Lilia Vu mewujudkan kemenangan Major perdananya pada The Chevron Championship lewat partai play-off.
Lima tahun silam Lilia Vu tampil pada ajang ANA Inspiration sebagai pegolf amatir dan sukses menjadi pemain amatir terbaik. Skor 73-70-71-71 membawanya finis di posisi T40, sekaligus melambungkan percaya dirinya bahwa permainannya cukup tangguh untuk bersaing di level profesional dan memutuskan beralih status pada bulan Januari 2019 setelah memastikan statusnya pada LPGA. Penampilan itu bukan penampilan perdana baginya pada ajang Major tersebut, namun jelas menciptakan momentum berarti dalam karier golfnya.
Kini, lima tahun setelah menuai prestasi besar bagi seorang pegolf amatir, Vu yang baru pertama kali bermain dalam ajang Major dengan status Juara LPGA, mendapatkan status baru: Juara Major. Kemenangannya atas Angel Yin lewat partai play-off mengubah segalanya bagi pegolf lulusan UCLA ini.
Memulai putaran final dengan terpaut empat stroke dari Yin dan Allisen Corpuz yang berbagi posisi teratas, Vu langsung mencatatkan dua birdie di tiga hole pertamanya, dan menambah satu birdie lagi dari hole 8. Bogey di hole 9 menjadi satu-satunya noda di kartu skornya, sebelum kemudian berjibaku mengamankan par di tujuh hole berikutnya. Ia kemudian menuai dua birdie di dua hole terakhirnya untuk mencatatkan skor total 10-under dan harus menunggu hasil akhir di clubhouse lantaran ia bermain lima grup di belakang grup pamungkas.
Secara mengejutkan, Yin juga bermain tidak sebagus putaran ketiga ketika ia mencatatkan enam birdie dengan hanya satu bogey. Namun, dengan dua birdie dan satu bogey hingga hole 15, ia masih punya peluang sampai dua bogey berturut-turut dari hole 16 memaksanya harus mencatatkan eagle di hole terakhir jika ingin mewujudkan kemenangan. Sayangnya, skenario tersebut tidak terwujud lantaran ia harus puas menutup putaran finalnya dengan birdie.
Sama-sama menorehkan 10-under, Vu dan Yin harus kembali ke tee box di hole 18 untuk memainkan hole tambahan. Dengan insiden pukulan kedua Yin yang masuk ke air, Vu melayangkan bolanya dengan aman untuk mendekati green, sebelum kemudian melakukan dua pukulan untuk memastikan kemenangan dengan birdie.
”Pukulan drive saya bagus. Sejujurnya, saya tidak tahu kalau bakal sejauh itu. Kalau tidak salah ketika memainkan hole 18 dalam putaran saya, saya memainkan hybrid ke green, dan mendadak saya bisa memainkan 7-iron di hole play-off,” tutur Vu.
”Kami melihat pukulan Angel, dan kemudian memutuskan, entah dengan 7-iron atau 6-iron untuk memberi ruang ekstra melewati air. Saya rasa 7-iron yang tepat …. Kami melakukan pukulan yang bagus dan saya tahu kalau green-nya sangat licin, cuma tidak yakin dengan rough dan buliran rumput dari fringe itu, jadi saya menyisakan sedikit jarak.
”Namun, saat hendak melakukan putt terakhir, saya hanya tinggal melakukan rutinitas saya saja, membaca jalur putt sebagaimana biasanya, dan memukulnya karena saya sudah melakukan pukulan seperti itu jutaan kali dan tahu kalau saya bisa memasukkannya.”

Kemenangan ini memang tidak sepenuhnya ia raih dengan mulus, terutama lantaran sepanjang permainannya Vu merasa kesal dengan banyak hal. Namun, kenangan akan kakeknya, yang berimigrasi dari Vietnam dan meninggal pada awal COVID, menjadi kunci bagi Vu untuk mengubah perspektifnya.
”Rasanya hari ini benar-benar sulit. Lapangannya benar-benar susah dimainkan, dengan angin dan cuaca yang sedikit lebih dingin. Saya merasa tidak bermain dengan baik di lapangan,” tutur Vu, yang meraih gelar LPGA pertamanya pada ajang Honda LPGA Thailand pada bulan Februari 2023 lalu.
”Saya merasa sangat kesal di lapangan, dan kemudian saya harus mengenang beliau, bahwa kakek ada bersama saya, dan dia akan sangat kecewa kalau saya sekesal ini dan tidak mengubah sikap saya. Saya pikir dia akan bilang kalau semua perjuangan saya benar-benar sepadan (dengan kemenangan ini,” tutur Vu.
Yin tidak bermain terlalu buruk. Namun, jelas bogey di hole 16 dan 17 itu terbukti sangat menyakitkan. Meskipun kemudian ia berhasil mendapatkan birdie di hole 18 untuk memaksakan hole tambahan dengan Vu, pegolf berusia 24 tahun itu tampak kehilangan momentumnya.

Ia sempat bermain 1-under hingga hole 15 dan bermain dengan baik, menorehkan dua birdie meski memulai putaran final dengan bogey. Sayangnya, pilihan club yang keliru di hole 16 dan 17 itu menjadi hal yang sangat fatal dalam sebuah perburuan gelar.
”Saya kesal karena tidak bisa mendapat eagle (di hole 18 itu), dan kesal karena harus berada dalam posisi itu (play-off). (Namun,) saya tidak merasakan apa-apa sepanjang pekan ini, bahkan ketika memasuki hole-hole terakhir,” jelas Yin.
”Kedi saya memberi tahu agar saya tetap tenang, tapi selain itu, saya benar-benar tidak merasakan banyak hal. Ada perasaan melankolik, mungkin dengan minimnya emosi itu saya tidak menangis.”
Meski gagal mewujudkan kemenangan Major dan gelar LPGA pertama dalam kariernya, Yin masih bisa berbangga atas performanya sepanjang pekan ini. Bermain di lapangan baru untuk pertama kalinya dan bisa bersaing ketat untuk memenangkan Major menjadi suatu prestasi besar yang hanya satu level di bawah kemenangan. Prestasinya pekan ini turut memberinya tempat untuk kembali tahun depan, sesuatu yang baginya akan menjadi kesempatan untuk menunjukkan potensinya dengan bermain lebih baik dan ”melakukan apa yang tidak saya lakukan pada tahun ini.”


