Semua orang cenderung mengharapkan sebuah akhir yang bahagia dalam kisah kariernya. Bagi pegolf profesional, akhir yang bahagia itu ialah menjuarai sebuah turnamen. Namun, bagi Lexi Thompson, kemenangan terasa sangat jauh baginya pada musim 2018 ini. Pegolf berusia 23 tahun ini harus mengalami masa-masa yang berat dalam karier profesionalnya yang diwarnai dengan cedera, pemulihan percaya diri, yang membuatnya sempat absen dan mundur dari RICOH Women’s British Open pada pertengahan 2018 ini.

“Saya akan mengambil waktu untuk mengisi daya pada aspek mental saya dan akan memfokuskan diri untuk berada jauh dari permainan golf profesional,” tulisnya dalam akun Instagramnya ketika mengumumkan keputusannya mundur dari ajang Major tersebut.

Salah satu faktor yang tak kalah memukul baginya ialah fakta bahwa sang ibu harus berjuang menghadapi kanker. Lalu ada pula sejumlah pengalaman yang memukul kariernya: insiden ANA Inspiration yang menyebabkan ia harus kehilangan dua stroke lantaran penalti, plus ajang penutup LPGA musim 2017 lalu CME Group Tour Championship ketika ia harus kembali menunda kemenangan.

Sebagian publik mempertanyakan profesionalitasnya, namun jelas tidak ada yang ingin mengabaikan kesempatan bermain pada ajang Major dan ia sendiri menegaskan hal tersebut. “Sungguh teramat sangat berat buat saya untuk tidak bermain dalam ajang Major yang prestisius ini,” ujar Thompson melalui akun Instagramnya tersebut.

Bahkan kemudian ia harus memperpanjang masa jedanya dari golf profesional menyebut bahwa “Saya bukan sekadar robot. Saya juga harus memiliki kehidupan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari USA Today.

Ia sebenarnya sempat mengawali tahun ini dengan cukup positif. Pada dua turnamen pertama yang ia ikuti pada tahun 2018 ini, ia dua kali finis di sepuluh besar, termasuk runner-up pada Honda LPGA Thailand. Ia masih empat kali lagi masuk sepuluh besar dengan finis T5 pada U.S. Women’s Open.

“Sungguh luar biasa mengetahui bahwa saya sudah memainkan musim kesembilan di Tour ini tahun depan dan usia saya baru 23 tahun.” – Lexi Thompson

Meski demikian, kemenangan terasa sangat jauh baginya. Tidak heran ketika pada hari Minggu, 18 November 2018 itu Thompson bisa terlihat lega setelah akhirnya bisa meraih kemenangan, persis pada ajang yang membekaskan kekecewaan pada tahun lalu. Tampil untuk kelima kalinta pada ajang pamungkas LPGA Tour, CME Group Tour Championship, Thompson akhirnya berhasil membukukan prestasi terbaiknya dengan meraih gelar juara dan dengan keunggulan yang meyakinkan: empat stroke setelah bermain 18-under 270.

“Kemenangan ini menjadi sangat istimewa. Ajang ini (CME Group Tour Championship) sangatlah istimewa buat saya. Terutama melihat hasil yang saya peroleh tahun lalu, yang jelas bukan hasil yang saya harapkan,” paparnya.

Dari tahun yang seolah menjadi tahun kering prestasi dan kini ia berhasil meraih kemenangan yang mengakhiri penantian tersebut. Bak sebuah oase di tengah gurun pasir. Jelas bisa dibayangkan betapa leganya ia bisa kembali meraih kemenangan. Sebuah kemenangan yang praktis memberinya minimal satu gelar setiap tahun sejak 2013.

Tapi ada satu hal lain yang membuatnya merasa sangat istimewa bisa menang kali ini.

“Bisa meraih kemenangan spesial ini di depan seluruh keluarga dan sahabat saya dan ditemani saudara laki-laki yang menjadi kedi saya, sungguh menjadi kehormatan besar bisa memenangkannya, sungguh sangat istimewa,” imbuhnya.

Thompson memang benar-benar memberi dirinya kesempatan untuk bisa bersaing kali ini. Usai bermain dengan skor 7-under 65 pada hari pertama, secara berturut-turut ia membukukan skor 67 dan 68. Dan meski hanya bermain 2-under 70, skor tersebut sudah lebih dari cukup buatnya, terutama dengan keunggulan empat stroke.

 

Musim 2018 menjadi musim yang istimewa bagi Ariya Jutanugarn setelah meraih sejumlah penghargaan, Major, dan kembali ke No.1 Dunia. Foto: Golfin’STYLE.

Kemenangannya kali ini menjadi buah dari fokus dan kesabaran, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk mengakhiri tahun ini dengan sesuatu ang sangat ia butuhkan: kemenangan yang sekaligus melepas beban dan segala tekanan selama ini.

Gelar akhir musim ini jelas akan memberikan semangat yang membuncah ketika memainkan musim yang baru pada 2019 nanti.

“Sungguh luar biasa mengetahui bahwa saya sudah memainkan musim kesembilan di Tour ini tahun depan dan usia saya baru 23 tahun,” ujarnya. “Saya tentu sadar bahwa golf tidak akan menjadi bagian dari hidup saya pada suatu saat nanti. Entah berapa lama lagi saya akan bermain, tapi ada lebih banyak hal dalam hidup daripada olahraga. Ada keluarga yang perlu dibangun dan pengalaman di luar lapangan, bahwa Anda harus menikmati kehidupan Anda, buah dari kerja keras saya. Saya layak menikmati kehidupan di luar lapangan dan untuk masa depan saya.”

Apakah itu menandakan bahwa Thompson akan segera menuju pernikahan? Entahlah. Tapi yang jelas pada hari Minggu tersebut, bukan hanya Thompson yang bisa merasa puas dan bangga dengan pencapaiannya. Ada satu nama lagi yang menonjol dengan luar biasa.

Ariya Jutanugarn mungkin tidak menjuarai turnamen tutup musim tersebut setelah hanya finis di peringkat T5. Namun, Jutanugarn jelas membawa kebanggaan bagi para penggemar golf di Asia Tenggara. Pegolf asal Thailand ini tak hanya mengukuhkan dirinya sebagai pegolf No.1 Dunia berdasarkan Rolex Women’s World Golf Rankings, tapi ia juga berhasil menjuarai Race to the CME Globe dan membawa pulang hadiah uang senilai US$1 juta yang menjadi bonus dari pencapaian tersebut.

Tahun ini memang menjadi tahun adik dari Moriya ini. Ia meraih gelar Major keduanya setelah memenangkan U.S. Women’s Open, lalu menyabet pula Rolex Annika Major Award berkat performanya yang luar biasa pada ajang Major. Ia juga berhasil menyabet Rolex Player of the Year, dan Vare Trophy untuk lowest scoring average, yang praktis memberinya hak untuk masuk ke LPGA Hall of Fame.

“Tentu saja saya ingin menjuarai turnamen ini. Saat melihat semua trofi, jelas saya ingin menjuarai semuanya jika bisa. Tapi jika berpikir demikian, makin sulit untuk melakukannya. Sejak akhir tahun lalu ketika saya mulai berpikir untuk menjadi No.1 Dunia, saya berusaha memenangkan lebih banyak turnamen, tapi hasilnya malah menjadi lebih buruk. Jadi, tahun ini saya hanya berjuang untuk hal tersebut. Saya mencapai banyak target saya tahun ini,” jelasnya.

Leave a comment