Selain Augusta National Golf Club, salah satu karya monumental Alister MacKenzie sebagai arsitek legendaris ialah Royal Melbourne Golf Club, yang kembali menjadi tuan rumah Presidents Cup pada bulan Desember 2019 ini.

Oleh Jim McCabe/PGA TOUR

Kedua kaki dari dua sosok ini ada di atas lapangan yang sangat diagung-agungkan, Augusta National Golf Club. Tapi pemandangan utama dan pandangan sekilas, keduanya bisa dengan mudah memejamkan mata dan berada di Royal Melbourne di sisi dunia lainnya.

Aura Alister MacKenzie, bahkan 85 tahun setelah ia meninggal, tetaplah kuat. Setidaknya itulah komentar Ben Crenshaw dan Geoff Ogilvy, menyinggung daya tarik magnetis dari jiwa yang ada pada lapangan golf ikonik ini. Mereka mengungkapkannya dengan penuh hasrat, tak hanya mengenai visi yang MacKenzie berikan, tapi juga sebagai acuan terhadap apa yang masih bisa kita pelajari dari kecemerlangan sang desainer.

”Ia meninggalkan warisannya di Melbourne, yang masih tetap ada,” ujar Ogilvy, pegolf Australia yang menjuarai U.S. Open 2006, 7 gelar PGA TOUR lainnya, dan tiga kali bermain dalam Tim Internasional Presidents Cup. Tahun ini ia juga bakal menjadi asisten kapten ketika ajang ini kembali ke Royal Melbourne pada 9-15 Desember. ”Ia mengubah arah golf di Australia.”

Sebagai arsitek golf jenius, MacKenzie meninggalkan sejumlah monumen bagi golf, seperti Cypress Point, Pasatiempo, Crystal Downs, The Old Course di Lahinch, dan Palmetto Golf Club. Namun, dua lapangannya yang paling terkenal, pastilah Augusta National, rumah bagi Masters Tournament, dan Royal Melbourne di Australia. Yang terakhir merupakan tuan rumah dari ajang dua tahunan, Presidents Cup, bulan Desember nanti. Kunjungan pada Masters 2019 lalu pun menjadi peluang untuk meminta Crenshaw dan Ogilvy mengaitkan kedua lapangan golf kebanggaan ini.

Crenshaw tersenyum, lalu mengenang peristiwa tahun 1982, ketika ia pertama kali bermain pada Australian PGA. Kala itu ia bermain 65 pada hari kedua, lalu finis di tempat kedua, di belakang Graham Marsh. ”Ketika melihat Royal Melbourne untuk pertama kalinya, pengalaman itu memberikan dampak yang sangat dalam,” ujarnya.

Crenshaw, yang sama terpukaunya dengan Augusta National sejak hari pertama—persisnya pada 1972—mengonfirmasi betapa pengaruh MacKenzie sama konsistennya. ”Kompartemennya (sangat mirip), bunker, ukuran green, dan bentuk green. Anda bisa bilang keduanya adalah saudara jauh, tapi masih dalam keluarga yang sama.”

Ketika menerima pertanyaan mengenai perbandingan Augusta National dan Royal Melbourne, Ogilvy menebar pandangannya ke lautan rumput di green yang luas. ”Hal yang berbeda ialah lingkungannya, seluruh estetikanya,” ujarnya. ”(Augusta National) adalah lapangan dengan green super, di wilayah selatan Amerika, dengan pepohonan pinus yang tinggi, pasir putih, bersih, kondisinya hampir seperti sebuah rekayasa.

”Royal Melbourne sedikit lebih kasar. Wilayah Sandbelt lebih alami.”

Sebelumnya, Royal Melbourne Golf Club telah dua kali menggelar Presidents Cup, yaitu pada 1998 dan 2011. Foto: Getty Images.

Seakan hendak menggali pemikirannya lagi, Ogilvy tenggelam dalam atmosfer The Masters dalam putaran latihannya. Ia berhenti sejenak, tapi benaknya masih menyimpan banyak pemikiran. Ogilvy telah bermain dalam delapan ajang Masters, jadi ia memiliki ketertarikan pada Augusta National. Tapi ia juga seorang Australia sejati dengan akar yang dalam pada Melbourne. Jadi, kecintaannya pada Royal Melbourne lekas mengemuka. Kedua lapangan ini memberi getaran tersendiri baginya dan ia berkeras agar Anda tak keliru hanya dengan melihat perbedaan yang terlihat jelas.

”Kedua lapangan ini kelihatan sangat berbeda di permukaan, tapi dimainkan dengan sangat mirip. Besar, green yang bergelombang, rintangan yang besar, bunker-bunker besar, rintangan yang besar. Jika berada dekat hole di tempat yang salah, celakalah Anda. Jika berada jauh dari hole, tapi di tempat yang tepat, Anda ada di titik yang bagus.”

Dengan pengalaman berlimpah di tiap karya MacKenzie ini (ia empat kali finis di 20 besar pada The Masters dan belum sekalipun ia gagal lolos cut, dan ia juga telah bermain pada Presidents Cup dalam berbagai kunjungannya ke Royal Melbourne), Ogilvy jelas bisa dibilang menjadi saksi ahli untuk hal ini.

”Secara filosofi, Anda mesti memainkan gaya bermain yang sama supaya bisa main bagus. Kedua lapangan ini membuat Anda gugup ketika memukul ke green karena Anda tak ingin berada di tempat yang salah. Seperti itulah kemiripan kedua lapangan ini.”

Kedua lapangan ini pun digarap pada era yang sama, persis pada penghujung hayat MacKenzie, ketika ia telah mapan dan dipandang sebagai maestro sejati. Sebagai seorang Skotlandia yang menempuh pendidikan di Inggris dan menghabiskan sebagian besar kehidupannya di Amerika Serikat, MacKenzie merupakan penjelajah dunia yang luar biasa. Daftar kreditnya mencakup lapangan-lapangan di Selandia Baru, Uruguay, Argentina, Meksiko, Kanada, dan tentu saja, Australia, di mana pada pertengahan 1920-an ia mengunjungi Royal Melbourne untuk pertama kalinya. Namun, yang Crenshaw kagumi dari warisan MacKenzie ialah bahwa MacKenzie tak hanya memiliki visi dan imajinasi, tapi juga kepercayaan besar terhadap orang-orang yang melakukan pekerjaannya.

”Dia hanya berada di sana (Australia) selama beberapa bulan,” ujar Crenshaw. ”Pekerjaan dan tubuhnya ada di sana, tapi keberuntungan terbesarnya ialah bahwa ia bertemu Mick Morcom.”

Morcom, seorang greenkeeper, mendapat kredit yang luar biasa dari membangun West Course di Royal Melbourne sesuai rencana MacKenzie. Tugas ini ia tuntaskan pada 1931, persis pada saat yang sama ketika sang desainer asal Skotlandia itu mulai membangun lapangan terakhirnya, Augusta National, bersama Bobby Jones.

Sosok yang tak kalah pentingnya pada legenda Royal Melbourne ialah Alex Russel. Pegolf amatir berbakat ini telah menjuarai Australian Open di Royal Melbourne pada 1924. Russel yang terlibat dalam perencanaan West Course kemudian mendesain East Course.

Geoff Ogilvy, yang sangat mengenal Royal Melbourne Golf Club, akan menjadi asisten kapten pada Presidents Cup 9-15 Desember 2019 nanti. Foto: Getty Images.

Saat ini, ketika kompetisi elite digelar di Royal Melbourne, ajang tersebut memainkan perpaduan dari kedua lapangan ini—biasanya 12 hole dari West dan 6 dari East.

Ogilvy, yang memahami sejarah MacKenzie dan Royal Melbourne menilai, ”ia berada di sana dalam tiga bulan yang tepat bagi sejarah golf Australia” dan pemahamannya akan cara menikmati golf jelas kurang dihargai.

”Ia tak menggunakan rough dan rintangan, ia menggunakan green yang besar dan bergelombang untuk memberi daya tarik,” ujar Ogilvy. ”Lapangan PGA TOUR yang biasa kami mainkan menggunakan rough dan rintangan dan panjang lapangan. Tapi baik Augusta National, maupun Royal Melbourne memberi pukulan yang sulit dari lie yang bagus, bukannya pukulan yang mudah dari lie yang buruk.”

Hal-hal yang Ogilvy sukai dari Augusta juga berlaku untuk Royal Melbourne. Fairway-fairway-nya lebar, tapi ketika lapangan-lapangan modern tak memberi pilihan dari tee, MacKenzie memberi banyak opsi, tergantung bagaimana cara Anda memasuki green.

”Ia membiarkan Anda mencari tahu di mana titik yang tepat (di fairway),” jelasnya. ”Ini cara yang lebih menarik untuk menantang orang karena kadang lebih baik meleset dari green ketimbang memukul ke green di titik yang salah.”

Tom Doak, arsitek golf kenamaan lainnya, menulis, ”Menurut saya Royal Melbourne adalah lapangan yang Augusta inginkan—cukup lebar untuk siapa pun, tapi rutenya dibuat dengan cemerlang dengan memanfaatkan topografi dan bunker untuk mengganjar permainan yang tegas dan keputusan yang tegas.”

Ketika turnamen-turnamen besar Australia digelar di Royal Melbourne, Crenshaw bukanlah satu-satunya pegolf Amerika yang rela menempuh perjalanan panjang ke sana. Tom Watson pun melakukannya pada Australian Open 1984. Pada saat itu, ia sendiri telah mengumpulkan delapan gelar Major. Namun, target yang serius membawanya menuju Australia pada musim dingin itu.

”Bisa menjuarai Australian Open di Royal Melbourne akan serasa menjuarai British Open di St. Andrews,” ujar Watson, yang kala itu berusia 35 tahun, kepada reporter.

Tim Internasional meraih satu-satunya kemenangan Presidents Cup di Royal Melbourne Golf Club pada tahun 1998. Foto: Getty Images.

Segala sesuatu tentang Royal Melbourne benar-benar memikat Watson, yang terkenal sebagai pemukul bola sejati. Saat itu, ia telah menjuarai dua Jaket Hijau di Augusta National dan dua gelar AT&T Pebble Beach Pro-Am, ketika Cypress Point menjadi salah satu lapangan penyelenggara.

”Ia membangun dua lapangan yang sepenuhnya berbeda, seperti Augusta National dan Cypress Point, dari dua jenis permukaan yang sangat berbeda,” tutur Watson lagi. ”Setelah pekan ini, saya akan bermain di seluruh lapangan hebat MacKenzie.”

Setelah 72 hole dan membukukan skor 281, Watson menambah satu kemenangan lagi di atas karya MacKenzie. Dalam resumenya yang luar biasa, ia menambah Stonehaven Cup yang terkenal, mengalahkan para peserta, yang terdiri dari Greg Norman, Payne Stewart, Frank Nobilo, David Graham, Peter Senior, dan Wayne Grady.

Tak ingin ketinggalan pula, Norman pun turut meraih kemenangan Australian Open di Royal Melbourne pada 1985 dan 1987, dan Crenshaw menambah kemenangannya di Royal Melbourne dengan menjuarai World Cup Bersama Mark McCumber pada 1988. Kunjungannya itu sangat ia hargai, tapi yang paling berkesan tentang perjalanannya ke Australia ialah bagaimana ”Orang-orang Australia mengerti bagaimana cara memelihara lapangan golf; mereka memiliki manajer lanskap yang cemerlang. Itulah sesuatu yang perlu diperhatikan.”

Untunglah, para pejabat di Royal Melbourne telah membuka pintunya untuk turnamen-turnamen kelas dunia sehingga karya MacKenzie ini bisa terus dilihat. Lapangan ini telah menggelar 16 Australian Open, 14 Australian PGA Championship, 4 World Cup, 2 Australian Women’s Open, dan pada Desember nanti bakal menggelar Presidents Cup yang ketiga, ketika sekelompok pemain baru Amerika dan Internasional melihatnya untuk pertama kalinya. Jika mereka merasakan percikan nuansa Augusta National, Crenshaw dan Ogilvy jelas takkan kaget karena keduanya merasakan sentuhan MacKenzie.

”Saya menyukai lapangan ini,” ujar Crenshaw pada 1982 silam. ”Bunker-bunker-nya lebar dan sangat alami. Itulah esensinya. Tak seperti potongan kue yang jatuh dari langit dan menjadi bunker.”