Bagaimana Women’s China Open mendorong pertumbuhan golf wanita di China dan Asia, dengan para pegolf muda, termasuk dari Indonesia ikut mengejar impian mereka.

Oleh Chuah Choo Chiang.

Ketika Women’s China Open pertama kali digelar pada tahun 2006, ajang ini terkesan kurang penting. Saat itu, golf wanita di Dataran China masih menempuh jalan terjal menuju panggung global. Sirkuit domestiknya biasa-biasa saja, jumlah pemain berbakatnya terbatas, dan jalur menuju sirkuit profesional, seperti LPGA Tour rasanya masih sangat panjang, kalau tak bisa dibilang menakutkan.

Meski demikian, ajang pertama yang digelar di Xiamen itu menjadi awal sebuah era baru, ajang di mana para wanita berbakat di negeri itu segera menemukan pijakannya sebelum akhirnya merentangkan sayap dan terbang menantang para pegolf terbaik dan akhirnya menuliskan golf China ke dalam sejarah dunia olahraga.

Setelah hampir dua dasawarsa sejak ajang perdana itu, sebuah transformasi telah terjadi dengan sangat mendalam di China. Dari Feng Shanshan yang merintis kemenangan Major tahun 2012, sampai kebangkitan pemain, seperti Janet Lin Xiyu, Yin Ruoning, dan Miranda Wang di kancah LPGA Tour, dan momen-momen pencapaian pada Olimpiade di Rio de Janeiro dan Paris, di mana Feng dan Lin meraih medali perunggu, golf wanita di China jelas melejit ke garda depan dengan meyakinkan.

Dampak dan pertumbuhan di China yang demikian itulah yang kini membawa sejumlah perwakilan pegolf tangguh dari Asia Tenggara, termasuk Holly Victoria Halim dan Patricia Sinolungan dari Indonesia, yang menjadikan CLPG Tour sebagai batu loncatan karier dalam mewujudkan impian mereka. Holly, yang kini berusia 19 tahun, bahkan menjuarai CLPG Tour Qualifying School bulan Januari lalu.

”Pada masa-masa itu, bersaing dengan para pemain Korea menunjukkan betapa tinggi standardnya sehingga memotivasi saya untuk berlatih lebih keras lagi, tetap tekun, dan terus mengejar keberhasilan.” — Feng Shanshan.

Ajang flagship CLPG Tour, Women’s China Open menjadi sentra dari kebangkitan golf di China ini.

Bagi Feng, juara Major asal China pertama dan merupakan pemain paling ikonik, Women’s China Open menjadi inspirasi awal, terutama ketika ia menyaksikan sendiri bagaimana megabintang Korea Shin Jiyai, Kim Hyojoo, dan Park Sunghyun mendominasi di China dengan menjuarai ajang tersebut hingga lima kali di antara mereka. Shin, mantan pegolf No.1 Dunia, Kim, dan Park juga merupakan juara Major dan ketiganya mengombinasikan 109 gelar profesional.

”Women’s China Open merupakan turnamen yang memiliki makna yang istimewa bagi saya yang waktu itu menjadi pegolf muda. Pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan selama bertahun-tahun memainkan peranan penting dalam membentuk karier saya,” ujar pegolf yang kini berusia 36 tahun itu. Prestasi terbaiknya pada ajang ini termasuk finis di tempat kedua tahun 2011, T3/2012, 4/2016, dan 3/2019.

”Pada masa-masa itu, bersaing dengan para pemain Korea (pada ajang Women’s China Open) menunjukkan betapa tinggi standardnya sehingga memotivasi saya untuk berlatih lebih keras lagi, tetap tekun, dan terus mengejar keberhasilan.”

Finis terbaiknya pada ajang Women’s China Open itu termasuk peringkat kedua pada 2011, T3 pada 2012, peringkat keempat tahun 2016, dan peringkat ketiga tahun 2019.

 

Feng Shanshan, Mantan Pegolf No.1 Dunia pertama asal China.
Feng Shanshan ikut menjadikan Women’s China Open sebagai batu loncatannya menuju panggung dunia. Foto: WME.

 

Kemenangannya pada ajang Major Women’s PGA Championship 2012 meruntuhkan tembok-tembok pembatas bagi golf di China. Meski demikian, ia tidak pernah melupakan fondasi yang terbangun melalui ajang yang, seperti Women’s China Tour dan sirkuit CLPG Tour sediakan.

”Saya bangga melihat para pegolf China meraih sukses di panggung LPGA Tour, dan saya yakin masa depan golf wanita di China akan luar biasa cerah. Sekarang kami memiliki bakat-bakat amatir yang terus bertumbuh, tampil cemerlang pada CLPG Tour dan memenangkan turnamen, yang menandakan tahun-tahun yang cemerlang ke depannya nanti. Saya yakin, dasawarsa berikutnya akan menjadi era yang luar biasa bagi golf wanita di China,” tuturnya.

Bagi Janet Lin Xiyu, yang saat ini mengambil jeda dari LPGA Tour untuk menyambut kelahiran anak pertamanya, Women’s China Open menjadi batu loncatan dan prestasi pribadi. Ia menjadi pegolf China pertama yang mengangkat trofi ini pada tahun 2019. Pencapaian itu pun menjadi prestasi berkesan baginya, layaknya prestasi internasionalnya, termasuk ketika naik podium pada Olimpiade Paris 2024 lalu.

”Prestasi itu akan selalu mendapat tempat istimewa dalam hati saya, dan saya bangga bisa memberi sumbangsih bagi pertumbuhan sejarah golf negara ini,” tutur pegolf berusia 29 tahun dan telah mengoleksi sembilan kemenangan pada CLPG Tour. ”Sejak mulai berkompetisi, Women’s China Open menjadi salah satu turnamen penting dalam kalender. Ajang ini menginspirasi saya untuk berjuang lebih keras dan mengejar kesempurnaan. Seperti semua ajang nasional terbuka besar lainnya, ajang ini juga memainkan peranan penting dalam mengembangkan golf wanita, memberikan panggung bagi para pegolf China untuk menantang diri mereka.”

”Women’s China Open memiliki nuansa yang berbeda dan karena memberikan motivasi dan tekanan tambahan untuk tampil dengan baik.” — Yin Ruoning.

Standard yang lebih tinggi dan mimpi yang lebih besar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Pegolf berusia 23 tahun Yin Ruoning, yang telah menjuarai ajang Major dan juga mencapai status No.1 Dunia, mengenang pengalaman awalnya bermain pada Women’s China Open. Pada tahun 2018 itu ia finis T4. ”Bertanding pada Women’s China Open selalu memberi makna yang istimewa buat saya,” ujar pegolf yang kini duduk di No.7 Dunia, dan telah menjuarai lima gelar LPGA ini. ”Turnamen ini memiliki nuansa yang berbeda dan karena memberikan motivasi dan tekanan tambahan untuk tampil dengan baik. Saat itu saya masih junior, saya paham makna ajang itu dan kalau melihat kembali, pengalaman-pengalaman tersebut memberi makna dalam perjalanan saya sebagai seorang pegolf.”

Dari edisi perdana di Xiamen ke terobosan baru tahun ini, yang pekan ini (17-19 Oktober) digelar di Shanghai dengan promotor Sportfive, dan akan diadakan di Enhance Anting Golf Club, seluruh mata akan tertuju pada gelombang pemain bintang terbaru dari China dan regional. Bintang-bintang dalam negerinya termasuk sekelompok pemain amatir, seperti Wang Zixuan yang baru berusia 18 tahun, Xu Ying (16), dan Zhou Shiyuan (15), di mana ketiganya telah meraih gelar CLPG Tour pada musim ini.

China LPGA Tour juga telah memberi kesempatan bagi para pegolf regional dari Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia untuk mengasah kemampuan profesional mereka. Nama-nama, seperti Sherman Santiwiwatthanaphong (Thailand), Onkanok Soisuwan (Thailand), Kan Bunnabodee (Thailand), Jocelyn Chee (Malaysia), Ng Jing Xuen (Malaysia), dan Amanda Tan (Singapura) turut memanfaatkan panggung ini. Dengan kebangkitan Jeeno Thitikul sebagai pegolf No.1 Dunia saat ini, pertumbuhan golf wanita di seluruh Asia Pasifik jelas telah terbukti.

Meningkatnya peruntungan ini sekaligus membuktikan bahwa Women’s China Open bisa menjadi titik awal kebesaran golf wanita di negara ini, termasuk di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Tentang Penulis
Chuah Choo Chiang sempat memimpin tim komunikasi dan marketing pada PGA Tour dan Asian Tour selama total lebih dari 25 tahun. Kini ia mengelola perusahaan konsultasi PR olahraganya sendiri.

 

Enhance Anting Golf Club.
Enhance Anting Golf Club bakal menguji para pegolf profesional Asia, termasuk dari Indonesia, pada ajang Women’s China Open, 17-19 Oktober pekan ini. Foto: Enhance Anting Golf Club.