olimpiade tahun 2020. Pekan ini bagaikan mimpi. Saya sangat bangga bisa berada dalam tim yang sama dengan Inbee,” ujar Ko, yang tahun ini telah meraih satu gelar dan lima kali finis di sepuluh besar.

Adapun pegolf dari China, Feng, yang telah mengoleksi sepuluh gelar PGA TOUR, ikut mengakui pencapaiannya di Rio lima tahun silam merupakan sorotan luar biasa dalam kariernya dan prestasi itu akan mendorongnya untuk mencapai podium lagi di Tokyo. Terutama mengingat ia menganggap Olimpiade ini menjadi yang terakhir baginya.

”Saya bisa bilang sebuah medali pada ajang Olimpiade sangatlah istimewa karena meskipun saya sudah menjadi juara Major, tapi kalau dipikir, kami punya lima Major tiap tahun, dan dalam empat tahun ada 20 kesempatan menjuarai Major. Jadi, saya bisa bilang, jauh lebih sulit mendapatkan medali oada Olimpiade. Jadi, itu prestasi paling penting dan paling berkesan dalam karier saya,” tutur pegolf yang kini berusia 31 tahun itu.

Seperti halnya Park, ia juga ingin menggunakan pengalamannya yang luas dan keberhasilannya pada level tertinggi untuk bertanding pada ujian yang berat di East Course pekan ini. Dari delapan turnamen yang ia ikuti tahun ini, ia sudah tiga kali finis di lima besar. Artinya, permainannya masih memungkinkan Feng untuk kembali menaiki podium.

”Saya tidak segugup seperti sebelumnya. Saya amat gugup, seperti di tee pertama dan rasanya saya tidak bisa mengingat apa-apa. Saya sadar kalau saya sudah beralan ke fairway di hole pertama, jadi saya tidak ingat soal pukulan tee pertama itu,” tutur Feng.

”Saya tidak bisa bilang kalau saya tidak dalam kondisi terbaik dalam karier saya, tapi saya sangat senang bisa kembali pada tahun ini, memulainya pada Major, bisa finis di tiga besar, dan beberapa kali finis di lima besar setelah itu. Jadi, saya sangat yakin pada permainan saya, saya hanya ingin menikmati dan rileks sepanjang hari dan sepanjang pekan. Saya yakin ini akan menjadi Olimpiade terakhir saya. Sepertinya saya tidak akan mengikuti Olimpiade lainnya, jadi lebih baik saya menikmati (kesempatan) kali ini.”