Wakil India Aditi Ashok berpeluang menciptakan sejarah Olimpiade bagi golf di India.
Dalam bahasa Sanskrit, namanya berarti ’Tanpa Batas’ dan Aditi Ashok benar-benar membuktikan bahwa namanya itu sungguh tepat. Kini ia di ambang menciptakan momen medali bersejarah dalam Olimpiade Tokyo 2020.
Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, bintang golf India berusia 23 tahun ini menorehkan skor yang solid, kali ini dengan 3-under 68. Upayanya tersebut menempatkannya sendirian di peringkat kedua dengan skor total 12-under 201. Dengan demikian, ia hanya terpaut tiga stroke di belakang pegolf No.1 Dunia asal Amerika Serikat Nelly Korda.
Sampai akhir putaran ketiga, Ashok juga berhasil meninggalkan empat pemain lainnya. Pegolf tuan rumah Mone Inami, pegolf Denmark Emily Kristine Pedersen, pegolf Australia Hannah Green, dan peraih medali perak Rio 2016 Lydia Ko asal Selandia Baru kini meramaikan peringkat ketiga dengan skor total 203 dengan 18 hole tersisa.
Untuk menghindari cuaca buruk yang berpotensi menghampiri Kasumigaseki Country Club, pihak penyelenggara memajukan waktu tee ke pukul 06:30 atau pukul 04:30 WIB. Jadwal ini berarti putaran final akan dimainkan satu jam lebih awal daripada putaran ketiga hari ini.
Sejak golf kembali menjadi cabang olahraga Olimpiade pada tahun 2016 lalu, belum satu pegolf India pun yang sukses mempersembahkan medali. Ashok menyadari bahwa sebuah finis di atas podium akan menjadi sangat berarti bagi golf di negaranya. Meski demikian, ia akan tetap berfokus pada mantra golf ”melakukan satu demi satu pukulan” ketika ia kembali bermain bersama Korda untuk kedua kalinya dalam grup pamungkas. Lydia Ko juga akan menemani mereka pada putaran final besok (7/8).
”… dengan golf kembali dipertandingkan untuk kedua kalinya, lebih banyak orang juga yang lebih teredukasi untuk mengikuti perkembangan golf.” — Aditi Ashok.
”Saya pikir akan banyak yang bisa terjadi pada putaran final. Meskipun hanya satu putaran, rasanya akan menjadi sangat lama secara mental, jadi jelas sayay harus terus bersabar dan berharap cuacanya bagus sehingga semoga saya bisa bermain bagus besok,” tutur Ashok.
Ketika melakoni debutnya pada Olimpiade Rio 2016, ia menjadi peserta termuda yang sanggup menciptakan kejutan. Dalam dua putaran pertama ia berhasil berada di jajaran sepuluh besar, namun akhirnya harus finis di peringkat 41. Penampilannya kali itu, mengingat ia baru saja lulus dari sekolah dan mendapatkan pengalaman bertanding pada panggung Olimpiade.
Sebuah medali berpotensi menciptakan perubahan positif di negara yang jauh lebih mengagungkan olahraga kriket, yang bahkan hampir disejajarkan bak agama di India. Dan Ashok sadar bahwa akan lebih banyak lagi mata yang tertuju kepadanya ketika putaran final dimulai besok. Meski demikian, ia bakal menganggap tekanan itu sebagai motivasinya.
”Menurut saya tidak banyak yang benar-benar mengikuti golf (di India). Dan tiap kali Olimpiade hadir, kami lebih banyak berfokus pada olahraga yang benar-benar kami kuasai, seperti hoki, di mana kami terbiasa memenangkan medali emas dari masa ke masa. Saya pikir, dengan golf kembali dipertandingkan untuk kedua kalinya, lebih banyak orang juga yang lebih teredukasi untuk mengikuti perkembangan golf,” jelas Ashok lagi.
”Sudah pasti (akan ada tekanan), tapi saya tak terlalu memikirkannya. Menurut saya terlepas dari bagaimana permainan saya pekan ini, orang telah mendengar tentang golf dan mereka akan terus menyaksikannya jika siaran golf menjangkau India karena kami kini berada di posisi tiga besar. Saya pikir hal itu saja sudah bagus. Orang akan lebih memilih menyaksikan golf daripada olahraga lainnya, dan hal seperti ini selalu menjadi sesuatu yang baik karena membuat lebih banyak orang yang melihat golf.”
Performa primanya sepanjang tiga putaran ini jelas sangat memuaskan baginya, terutama lantaran pada bulan Mei 2021 lalu ia sempat terpapar COVID-19. Jarak driving-nya juga merasakan dampaknya dan menjadi 15 meter lebih pendek daripada biasanya. Pekan ini ia bahkan berada di peringkat 59 untuk urusan jarak driving, dari total 60 peserta. Itu sebabnya, ia lebih mengandalkan club rescue. Permainannya pekan ini juga menempatkannya di peringkat pertama untuk Strokes Gained: Putting dengan sembilan stroke dari seluruh peserta.
”Saya pikir yang tak kalah kerennya ialah bahwa golf dipertandingkan pada Olimpiade dan kami punya peluang.” — Aditi Ashok.
”COVID-19 mengurangi sedikit kekuatan saya. Pukulan saya memang tidak jauh, tapi tidak sampai 50 meter di belakang Nelly. Saya pikir, selain jarak pukul, tahun ini merupakan tahun terbaik saya untuk urusan short game, putting saya, dan aspek permainan lainnya benar-benar fantastis. Jadi, saya pikir tahun ini merupakan salah satu tahun terbaik saya,” ujar Ashok.
Sang ibu, Maheshwari, juga tampak setia mendampinginya sebagai kedi pada pekan ini, menggantikan sang ayah yang bertugas pada Rio 2016. Aditi juga menikmati momen-momen bersama sang ibu di lapangan dan menyebut performanya di Tokyo tak terlepas dari kolaborasi sesama wanita. ”Beliau sungguh luar biasa. Lucu juga, tapi inilah pekan terbaik saya sepanjang tahun. Ayah menikmati menyaksikan saya dari TV dan mendengarkan Bones (Jim McKay) memberikan komentar pada permainan saya. Jadi, pengalaman ini keren juga. Ibu tentunya menjalankan tugasnya dengan luar biasa,” puji Ashok.
Penampilannya sepanjang pekan ini juga telah membuatnya menerima banyak dukungan, termasuk dari bintang PGA TOUR Anirban Lahiri. Lahiri bahkan mengungkapkan dukungannya melalui akun Twitter-nya pada hari kamis (5/8) kemarin. Lalu terlepas dari hasil yang akan ia peroleh besok, Ashok sadar bahwa perjuangannya meraih medali di Tokyo telah membantu golf meraih lebih banyak penggemar di India.
”Mereka melihat, ’Wah, gadis itu main bagus!’ dan seperti itulah (di Rio). Namun, di antara populasi golf itu sendiri, jelas (penampilan saya) menimbulkan minat karena ada lebih banyak anak perempuan yang mencoba golf dan antara mengikuti kompetisi golf tingkat universitas atau mencoba Q-School, entah pada Ladies European Tour entah LPGA,” sambung pegolf yang juga telah meraih tiga gelar Ladies European Tour, yang kini menjadi satu-satunya pegolf India yang bertanding pada LPGA Tour.
”Banyak orang yang mencoba mencari tahu tentang golf dan tiga besar dan di posisi kedua dan mereka akan mencari tahu apa yang dibutuhkan untuk menjuarai medali. Fakta ini sungguh keren dan saya pikir yang tak kalah kerennya ialah bahwa golf dipertandingkan pada Olimpiade dan kami punya peluang. Sebab jika tidak, takkan banyak orang yang memperhatikan golf, apalagi bagaimana golf pria dan wanita.”


