An Byeonghun menuntaskan kampanye The Open Championship tahun ini dengan menyamai pencapaian terbaiknya selama bertanding pada ajang Major tertua di dunia ini.

Ketika berada pada posisi yang jauh dari ideal, kecenderungan seorang pegolf biasanya hanya dua. Bermain lebih baik atau lebih buruk. Dan An Byeonghun punya alasan untuk memilih yang pertama.

Pegolf Korea ini menuntaskan The Open Championship pekan ini dengan permainan yang patut dibanggakan. Skor 3-under 67 pada putaran final itu ia raih dengan mencatatkan tiga birdie tanpa satu pun bogey di kartu skornya.

Bermain lebih awal dan menikmati 18 hole terakhirnya dengan tantangan angin yang relatif lebih minim terbukti membantu pegolf berusia 29 tahun ini untuk menyamai torehan skor terbaiknya pekan itu.

”Saya melakukan start dengan lebih baik ketimbang kemarin. Saya sedikit kesulitan di sembilan hole pertama, tapi masih bisa berjuang dan mencuri birdie. Jadi, saya pikir permainan itu membantu. Kemarin saya sudah main 5-over dalam sembilan hole. Saya tak membiarkan skor tersebut begitu saja, lalu saya bisa finis dengan 3-over. Hari ini, saya bisa main tanpa bogey dengan 3-under, bukan skor yang buruk,” jelas An.

Absennya dua nama yang kerap menjadi pemain Asia terbaik, baik dalam ajang Major maupun dalam turnamen reguler, yaitu Hideki Matsuyama dan Im Sungjae, membuat An seakan menjadi sosok yang layak memimpin kontingen Asia dalam bersaing di Royal St. George’s. Persis itulah yang ia lakukan sejak putaran pertama ketika mencatatkan skor 67 pertamanya. Meskipun kemudian harus puas dengan skor 70 dan 73 dalam dua putaran berikutnya, An masih memimpin kontingen Asia sampai akhirnya menuntaskan pekan yang berat ini.

 

 

”Sepertinya, hari ini (kemarin, 18/7) memang akan menjadi hari yang tenang. Kami tidak menghadapi embusan angin yang kencang pada sore hari, tapi bermain sedikit lebih awal memang membantu karena angin tidak terlalu kencang berembus. Namun, green-nya masih sedikit lebih keras dan lokasi-lokasi pinnya juga cukup sulit hari ini. Jadi, 3-under sudah menjadi skor yang bagus. Saya bisa saja mencatatkan skor yang lebih rendah, tapi bisa juga mencatatkan skor yang buruk karena beberapa putt bernilai par dari jarak jauh bisa saya masukkan,” sambung An lagi.

Dengan skor total 3-under 277, An menuntaskan pekan ini dengan menyamai pencapaian terbaiknya pada tahun 2014, yaitu di peringkat T26.

”Saya pikir inilah cuaca terbaik selama pengalaman saya bermain pada The Open. Cuacanya sedikit lebih hangat daripada tahun sebelumnya (ketika dilangsungkan di Royal Portrush). Suhu udaranya yang terbaik, bisa dibilang cuacanya bagus dan hangat. Tidak dingin (seperti biasanya),” imbuh An yang turut menikmati kehadiran para penggemar sepanjang pekan itu.

Putaran final itu juga memberikan hasil terbaik bagi Jazz Janewattananond. Juara Indonesian Masters 2019 ini membukukan empat birdie dengan satu bogey untuk menorehkan skor terbaiknya pada pekan ini, sekaligus menorehkan hasil terbaik dalam tiga penampilannya pada ajang The Open dengan finis di perigkat T46 dengan skor total even par 280.

”Pencapaian ini sangat besar artinya buat saya dan akan mendorong saya untuk terus berlatih dan terus melatih permainan saya, ….” — Lin Yuxin.

Adapun pegolf Jepang Ryosuke Kinoshita membukukan dua birdie dengan satu bogey untuk menyamai skor terbaiknya pekan ini dengan 1-under 69 untuk memberinya skor total 282. Sedang Juara Indonesian Masters 2016 dan 2018 Poom Saksansin harus puas dengan berbagi peringkat 76 bersama Sam Burns setelah bermain dengan skor total 288.

Sementara pegolf amatir China Lin Yuxin harus mengakui keunggulan sahabatnya asal Jerman, Matthias Schmid yang menjadi pemain amatir terbaik. Lin hanya bisa bermain dengan skor 71 pada putaran final sehingga harus puas menempati peringkat T74. Schmid sendiri memastikan menjuarai Silver Medal, penghargaan yang diberikan kepada pemain amatir terbaik, setelah menempati peringkat T59 dengan skor total 282.

”Bisa lolos cut pada pekan ini jelas menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya. Pencapaian ini sangat besar artinya buat saya dan akan mendorong saya untuk terus berlatih dan terus melatih permainan saya, memastikan saya permainan saya terus meningkat dan menjadi versi diri saya yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Lin masih belum berniat untuk melepas status amatirnya, mengingat ia masih akan mengikuti sejumlah agenda kejuaraan amatir lagi.

”Saya masih memiliki dua ajang amatir lagi di Amerika setelah ini. Saya akan bermain pada ajang Western Amateur akhir bulan ini, lalu U.S. Amateur, yang diadakan pada minggu kedua Agustus, lalu kembali ke sekolah dan mungkin memainkan beberapa ajang universitas dan mungkin Asia-Pacific Amateur Championship bulan Oktober,” tandasnya.