Patty Tavatanakit melanjutkan dominasinya dengan mempertahankan posisi teratas pada akhir putaran ketiga Honda LPGA Thailand.
Patty Tavatanakit mengakhiri putaran ketiga Honda LPGA Thailand persis seperti ketika ia memulainya. Ia mempertahankan posisi teratas di Siam Country Club untuk menjaga peluangnya meraih gelar LPGA kedua di negeri sendiri.
Meskipun permainannya pada hari ini (8/5) jauh dari penampilannya pada hari pertama dan kedua, ketika ia membukukan skor 64, empat birdie dan dua bogey yang kali ini ia dapatkan masih cukup menempatkannya sebagai pemain teratas dengan skor total 18-under 198.
”Memang sulit. Tidak setiap hari kita bisa mendapatkan permainan yang sempurna. Saya tidak berharap bisa mendapatkan turnamen yang sempurna. Rasanya itulah karakter olahraga ini. Toh saya masih bangga bisa bertahan di atas dan berjuang untuk bermain under,” papar Tavatanakit yang kali ini harus melakukan 30 putt.
Berbeda dengan dua putaran awalnya, kali ini Tavatanakit terlambat mendapatkan momentum. ”Saya pikir saya baru mendapatkan momentum di sembilan hole terakhir. Saya benar-benar bingung dan melakukan banyak hal sekaligus. Saya berusaha makan di hole 10 dan level energi saya tidak mencapai 100% hari ini. Namun, kalaupun ada hal positif yang bisa dipelajari, hal itu ialah bahwa Anda tak mesti sempurna 100% untuk bisa main under.”
Up-and-down for birdie 👏@Patty_MPT leads by one at the @hondalpgath with 18 holes to play
Watch the final round tomorrow live on @GolfChannel! pic.twitter.com/hD0FKaXOFW
— LPGA (@LPGA) May 8, 2021
Dalam posisi yang jauh dari ideal, pegolf yang bernama asli Phapangkorn Tavatanakit ini menunjukkan aspek mentalnya menjadi sesuatu yang sangat membantunya mempertahankan posisi teratas. ”Saya terus berkata pada diri sendiri untuk terus mengeksekusi pukulan, melakukan pukulan yang bagus, memasukkan lebih banyak putt menjelang hole-hole terakhir, dan berhasil melakukannya.
Pegolf Jerman Caroline Masson dan remaja sensasional Thailand Atthaya Thitikul menempel pemudi berusia 21 tahun itu dengan selisih satu stroke setelah mengumpulkan skor total 199.
Meskipun memulai hari dengan bogey, pegolf yang meraih satu-satunya gelar LPGA lewat ajang Manulife LPGA Classic lima tahun silam ini, langsung bangkit dengan birdie di hole keduanya.
”Jelas bukan awal yang bagus memulai dengan bogey di par 5 yang sebenarnya bisa dijangkau (dengan dua pukulan), tapi saya senang bisa langsung bangkit. Menurut saya inilah yang selalu membantu putaran Anda bisa berjalan dengan baik,” tuturnya. ”Saya sendiri tidak terlalu gugup. Target saya ialah bisa bermain dengan sabar dan tidak frustrasi jika keadaan tidak berjalan dengan keinginan saya, dan saya pikir saya pun berhasil melakukannya.”
Setelah bogey dan birdie tersebut,Masson menambah tiga birdie lagi sebelum akhirnya terpaksa mendapat bogey keduanya di hole 15, yang ternyata cukup membuatnya frustrasi. Terutama mengingat di hole 15 itu ia justru bermain di luar rencananya semula.

”Kami memutuskan untuk tidak membidik ke pin di sisi belakang dan mengandalkan permainan wedge kami. Pukulan saya tidak buruk, tapi malah terlalu jauh. Pada dasarnya saya melakukan tiga putt dari fringe di sana,” jelasnya lagi.
Namun, seperti halnya di sembilan hole pertamanya, pegolf berusia 31 tahun ini langsung bangkit dan menuntaskan putaran ketiganya dengan tiga birdie di tiga hole terakhirnya. Dan pada akhir putaran ketiga, permainan Masson ini menunjukkan keberhasilannya untuk memanajemen rasa frustrasi dan emosinya, serta menghindari bersikap negatif dalam dua bogey yang ia peroleh hari ini.
Meskipun berjarak satu stroke, Masson sadar bahwa perjuangannya untuk mewujudkan gelar keduanya tidak akan mudah. ”Bakal butuh putaran bagus lagi. Saya sama sekali tidak sempat melihat papan klasemen, tapi pasti sangat ketat. Semua orang bisa bermain dengan skor yang rendah di sini. Lapangannya juga lembut dan bisa dijangkau, Anda bisa memukul bola mendekati pin,” tandasnya.
Sementara itu, pemegang dua gelar Ladies European Tour Thitikul harus memulai putaran ketiga dengan mencatatkan dua bogey di tiga hole pertamanya. Namun, sejak itu permainannya langsung pulih dan menuntaskan 15 hole tersisa dengan enam birdie, yang cukup membawanya berbagi posisi dengan Masson.
”Mungkin memang bukan nasib saya,” ujar Thitikul menyinggung dua bogey-nya hari ini. ”Saya hanya harus bersabar dan terus memasukkan putt (birdie) ketika mendapatkan kesempatannya. Saya pikir itulah kunci mengapa kami bisa mendapatkan skor yang lebih baik di sembilan hole terakhir.

”Semua pemain ingin menang besok, tentu saja saya juga ingin menang. Namun, pada saat yang sama, saya akan menyambut hari esok sebagai kesempatan untuk belajar, berusaha bermain semaksimal mungkin. Kalau saya main bagus, hasilnya akan bagus.”
Kemenangan baginya tidak hanya akan memberinya gelar LPGA pertama dalam karier profesionalnya yang masih muda, tapi juga akan memberinya keanggotaan penuh.
Kembalinya Tavatanakit ke posisi teratas seakan menyelubungi kemilau permainan Hannah Green yang pada putaran ketiga ini membukukan skor terendah, dan sempat membawanya ke posisi teratas, meski hanya sesaat. Delapan birdie yang ia bukukan hari ini juga tidak mengubah peringkatnya dan akan kembali bermain dari peringkat 6 dalam 18 hole terakhir.
”Saya sudah main 4-under dalam lima hole pertama, jadi saya mengawalinya dengan sangat bagus. Namun, saya terus mendapatkan kesempatan bagus. Rasanya pinnya sedikit lebih sulit hari ini, tapi saya selalu bisa mendapatkan putt lurus, yang sudah jelas sangat membantu,” ujar pemenang satu Major ini.
”Pekan ini pekan hujan birdie lagi, jadi saya harus memastikan saya mendapatkan kesempatan terbaik untuk mendapatkan birdie dan par, mungkin itulah yang saya pelajari dari pekan lalu dan semoga saya bisa menuntaskan semua kesempatan yang saya peroleh.”


