Mengapa Indonesian Swing bagian kedua pada Asian Development Tour dalam tiga pekan berturut-turut menjadi sangat krusial bagi Indonesia?

Pekan ini rangkaian turnamen Asian Development Tour (ADT) -di Indonesia kembali bergulir. Tiga turnamen regional skala ADT yang berlangsung dalam tiga pekan ke depan melanjutkan bagian pertama yang berlangsung pada bulan Agustus lalu—The Indonesia Pro-Am presented by Combiphar & Nomura dan BNI Ciputra Golfpreneur Tournament.

Ajang pertama dari Indonesian Swing bagian kedua, OB Golf Championship, mulai berlangsung pekan ini, sekali lagi, di Gunung Geulis Country Club hingga 28 September. Lalu pekan berikutnya OB Golf Invitational presented by Sentul Highlands Golf Club bergerak ke Sentul Highlands Golf Club, Bogor, pada tanggal 4-6 Oktober. Sampai yang terakhir, The 2nd Indo Masters Invitational presented by TNE yang akan diadakan di Imperial Klub Golf, Karawaci pada 11-13 Oktober.

Meskipun memperebutkan hadiah uang yang relatif lebih kecil daripada dua turnamen ADT sebelumnya, di mana dua turnamen pertama memperebutkan total hadiah US$70.000 (sekitar Rp1,087 milyar) sedang yang terakhir US$75.000 (sekitar Rp1,165 milyar), tiga turnamen ini bakal memainkan peran yang sangat krusial bagi Indonesia, minimal bagi dua pegolf profesional Indonesia.

Kemenangannya pada ajang The Indonesia Pro-Am presented by Combiphar & Nomura pada bulan Agustus lalu praktis membawa Kevin Caesario Akbar ke jajaran atas Order of Merit ADT. Dari tiga turnamen yang ia mainkan—dua di Indonesia dan satu di Vietnam—pegolf yang bernaung di bawah Ciputra Golfpreneur Foundation ini kini berada di peringkat kedua dengan US$22.499 hadiah yang ia menangkan. Jumlah ini hanya terpaut US$3.263,50 dari pegolf India Yuvraj Singh Sandhu, yang kini berada di posisi teratas dengan koleksi US$25.762,50.

 

Naraajie Emerald Ramadhan Putra, The 2nd Indonesian Swing ADT 2023.
Beratnya persaingan pada Asian Tour membuat Naraajie Emerald Ramadhan Putra harus kembali tampil prima di level Asian Development Tour dan mengamankan kartu ke sirkuit utama Asia itu untuk musim 2024. Foto: OB Golf.

 

Kevin menjadi pegolf kedua setelah Naraajie Emerald Ramadhan Putra, yang memenangkan ajang ADT di negeri sendiri, sekaligus pegolf Indonesia ketiga yang meraih kemenangan di Tour batu loncatan menuju Asian Development Tour itu. George Gandranata menjadi pegolf Indonesia pertama yang angkat trofi di sirkuit ini pada 2016.

Kesempatan bertanding di negeri sendiri dalam tiga pekan ke depan memberi peluang yang bagus untuk Kevin mengukuhkan posisinya di jajaran atas. Bisa bertahan di posisi tersebut pada akhir musim ini dipastikan bakal memberi horizon kompetisi dengan level lebih tinggi baginya, mengingat sepuluh pegolf teratas pada Order of Merit ADT berhak mendapatkan kartu Asian Tour. Artinya, ia tidak lagi perlu melakoni Qualifying School yang dipastikan bakal kian kompetitif—dengan biaya pendaftaran yang juga makin mahal US$3.000!

Kemenangan perdananya pada Indonesian Tourism Golf Pro Series di Royale Jakarta Golf Club pekan lalu memberinya modal berarti untuk memainkan tiga turnamen ADT ini.

”Rasanya kemenangan ini terjadi pada waktu yang tepat, menjelang tiga ADT berturut-turut,” ujarnya, ”jadi tahu apa yang mesti diperbaiki. … short game saya bagus, putting juga bagus meskipun masih bisa ditingkatkan lagi, tapi short game sedang tajam, dan driver juga lumayan. Cuma iron-nya yang mungkin harus saya tingkatkan, soalnya tidak sebagus ketika menang ADT di Gunung Geulis sebelumnya, waktu itu permainan iron saya bagus sekali.”

Kembali ke West Course, lapangan yang beberapa kali ia taklukkan, setidaknya akan memberinya kesempatan untuk mendapatkan catatan penampilan yang baik.

 

Jonathan Wijono, The 2nd Indonesian Swing ADT 2023.
Berada di peringkat 83 Order of Merit ADT membuat Jonathan Wijono harus menampilkan permainan terbaiknya dalam tiga turnamen ADT tiga pekan ini. Foto: GolfinStyle.

 

Hasil solid pada pekan ini juga menjadi penting bagi Naraajie. Pegolf yang telah mengoleksi tiga gelar ADT ini memang berada di posisi sepuluh besar Order of Merit. Dengan total US$18.531,19 yang ia kumpulkan dari empat turnamen yang ia ikuti musim ini, Naraajie kini menghuni peringkat 6, unggul hingga US$6.148,27 dari pegolf Thailand Jakraphan Premsirigorn yang berada di posisi ke-10.

Meksipun prestasinya di level ADT musim lalu telah memberinya kartu Asian Tour untuk musim ini, Naraajie masih belum berhasil bersaing dengan para pegolf internasional di level tersebut. Dari sebelas turnamen yang ia ikuti musim ini, lima di antaranya berskala International Series, pegolf asal Jawa Barat ini masih belum berhasil bermain penuh. Artinya, kartu Asian Tour miliknya terancam lepas dari genggamannya. Dan itu sebabnya, tiga turnamen ADT di Indonesia kali ini menjadi kunci baginya untuk bisa kembali ke sirkuit utama tersebut.

Bagi Naraajie, selain di Sentul Highlands Golf Club, dua lapangan lainnya adalah lapangan yang telah beberapa kali menjadi tuan rumah ajang ADT. Bekal penampilan solid, baik di Gunung Geulis Country Club maupun di Imperial Klub Golf bisa menjadi kunci untuk menciptakan kejutan dalam tiga pekan ini. Dan sama seperti Kevin, Naraajie bakal membutuhkan penampilan terbaiknya secara konsisten untuk tidak sekadar menjaga posisi, tapi memperbaiki peringkat di klasemen Order of Merit ADT.

Jonathan Wijono menjadi pegolf Indonesia berikutnya yang bisa memanfaatkan Indonesian Swing kali ini untuk menghindari mengikuti Qualifying School Asian Tour. Meskipun kini berada di peringkat 83, ia sebenarnya memiliki kualitas permainan yang cukup untuk mencatatkan hasil solid dalam tiga pekan ini. Dengan US$12.250 atau US$8.050 untuk mereka yang berada di tempat kedua pada ajang yang memperebutkan total US$70.000, dan US$13.125 dan US8.625 untuk turnamen pada turnamen di Karawaci, peluang Jonathan untuk menyusul kedua rekannya jelas masih terbuka. Syaratnya ia harus benar-benar tampil prima, seperti ketika ia memenangkan enam gelar ITGPS pada musim ini.

Jika ketiga pegolf muda ini mengincar tiket untuk bisa memberi akses ke Asian Tour, Indonesian Swing bab kedua kali ini juga menjadi ajang krusial bagi para pegolf Indonesia lainnya. Dengan hadiah uang yang lebih besar daripada ITGPS, hasil solid dalam tiga pekan berturut-turut akan sangat penting untuk berada di jajaran 12 besar Order of Merit ITGPS, yang akan secara otomatis berhak mengikuti ajang BNI Indonesian Masters pada bulan November mendatang.