Tahun ini genap 25 tahun sejak K.J. Choi memulai kiprahnya di panggung PGA TOUR. Selama seperempat abad ia telah menginspirasi generasi baru Korea dan menumbuhkan akar yang kokoh di sirkuit golf terkemuka di dunia tersebut.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director Marketing & Communications APAC PGA TOUR.

Ketika kontingan Korea Selatan muncul dengan sederet nama tangguh pada ajang THE CJ CUP Byron Nelson pekan ini, di mana ajang ini telah menjadi turnamen warisan dengan Kang Sung dan Lee Kyounghoon telah mencicipi kemenangan, mereka akan melihat ke belakang dengan penuh kebanggaan pada langkah berani dari satu sosok yang menepis semua keraguan dan memastikan impian Amerika bukan hanya sekadar mimpi.

Tahun ini merupakan perayaan 25 tahun pencapaian bersejarah K.J. Choi menjadi pegolf Korea pertama yang bermain penuh di panggung PGA TOUR pada tahun 2000. Ia didorong oleh mantra hidupnya yang berbunyi, ”Untuk menjadi yang terbaik, Anda mesti bermain dengan yang terbaik,” dan Choi membuktikan bahwa dirinya layak berada di jajaran yang terbaik itu.

Choi, yang kini telah berusia 54 tahun, telah menikmati 498 penampilan dalam karier PGA TOUR yang cemerlang, termasuk delapan kemenangan, tujuh kali finis di tempat kedua, dan 68 kali finis di jajaran sepuluh besar. Pencapaiannya termasuk berhasil memenangkan hadiah uang sebanyak US$32,8 juta. Kemenangan terbesarnya terjadi pada THE PLAYERS Championship 2011, di mana ia menjadi pegolf Asia pertama yang menjuarai turnamen flagship PGA TOUR itu.

Kariernya yang cemerlang turut menginspirasi nama-nama lain, termasuk Y.E. Yang dan Charlie Wi, yang pada era 2000-an mengikuti langkahnya. Yang sendiri kemudian menuliskan sejarah dengan menjadi pegolf pria Asia pertama yang mengangkat trofi Major lewat PGA Championship 2009 dengan menaklukkan Tiger Woods di Hazeltine. Sejak pertama kali menancapkan bendera Korea di kancah PGA TOUR, sudah ada 14 pegolf Korea yang meraih kartu PGA TOUR.

Tidaklah mengherankan jika Choi dipandang sebagai Godfather-nya Golf Korea. Perjalanannya telah menginspirasi, menunjukkan kisah yang tak biasa dari seorang putra petani yang mempelajari golf di Pulau Wando, di pesisir pantai Korea Selatan. Ia mengayunkan club-nya untuk pertama kalinya saat berusia 15 tahun setelah terpilih untuk menjadi anggota dari tim golf sekolah yang baru dibentuk. Padahal waktu itu ia sudah berlatih sebagai atlet angkat beban. Ia mencuci mobil untuk mendapatkan uang yang membiayai latihan golfnya, dan begitu terpikat oleh permainan yang kemudian membuatnya meninggalkan rumah pada dini hari untuk menyeberang ke pulau utama dan bermain golf sebanyak mungkin sebelum pulang pada larut malam. Jumlah hole terbanyak yang ia mainkan dalam sehari kala itu mencapai 70 hole.

 

K.J. Choi, THE PLAYERS Championship 2011.
K.J. Choi meraih kemenangan terbesar dalam karier profesionalnya setelah memenangkan THE PLAYERS Championship 2011. Foto: Getty Images.

 

”Ketika mendengar saya mendapat julukan ’Godfather Golf Korea’ rasanya sangat segar. Pada saat yang sama saya merasa, ’Memangnya sudah setua itukah saya?’” ujar Choi sambil tertawa. ”Waktu itu belum ada pemain Korea, jadi saya punya keraguan akankah saya mampu menembus PGA TOUR. Itulah tantangannya.

Ketika ia tiba untuk mengikuti Qualifyiing School pada tahun 1999 setelah serangkaian kemenangan di Asian dan Japan Tour, Choi masih kesulitan berbahasa Inggris. Toh ia berhasil mengatasi lingkungan baru dan mengalami budaya Barat. Menemukan masakan Korea juga sesulit mendapatkan albatros, tapi ia tetap gigih dan dengan keberanian dan determinasinya, sukses hanya urusan waktu. Ia pun mendapat julukan ”The Tank” dari komentator TV yang kagum akan upayanya yang demikian fokus mencapai kesempurnaan. Pada tahun 2002, Choi meraih gelar pertama dari delapan gelar PGA TOUR-nya dengan menjuarai Zurich Classic of New Orleans—kala itu masih bernama Compaq Classic of New Orleans sesuai dengan nama sponsor utamanya.

Kim Siwoo, kini pemegang empat gelar PGA TOUR, menjunjung Choi dengan penuh penghormatan. ”K.J. mengambil langkah pertama, dan sungguh luar biasa melihat para pegolf Korea yang baru bermunculan untuk mengikuti jejaknya,” tutur Kim, yang kini berusia 29 tahun.

”Ketika ia memulai karier PGA TOUR-nya, Google Maps belum ada waktu itu dan ia menggunakan lembaran peta untuk mencari jalan. Menurut saya hal itu sungguh luar biasa karena lingkungannya lebih sulit daripada sekarang. Ia menjadi pionir dalam segalanya dan saya sangat menghormati dia. Sekarang, para pemain Korea memiliki lingkungan yang lebih mudah. Saya kira saya belajar banyak dari K.J. untuk menjadi percaya diri. Ketika pertama kali keluar negeri, saya merasa terintimidasi oleh para pemain asing, dan saya membayangkan bagaimana bisa mengalahkan para pemain yang lebih besar dan lebih kuat. Lalu saya meniru K.J.. Ia memberi percaya diri untuk mempercayai diri sendiri.”

An Byeonghun, yang menjadi salah satu dari enam pegolf Korea yang telah berkumpul di TPC Craig Ranch pekan ini, menyebut Choi membuktikan kepada generasi-generasi setelahnya bahwa meninggalkan kenyamanan rumah untuk mengejar karier golf di level tertinggi adalah hal yang bisa diraih.

 

K.J. Choi, PURE Insurance Championship 2021.
Sepuluh tahun usai kemenangan terkenalnya di TPC Sawgrass, K.J. Choi menjuarai PURE Insurance Championship sebagai gelar PGA TOUR Champions pertamanya. Perhatikan selebrasinya yang serupa dengan peristiwa pada THE PLAYERS 2011. Foto: Getty Images.

 

”Melakukan perjalanan separuh dari dunia untuk bersaing pada PGA TOUR bukanlah tugas mudah, tapi saya berharap ada lebih banyak pegolf Korea yanga bisa menyambut tantangan ini,” ujar An, yang bermain penuh di panggung PGA TOUR sejak 2017. ”Dalam golf dan kehidupan, mendobrak batasan-batasan tidaklah pernah mudah. Generasi saya tumbuh dengan mengagumi K.J. sebagai seorang perintis. Tidak mudah untuk perg ke negara asing dan mencapai sukses, tapi ia menjadi yang pertama melakukan hal tersebut. Ia menanamkan banyak rasa percaya diri bagi pemain lain, termasuk saya.”

Im Sungjae, yang telah mengoleksi dua gelar PGA TOUR, merasa generasi bintang Korea masa kini, yang mencakup Tom Kim, mesti memainkan peran mereka untuk meneruskan warisan Choi.

”Kami tumbuh besar dengan menonton dia. Saya kira ia memberi banyak peluang bagi para pemain muda. Saya kira kami perlu menjadi contoh yang baik bagi generasi berikutnya. Kalau kami berlatih keras dan tampil dengan baik, saya pikir para pemain Korea akan bisa menembus PGA TOUR. Keberhasilan K.J. telah menginspirasi generasi-generasi masa depan dan telah membuka begitu banyak pintu,” ujar Im, yang kini menjadi pegolf dengan Official World Golf Ranking tertinggi, No.20 Dunia.

Saran Choi bagi pegolf mana pun cukup sederhana: berlatihlah lebih keras daripada orang lain. ”Ada beberapa hal yang orang bicarakan ketika mereka memikirkan K.J. Choi, misalnya K.J. terus mengganti grip dan selalu mengenakan visor,” ujarnya. ”Dari semua itu, frase yang paling saya sukai ialah ’K.J. Choi, ia berlatih sangat keras.’ Saya menyukainya kaena orang mengakui kalau saya berlatih keras sepanjang hidup saya. Saya pikir itulah warisan saya.

”Selama 25 tahun terakhir, melihat begitu banyak pemain muda yang mengikuti langkah saya, berlatih keras dan terus berdedikasi, membuat saya bangga. Saya melihat para pemain muda sekarang bisa berbahasa Inggris, merawat tubuh mereka dan berlatih keras, dan menyaksikan mereka bermain dan sukses pada ajang-ajang, seperti Presidents Cup sungguh sangat patut dikagumi dan membuat saya bisa berharap bahwa generasi selanjutnya akan mencapai hal-hal yang lebih besar lagi. Saya sungguh-sungguh bersyukur.”